TAFSIR SUFI

Tafsir Sufi Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm Menurut Kiai Sholeh Darat dan Syekh Ihsan Jampes

Maret 17, 2026
6 menit membaca

Tulisan ini menjelaskan tentang tafsir sufi bismillāhir-ramānir-raīm menurut pemikiran dua ulama Nusantara, yaitu K.H. Sholeh Darat as-Samarānī dalam Tafsīr Fayurramān dan Syekh Iḥsān Muhammad Daḥlān al-Jampesī al-Kadīrī dalam Sirāj aālibīn (syarah atas kitab Minhāj al-‘Ābidīn ilā Jannah Rabb al-‘Ālamī karya Imam al-Gazālī). Dalam hal ini, penulis mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada sahabat karib penulis, Toher Prayoga, yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membacakan dan menerjemahkan tafsir bismillāhir-ramānir-raīm Kiai Sholeh Darat dalam Tafsīr Faydurramān yang berbahasa Jawa dengan huruf Arab (Pegon). Jazākumullāh khayr al-jazā’ dā’iman sarmadan.

Wa ba‘du. Kiai Sholeh Darat menyebutkan bahwa bismillāhir-ramānir-raīm memiliki empat martabat, yaitu martabat asma, martabat zat (yaitu lafal Allah), martabat sifat jalāl (yaitu Yang Maha Kuasa), dan martabat sifat jamāl (yaitu sifat sempurna). Keempat martabat ini mengisyaratkan empat martabat Allah, yaitu al-ulūhiyyah, ar-rubūbiyyah, al-jasmāniyyah, dan al-ayawāniyyah. Menurutnya, huruf ba’ dalam bismillāh merupakan ba’ tamīn sehingga bermakna, “Aku memulai perbuatanku dengan menyebut nama-Mu dan sifat-Mu, dan Engkau adalah Allah ar-Raman ar-Raīm.” Allah memiliki sifat jalāl dan qahhār yang disyarahi dengan sifat ar-Ramān, dan memiliki sifat jamāl dan kamāl yang disyarahi dengan sifat ar-Raīm. Maka dari itu, sifat Allah itu adakalanya dari segi jalāl, dan adakalanya dari segi jamāl (Tafsīr Fayurramān, hlm. 5-6).

Secara sufistik, huruf ba’ ini merupakan isyarat terhadap insan kamil, yaitu Nabi Muhammad saw. Adapun huruf alif yang tidak tampak (gaib) dalam bismillāh (بسم الله) merupakan isyarat terhadap Zat Allah yang memang gaib (aslinya adalah bi-ismi-llāh; “باسم الله”, bukan “بسم الله”). Dan segala sesuatu yang ada di alam semesta, termasuk manusia, merupakan simbol dan bukti adanya Allah serta penjelas sifat jalāl dan jamāl Allah. Dengan demikian, hakikat lafal bismillāhir-ramānir-raīm adalah sesungguhnya Allah itu ada (mawjūd) dengan Zat-Nya sendiri, dan segala sesuatu yang ada menjadi ada (tampak) adalah karena adanya Zat dan Wujud Allah. Karena sifat Ramān, Allah memberikan rezeki kepada seluruh makhluk. Karena sifat Raīm, Allah meninggikan derajat ahl al-qurubāt (orang-orang yang ahli mendekatkan diri kepada Allah) dan ahl al-karāmāt (orang-orang yang mulia). Sifat ar-Ramān dan ar-Raīm ini sudah ada sejak zaman azal (Tafsīr Fayurramān, hlm. 6-7).

Oleh karena itu, setiap mukmin seharusnya memiliki sifat belas kasih kepada sesama dalam rangka berakhlak dengan akhlak Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Sebab, Nabi Muhammad saw. memerintahkan umat Islam agar berakhlak dengan akhlak Allah. Nabi Muhammad saw. sendiri diutus sebagai ramah (kasih sayang) bagi sekalian alam sehingga beliau merupakan sosok pengasih lagi penyayang sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Anbiyā (21): 107 dan At-Tawbah (9): 128. Menurut Kiai Sholeh Darat, seseorang tidak dibenarkan memiliki sifat belas kasih kepada sesama jika dia tidak memiliki sifat belas kasih kepada dirinya. Dengan demikian, sifat belas kasih ini harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Sifat belas kasih kepada diri sendiri ini meliputi dua hal. Pertama, berbelas kasih kepada rohaniahnya, yaitu menjaga hak-hak rubūbiyyah (ketuhanan). Kedua, berbelas kasih kepada jasmaniahnya, yaitu menjaga kesempurnaan ‘ubūdiyyah (ibadah/penghambaan kepada Allah). Ketika seseorang mampu menjaga hak-hak rubūbiyyah dan kesempurnaan ‘ubūdiyyah, maka dia disebut sebagai manusia yang sempurna (al-insān al-kāmil) (Tafsīr Fayurramān, hlm. 6-7).

Selain itu, Syekh Ihsan Jampes menyebutkan beberapa makna huruf bismi (بسم), yaitu ba’ bermakna bahā’ullāh (keagungan Allah) dan bakā’ at-tā’ibīn (tangisannya orang-orang yang bertobat); huruf sin bermakna sanā’ullāh (kemuliaan Allah) dan sahw al-ghāfilīn (kekhilafannya orang-orang yang lalai); dan huruf mim bermakna majdullāh (keluhuran Allah) dan magfiratuhū li al-munibīn (ampunan Allah bagi para pendosa). Menurut beberapa ulama sufi, Allah menyimpan seluruh pengetahuan dalam ba’-nya bismillāh. Ba’ tersebut bermakna bī kāna mā kāna wa bī yakūnu mā yakūnu. Fa wujūd al-‘awālimi bī. Wa laysa li gayrī wujūdun aqīqiyyun illā bi al-ismi (sebab Aku ada sesuatu yang sudah ada, dan sebab Aku pula bakal ada sesuatu yang akan ada. Maka, adanya semua alam ini adalah karena Aku. Dan tidak ada selain diri-Ku wujud yang hakiki, kecuali dengan [perantara] nama-[Ku]). Keterangan ini merupakan makna dari ungkapan para sufi, “Aku tidak melihat kepada sesuatu, kecuali aku melihat Allah di dalam sesuatu itu atau sebelum sesuatu itu.” Artinya, setiap kali para sufi melihat sesuatu, maka mereka melihat Allah di dalam sesuatu tersebut. Sebab, segala sesuatu yang ada di alam semesta tercipta karena Allah. Dia adalah wujud hakiki yang ada sebelum segala sesuatu ada (Sirāj aālibīn, I: 5).

Adapun makna bismillāh adalah “aku memulai dengan seluruh nama Zat Yang Maha Kudus, bukan dengan yang lain, dalam rangka bertabaruk.” (Sirāj aālibīn, hlm. 4) Mengapa Syekh Ihsan Jampes mengartikan bismillāh “Dengan seluruh nama Zat (Allah)”, bukan “Dengan nama Zat (Allah)”? Alasannya karena kata Allāh merupakan nama yang meliputi (al-ismu al-jāmi‘) terhadap semua nama Allah beserta makna-maknanya. Dengan kata lain, semua nama Allah yang berjumlah ribuan itu beserta makna-maknanya terkandung dalam nama Allah tersebut. Jadi, ketika seseorang menyebut Allāh, maka secara otomatis semua nama Allah beserta makna-maknanya ikut di dalamnya (Dalam hal ini, penulis telah merampungkan tulisan tentang khazanah tafsir sufi bismillāh menurut fakih-sufi Nusantara, Syekh Muhammad Nawawī al-Jāwī).

Makna ar-Ramān adalah Zat yang melimpahkan nikmat-nikmat yang besar, seperti keimanan, kesehatan, akal, dan merasa cukup dari manusia (tidak bergantung kepada manusia). Selain itu, ar-Ramān juga bermakna rahmat (kasih sayang) yang banyak di mana rahmat (kasih sayang) Allah meliputi seluruh makhluk-Nya. Makna ar-Raīm adalah Zat yang melimpahkan nikmat-nikmat yang kecil, seperti bertambahnya rezeki dan sebagainya. Makna lain dari ar-Raīm adalah Zat yang ketika diminta akan memberikan dan ketika tidak dimintai akan marah. Menurut sebagian ulama sufi, Allāh adalah untuk orang-orang yang bersih dan murni jiwanya (ahl aafā), ar-Ramān adalah untuk orang-orang yang ikhlas dan loyal kepada Allah (ahl al-wafā), dan ar-Raīm adalah untuk orang-orang yang buruk tabiatnya (ahl al-jafā).

Allah memilih nama ar-Ramān dan ar-Raīm daripada nama-nama-Nya yang lain dalam bismillāh merupakan sebuah petunjuk bahwa kasih sayang Allah mendahului amarah-Nya. Oleh karena itu, setiap orang hendaklah menyayangi dan mengasihi saudaranya karena mengikuti dan meniru Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. Allah berfirman dalam kitab Injil, “wahai anak Adam, jika engkau menyayangi, maka engkau akan disayangi. Sebab, bagaimana mungkin kamu mengharap kasih sayang Allah kepadamu, sementara kamu tidak menyayangi hamba-hamba-Nya?” (Sirāj aālibīn, hlm. 4-5). Wallāhu A‘lam wa A‘la wa Akam.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Alumni Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Konsentrasi Kajian Maqasid dan Analisis Strategi dan Pengajar di Madrasah Diniyah Awwaliyah Nurul Jadid Pamekasan

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan