ARTIKEL

Seandainya Aku Bukan Bagian dari Simurgh!

September 3, 2025
12 menit membaca

Sesi terakhir dari kelas “Ngaji Rasa via Sastra” di Nuralwala berlangsung pada tanggal 07 Agustus 2025, dengan Dr. Haidar Bagir (Bib Haidar) sebagai pengampu. Bib Haidar membawakan materi yang diambil dari kitab Manthiq al-Thoyr karya Fariduddin Attar dengan judul paparan “Menelusuri Lorong Diri Menuju Simurgh: Ngaji Musyawarah Burung Attar.” Bib Haidar mendefinisikan manthiq sebagai: logika, dan juga bisa berarti omongan; karena manusia dita’rifkan sebagai orang yang berbicara dengan logika. Adapun Manthiq al-Thoyr adalah pembicaraan bangsa burung. Jadi ini adalah percakapan/musyawarah bangsa burung/conference of birds; sehingga, maknanya bukan ‘Omongannya Simurgh’ atau Hudhud yang dijadikan mursyid oleh bangsa burung ini.

Bib Haidar mengungkap, bahwa sosok burung sering dipakai dalam kisah-kisah fabel, parabel, metafora di kalangan kaum sufi. Di Al-Qur’an banyak kisah yang melibatkan burung, seperti kisah Nabi Sulaiman dan Hudhud, juga kisah Nabi Ibrahim yang mencintai burung. Dalam tasawuf, burung digunakan sebagai simbol jiwa yang terbang ke langit untuk mencapai tujuan akhirnya, yakni menyatu dengan Allah Swt. Ibnu Sina memiliki 3 resital, salah satunya, Risalah al-Thoyr; Suhrowardi juga punya dengan judul yang sama. Oleh karena itu, maka sangat mungkin Fariduddin Attar terilhami oleh Ibnu Sina, dan juga Suhrowardi terilhami dari Ibnu Sina.

Menurut Bib Haidar, simbolisme burung sangat bagus sekali. Attar memanfaatkan burung dalam karyanya dengan sangat luar biasa. Dalam beberapa hal, Attar melebihi orang-orang yang juga menggunakan simbol ini. Attar adalah orang yang menggunakan syair untuk menggambarkan pengalaman kesufiannya. Jika ada Rumi dalam Matsnawi dengan sajaknya, ada Sana’i dalam Haqiqotul Haqa’iq dengan sajaknya, Ibnu Arabi dalam Futuhat al-Makiyah dalam bentuk prosanya, gambaran karya Attar pun hampir sama. Kelebihan Attar adalah dia menggambarkan perjalanan sufi dengan sangat hidup, sangat seru, dan di saat yang sama sangat spiritual; adapun Rumi, sangat puitis, spiritual, dan filosofis. Charles Stanley Nott menerjemahkan karya Attar ini ke dalam bahasa Inggris dari terjemahan bahasa Prancis (Garcin de Tassy). Nott menggabungkan semua syair menjadi prosa, sehingga menjadi cerita yang sungguh seru, walaupun rima syairnya menjadi hilang.

Bib Haidar melanjutkan, secara keseluruhan, Manthiq al-Thoyr adalah parable layaknya novel yang sangat seru dalam menjelaskan perjalanan kehidupan manusia. Manthiq al-Thoyr juga sangat istimewa, di dalamnya juga menyampaikan apa yang disampaikan Rumi, Sana’I, dan Ibnu Arabi. Juga memuat pengajaran textbook utama Tasawuf, seperti Risalah al-Qusyairiyah, Qut al-Qulub, dan lainnya. Manthiq al-Thoyr adalah bacaan yang sangat mengasyikkan untuk dibaca, dan uraian tasawufnya tidak kalah dengan kitab-kitab Tasawuf lainnya.

Manthiq al-Thoyr adalah pelancongan mistik yang melibatkan beberapa hal: genrenya alegori simbolik; tema-temanya melibatkan kecintaan pada Tuhan, tauhid, dan merujuk pada fana. Sang muallif, Attar, adalah seorang sufi besar. Ia dijuluki Attar karena ia dikenal sebagai peracik parfum, penjual minyak wangi, juga cairan kimiawi, yang kemudian menjadi sufi dan penyair. Attar memiliki kemahiran puitis yang membuat namanya menjadi salah satu sufi besar di Persia. Tadzkirah al-Awliyaa’ merupakan karya lain darinya. Sosok Attar sangat dihormati oleh para sufi besar. Ia hidup di abad ke-12 dan wafat pada abad ke-13 dalam usia 76 tahun. Ia wafat karena terbunuh saat invasi Mongol. Attar tidak dikenal bergabung atau mendirikan tarekat tertentu. Namun ia dipengaruhi para sufi sebelumnya, seperti Abu Yazid al-Busthami.

Menurut Bib HAidar, Attar memiliki masa hidup yang dekat dengan Rumi dan Ibnu Arabi. Kemungkinan mereka hidup sezaman, diperkirakan, Attar wafat saat Rumi remaja. Sultan Walad, anak Rumi berkisah, bahwa Attar memberikan Rumi salinan Manthiq al-Thoyr saat Rumi masih muda. Entah apakah kisah yang diriwayatkan Sultan Walad ini benaran atau hanya simbolis saja, kebenarannya belum tervalidasi. Rumi ketika masih muda mengatakan, “Saat Attar sudah sampai, saya masih di belokan pertama.” Adapun dengan Ibnu Arabi,  Attar saling tumpang tindih aasa hdupnya, dan tidak ada bukti yang membuktikan keduanya pernah bertemu. Karya-karya terpenting dan warisan spiritual Attar ada lima: Manthiq al-Thoyr, Tadzkirah al-Awliyaa’, Ilahi-nama, Asrar-nama, Mukhtar-nama. Attar termasuk sufi yang agung dan mempengaruhi banyak sufi yang hidup bersamaan atau setelahnya, seperti Rumi, Jami’ dan Hafez. Tadzkirah al-Awliyaa’ menjadi teks utama dalam literatur hagiografi sufi. Pemikiran Attar menjembatani tasawuf asketik awal dan tasawuf filsafati generasi setelahnya.

Manthiq al-Thoyr ditulis Attar dalam bahasa Persia dan dalam bentuk puisi alegoris sufi terbesar sepanjang masa dengan 4500-4700 bait. Alur cerita ini berkisah tentang sekumpulan burung yang melakukan perjalanan untuk mencari raja mereka, Simurgh-burung mitologis Persia yang melambangkan Tuhan, seperti Garuda yang menjadi burung mitologi Indonesia. Dalam cerita ini,  burung Hudhud berperan sebagia mursyid yang memmbimbing burung-burung menempuh jalan spiritual. Hudhud dipilih sebagai mursyid/pembimbing atas perjalanan panjang mereka karena mereka melihat kompetensi yang dipilih Hudhud. Dalam kisah ini ada beberapa tokoh burung: Hudhud (guru spiritual), Bulbul (cinta pada keindahan dunia), Beo (takut mati, ingin keabadian), Merak (terlalu  cinta pada surga duniawi), Angsa (arogam, merasa diri suci sendiri, merasa sudah sampai pada maqam tertinggi, kesombongan spiritual palsu), dan Burung Hantu (tamak, cinta pada kehancuran dunia).

Para burung itu berkumpul karena ingin mencari sang raja burung, Simurgh. Yang mereka ketahui, raja ini tinggal di tempat yang sangat jauh. Untuk dapat sampai di sana, para burung harus melewati 7 lembah yang membahayakan, musim panas yang ekstrem, dan emosi tempramen para burung yang membuat mereka bisa gagal untuk menjumpai raja yang akan ditemui. Berikut 7 lembah yang merupakan maqamaat dan manaazil yang harus para burung/salik lewati itu: lembah pertama, adalah lembah pencaharian/thalab. Tidak ada lagi terlekat pada kenyamanan duniawi, dan salik memiliki kemauan kuat mencari hakikat. Lembah ini identik dengan tobat, sadar atas kekurangan-kekurangan juga kotoran pribadi dan bertekad kuat untuk meninggalkan semuanya. Apabila seseorang menyukai kenyamanan duniawi, maka di lembah pertama ia akan terjatuh. Lembah kedua, adalah lembah cinta/isyq, dimana logika dilampaui dan ego ditundukkan. Cinta adalag satu-satunya jalan mencapai hakikat. Lembah ketiga, adalah lembah makrifat. Jika sudah punya cinta, maka harus sampai pada lembah makrifat, yang berisikan pengetahuan. Cinta seolah-olah tidak memiliki pengetahuan pada tahapan sebelumnya, namun pada tahapan ini, ia memiliki pengetahuan; lebih tepatnyam pengetahuan yang menghasilkan pencerahan. Lembah keempat adalah lembah ketidakbutuhan/istighna’. Melepaskan dunia dan harta kemiskinan spiritual/faqr. Pada lembah ini, yang berhasil akan dapat terbang tinggi karena tidak ada beban lagi dalam mencapai puncak yang dikejar. Lembah kelima addalah lembah tauhid. Banyak kita percaya pada tauhid namun masih tidak menyambah Allah. Masih banyal ilah yang lain. Atau dengan kata lain, masih tauhid di fikir, bukan di zikir. Kita masih melihat ilah yang lain dalam bentuk jabatan, keluarga, harta, dan lainnya. Lembah keenam adalah lembah keteheranan/hayrah. Ketika kita merasa tidak sanggup, silau atas kedahsyatan alam hakikat, kita akan merasa putus asa. Saat itu, kita sedang berada di titik heran, bodoh, dan di situlah pencerahan datang. Ini adalah pengetahuan sejati sebagaimana yang diungkap oleh Socrates. Dan lembah ketujuh adalah lembah fana. Ketika ego hilang, pengetahaun hilang, semua hilang, dan melebur pada Allah swt. Wujudnya tinggal Allah swt., dan tinggal-tetap di dalam Tuhan yang Baqa. Itulah 7 lembah perjalanan para burung yang dibimbing oleh Hudhud. Dari seribu burung yang berangkat mencari Simurgh, di setiap lembahnya terdapat burung-burung yang jatuh berguguran. Dan hingga lembah terakhir, hanya menyisakan 30 burung yang dapat bertahan.

Lembah dalam Manthiq al-Thoyr lebih pada ungkapan kegairahan puitis yang emosional namun tetap bisa dianalisa dengan maqamaat yang disampaikan para sufi dalam kitab tasawuf lainnya; berbeda dengan Risalah al-Qusyayriyah, Kasyf al-Mahjuub, Quut al-Quluub yang terpusat secara ilmiyah dalam susunan tulisannya. Perjalanan spiritual melalui perjalanan para burung: semua burung memulai perjalanan, di lembah pertama, sebagian ragu, maka terjatuhlah. Demikian pula di lembah kedua. Di lembah ketiga, orang-orang yang mengandalkan akal akan jatuh, karena di lembah ketiga tidak bisa dilalui dengan akal. Demikian pula pada lembah keempat. Pada lembah kelima, selama masih dualistik dan melihat ilah yang lain, maka akan jatuh. Yang berhasil, maka akan masuk lembah keenam. Sampai akhir, hanya 30 burung yang bisa melewati lembah kefanaan. Akhirnya 30 burung yang berhasil ini, mereka bertemu dengan Simurgh. Simurgh adalah permainan kata, ‘si’ adalah 30, dan ‘murgh’ adalah burung dalam bahasa Persia. Jadi yang mereka cari adalah diri mereka sendiri, manusia adalah tajallinya Allah, kita menampung ruh Allah. Man arafa nafsah faqad arafa rabbah, kita adalah tajallinya Allah. Kita mencari dan mengalami kesulitan, dan yang dicari adalah dirinya sendiri. Simurgh adalah metafora mendalam tentang pencerahan diri, penghapusan ego dan kesatuan ilahi. Demikian tutur Bib Haidar.

“Dalam wajah bercahaya Sang Simurgh, mereka melihat diri mereka sendiri – dan melihat Sang Simurgh, tanpa cela.

Mereka memandang dan seketika memahami, bahwa yang mereka lihat bukanlah sesuatu di luar –

Melainkan yang menyatu.

Tiga puluh burung bersinar dalam satu cermin –

Simurgh adalah ketigapuluh itu, dan sekaligus tunggal.”

“Engkau tak bisa melihat Sang Simurgh tanpa melihat dirimu sendiri.

Saat kau melihat dirimu, kau melihat Sang Simurgh juga.”

            Bib Haidar melanjutkan, Simurgh bertajalli dalam 30, 30 tapi 1, dan 1 tapi 30. Saat kita kotor, kita buka tajalli Tuhan. Namun ketika kita suluk, maka kita cerminan dari Allah, insan kamil. Yang mencapai Simurgh adalah orang yang bisa mngatasi cacat-cacat diri; yang gagal mengatasi cacat diri akan jatuh dan tidak akan sampai pada tujuan suluk. Manthiq al-Thoyr tidak secara sistematis mengisahkan tentag perjalanan burung saja, di sela-sela kisah tersebut diselipi kisah-kisah sufi, seperti kisah Abu Yazin, Layla-Majnun, dan lain-lain, yang fungsinya untuk menguatkan, menjadikan pemahaman kita menjadi jelas. Manthiq al-Thoyr menjelaskan suluk dengan kisah-kisah, mengontekstualisasikannya, dengan syair yang indah, substansinya berhasil mengungkapkan apa-apa yang tertulis dalam textbook Tasawuf yang ada, dan dihiasi kisah-kisah sufi yang menarik. Seperti contoh kisah Layla-Majnun, kisah ini layaknya lembah isyq, cinta pada Allah. Kisah Sheikh dan seorang pelacur, yang trnyata pelacur itu adalah orang yang baik dan taat pada Allah, ini adalah tentang makrifat. Kisah tentang raja yang terobsesi pada budaknya, sehingga dia terbutakan, menggambarkan kemelakatan untuk menunjukkan bahwa seorang salik tidak boleh mempunyai kemelakatakan, harus faqr. Kisah orang yang mncintai bayangan, menggambarkan tauhid. Mencintai ilah lain, padahal itu bayangan Tuhan. Ada kisah tentang seorg sufi yang menasehati raja yang lalim, menggambarkan tentang kefanaan pada Allah. Kisah tentang laron dengan api, menggambarkan fana, mau menyatu dengan Allah, harus membunuh diri, ego kita, maka dapat menyatu dengan Allah Swt., dan laron menggambarkan kebingungan yang luar biasa karena ingin menyatu dengan Allah. Sampai kebingungannya membuat putus asa, bukan pada allah, tapi pada dirinya sendri, adanya dirinya membuat tidak bisa mencapai Allah, sampai dirinya harus dihilangkan. Kisah wali membunuh ular di Kabah, kesalahan orang memahami orang saleh ini memahami makrifat yang belum sempurna, padahal orang saleh yang membunuh ular itu untuk melindungi keselamatan orang lain.

            Sungguh beruntung 30 burung itu. Namun, bagaimana jika aku bukan bagian dari 30 burung itu, melainkan burung yang sudah terjatuh bahkan di lembah pertama, atau juga burung yang tak pernah memulai perjalanan, atau juga burung yang tak sekalipun bertemu dengan Hudhud yang sejati. Lantas, bagaimanakah nasibku, apakah diri ini akan tetap bertemu Simurgh kelak di akhirat? Bib Haidar merespon pertanyaan penulis dengan mengatakan, “Jawabannya sederhana. Proses suluk itu tidak berhenti di dunia. Cuma bedanya, (suluk) di dunia sifatnya ikhtiari, melibatkan usaha kita sendiri. Saat kita meninggal duna, kita tetap melanjutkan (suluk) dengan dibantu Allah, sifatnya fitrari, pembersihan diri. Apakah (dalam bentuk) siksa atau neraka? Yang pasti siksa di barzakh dan neraka adalah rahmat oleh Allah, bukan balas dendamnya Allah.” Bib Haidar menekankan, bahwa itu adalah pembalasan, bukan balas dendam, dan pembalasan adalah untuk membersihkan diri. Apabila gagal di dunia, apakah disiksa? Belum tentu juga, karena Allah Maha Welas Asih, ghafuur rahim. RahmahNya atau rasa cinta kepada objek yang tidak sempurna, mawaddah itu berbeda makna.

Bib Haidar melanjutkan, walaupun kita belum bersih, kita masih bisa berharap pada sifat Allah sebagai ghafuur rahim. Kalaupun kita disiksa, jangan melihatnya dengan cara pandang tradisional. Seperti saat Layla mengadakan perjamuan, Qais datang. Layla mengambilkan makanan sampai tiga kali karena Qais menajtuhkan piring makanan yang diperuntukkan untuknya sampai pecah. Qais diledek orang-orang karena membuat Layla marah. Namun ternyata Qais sengaja melakukan itu karena ia mencintai Layla. Ini seperti kenikmatan siksa yang nampak derita, namun karena cinta itu, siksa tak akan terasa. Orang ada yang kekal abadi di neraka, namun tidak kekal abadi siksanya di sana, karena neraka baginya sudah kehilangan sifatnya yang menyiksa. Dari menyakitkan menjadi rasa manis yang menyegarkan. Adza, tidak saja bermakna siksa, tapi juga rasa manis. Sebagian orang tinggal di neraka adalah rahmat Allah Swt.

            Terdapat perbedaan antara nabi dan wali, khususnya nabi, mereka adalah orang pilihan yang tidak pernah puas atas pengalaman bersatu dengan Tuhan. Semua karya sufi adalah pengalaman dari pengalamannya sendiri, dan setiap orang punya pengalaman uniknya masing-masing. Perihal relasi rakyat dan pemerintah menurut Bib Haidar dalam perspektif Tasawuf: tasawuf adalah penundukan ego, sehingga harus melakukan kebaikan apapun yang harus dilakukan, tapi kebaikan tidak boleh didorong ego. Contoh: perdebatan ijazah Jokowi, dalam konteks sekarang, tiap kelompok sudah mau menang-menangan sendiri, “Saya nggak bela siappaun, itu miro, debat-debatan untuk menang-menangan. Miro itu meskipun benar tetap dosa. Walau kita curiga (dengan kasus tersebut), kalau dengan niat tulus dan lain-lain, maka nggak masalah. Harus jauh dari egoistic, bukan cari popularitas dan motif-motif duniawi lainnya.” Dengan kata lain, kita boleh mlakukan apa-apa yang kita anggap baik. Sekarang ini banyak miro. Jika temanya adalah melawan penindasan, kaum sufi juga melawan penindasan. Berontaknya kaum sufi didorong oleh niat tulus ikhlas, untuk menjalankan perintah Allah, bukan didorong nafsu syahwat pribadi. Kita tidak bisa melepaskan 100 persen ego kita, tp harus diluruskan motifnya. Seperti halnya riya, mnolong orang lain kecampuran riya sedikit tidak apa-apa. Harapannya 100 persen ikhlas, karena kita bukan wali dan sufi. Demikian pungkas Bib Haidar.

Seandainya aku bukan bagian dari simurgh, setidaknya aku pernah berusaha mendekatinya…

Seandainya tak satupun lembah yang dapat ku lalui, setidaknya jatuhku menjadi bagian takdir dari-Nya…

Seandainya aku tak pernah bertemu Hudhud, mungkin itulah yang tercatat di lauh mahfudz…

Seandainya aku terus berada dalam lautan hawa nafsu, itu juga bagian dari diriku selalu…

Seandainya aku tak pernah menemukan hakikat diri-Ku, Tuhan yang Paling Tahu yang tersimpan di dalam kalbu.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Penikmat Kajian Filsafat dan Tasawuf

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan