Tulisan ini menjelaskan tentang tafsir sufi bismillāhir-raḥmānir-raḥīm menurut pemikiran dua ulama Nusantara, yaitu K.H. Sholeh Darat as-Samarānī dalam Tafsīr Fayḍurraḥmān dan Syekh Iḥsān Muhammad Daḥlān al-Jampesī al-Kadīrī dalam Sirāj aṭ–Ṭālibīn (syarah atas kitab Minhāj al-‘Ābidīn ilā Jannah Rabb al-‘Ālamī karya Imam al-Gazālī). Dalam hal ini, penulis mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada sahabat karib penulis, Toher Prayoga, yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membacakan dan menerjemahkan tafsir bismillāhir-raḥmānir-raḥīm Kiai Sholeh Darat dalam Tafsīr Faydurraḥmān yang berbahasa Jawa dengan huruf Arab (Pegon). Jazākumullāh khayr al-jazā’ dā’iman sarmadan.
Wa ba‘du. Kiai Sholeh Darat menyebutkan bahwa bismillāhir-raḥmānir-raḥīm memiliki empat martabat, yaitu martabat asma, martabat zat (yaitu lafal Allah), martabat sifat jalāl (yaitu Yang Maha Kuasa), dan martabat sifat jamāl (yaitu sifat sempurna). Keempat martabat ini mengisyaratkan empat martabat Allah, yaitu al-ulūhiyyah, ar-rubūbiyyah, al-jasmāniyyah, dan al-ḥayawāniyyah. Menurutnya, huruf ba’ dalam bismillāh merupakan ba’ taḍmīn sehingga bermakna, “Aku memulai perbuatanku dengan menyebut nama-Mu dan sifat-Mu, dan Engkau adalah Allah ar-Raḥman ar-Raḥīm.” Allah memiliki sifat jalāl dan qahhār yang disyarahi dengan sifat ar-Raḥmān, dan memiliki sifat jamāl dan kamāl yang disyarahi dengan sifat ar-Raḥīm. Maka dari itu, sifat Allah itu adakalanya dari segi jalāl, dan adakalanya dari segi jamāl (Tafsīr Fayḍurraḥmān, hlm. 5-6).
Secara sufistik, huruf ba’ ini merupakan isyarat terhadap insan kamil, yaitu Nabi Muhammad saw. Adapun huruf alif yang tidak tampak (gaib) dalam bismillāh (بسم الله) merupakan isyarat terhadap Zat Allah yang memang gaib (aslinya adalah bi-ismi-llāh; “باسم الله”, bukan “بسم الله”). Dan segala sesuatu yang ada di alam semesta, termasuk manusia, merupakan simbol dan bukti adanya Allah serta penjelas sifat jalāl dan jamāl Allah. Dengan demikian, hakikat lafal bismillāhir-raḥmānir-raḥīm adalah sesungguhnya Allah itu ada (mawjūd) dengan Zat-Nya sendiri, dan segala sesuatu yang ada menjadi ada (tampak) adalah karena adanya Zat dan Wujud Allah. Karena sifat Raḥmān, Allah memberikan rezeki kepada seluruh makhluk. Karena sifat Raḥīm, Allah meninggikan derajat ahl al-qurubāt (orang-orang yang ahli mendekatkan diri kepada Allah) dan ahl al-karāmāt (orang-orang yang mulia). Sifat ar-Raḥmān dan ar-Raḥīm ini sudah ada sejak zaman azal (Tafsīr Fayḍurraḥmān, hlm. 6-7).
Oleh karena itu, setiap mukmin seharusnya memiliki sifat belas kasih kepada sesama dalam rangka berakhlak dengan akhlak Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Sebab, Nabi Muhammad saw. memerintahkan umat Islam agar berakhlak dengan akhlak Allah. Nabi Muhammad saw. sendiri diutus sebagai raḥmah (kasih sayang) bagi sekalian alam sehingga beliau merupakan sosok pengasih lagi penyayang sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Anbiyā (21): 107 dan At-Tawbah (9): 128. Menurut Kiai Sholeh Darat, seseorang tidak dibenarkan memiliki sifat belas kasih kepada sesama jika dia tidak memiliki sifat belas kasih kepada dirinya. Dengan demikian, sifat belas kasih ini harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Sifat belas kasih kepada diri sendiri ini meliputi dua hal. Pertama, berbelas kasih kepada rohaniahnya, yaitu menjaga hak-hak rubūbiyyah (ketuhanan). Kedua, berbelas kasih kepada jasmaniahnya, yaitu menjaga kesempurnaan ‘ubūdiyyah (ibadah/penghambaan kepada Allah). Ketika seseorang mampu menjaga hak-hak rubūbiyyah dan kesempurnaan ‘ubūdiyyah, maka dia disebut sebagai manusia yang sempurna (al-insān al-kāmil) (Tafsīr Fayḍurraḥmān, hlm. 6-7).
Selain itu, Syekh Ihsan Jampes menyebutkan beberapa makna huruf bismi (بسم), yaitu ba’ bermakna bahā’ullāh (keagungan Allah) dan bakā’ at-tā’ibīn (tangisannya orang-orang yang bertobat); huruf sin bermakna sanā’ullāh (kemuliaan Allah) dan sahw al-ghāfilīn (kekhilafannya orang-orang yang lalai); dan huruf mim bermakna majdullāh (keluhuran Allah) dan magfiratuhū li al-muẓnibīn (ampunan Allah bagi para pendosa). Menurut beberapa ulama sufi, Allah menyimpan seluruh pengetahuan dalam ba’-nya bismillāh. Ba’ tersebut bermakna bī kāna mā kāna wa bī yakūnu mā yakūnu. Fa wujūd al-‘awālimi bī. Wa laysa li gayrī wujūdun ḥaqīqiyyun illā bi al-ismi (sebab Aku ada sesuatu yang sudah ada, dan sebab Aku pula bakal ada sesuatu yang akan ada. Maka, adanya semua alam ini adalah karena Aku. Dan tidak ada selain diri-Ku wujud yang hakiki, kecuali dengan [perantara] nama-[Ku]). Keterangan ini merupakan makna dari ungkapan para sufi, “Aku tidak melihat kepada sesuatu, kecuali aku melihat Allah di dalam sesuatu itu atau sebelum sesuatu itu.” Artinya, setiap kali para sufi melihat sesuatu, maka mereka melihat Allah di dalam sesuatu tersebut. Sebab, segala sesuatu yang ada di alam semesta tercipta karena Allah. Dia adalah wujud hakiki yang ada sebelum segala sesuatu ada (Sirāj aṭ–Ṭālibīn, I: 5).
Adapun makna bismillāh adalah “aku memulai dengan seluruh nama Zat Yang Maha Kudus, bukan dengan yang lain, dalam rangka bertabaruk.” (Sirāj aṭ–Ṭālibīn, hlm. 4) Mengapa Syekh Ihsan Jampes mengartikan bismillāh “Dengan seluruh nama Zat (Allah)”, bukan “Dengan nama Zat (Allah)”? Alasannya karena kata Allāh merupakan nama yang meliputi (al-ismu al-jāmi‘) terhadap semua nama Allah beserta makna-maknanya. Dengan kata lain, semua nama Allah yang berjumlah ribuan itu beserta makna-maknanya terkandung dalam nama Allah tersebut. Jadi, ketika seseorang menyebut Allāh, maka secara otomatis semua nama Allah beserta makna-maknanya ikut di dalamnya (Dalam hal ini, penulis telah merampungkan tulisan tentang khazanah tafsir sufi bismillāh menurut fakih-sufi Nusantara, Syekh Muhammad Nawawī al-Jāwī).
Makna ar-Raḥmān adalah Zat yang melimpahkan nikmat-nikmat yang besar, seperti keimanan, kesehatan, akal, dan merasa cukup dari manusia (tidak bergantung kepada manusia). Selain itu, ar-Raḥmān juga bermakna rahmat (kasih sayang) yang banyak di mana rahmat (kasih sayang) Allah meliputi seluruh makhluk-Nya. Makna ar-Raḥīm adalah Zat yang melimpahkan nikmat-nikmat yang kecil, seperti bertambahnya rezeki dan sebagainya. Makna lain dari ar-Raḥīm adalah Zat yang ketika diminta akan memberikan dan ketika tidak dimintai akan marah. Menurut sebagian ulama sufi, Allāh adalah untuk orang-orang yang bersih dan murni jiwanya (ahl aṣ–ṣafā), ar-Raḥmān adalah untuk orang-orang yang ikhlas dan loyal kepada Allah (ahl al-wafā), dan ar-Raḥīm adalah untuk orang-orang yang buruk tabiatnya (ahl al-jafā).
Allah memilih nama ar-Raḥmān dan ar-Raḥīm daripada nama-nama-Nya yang lain dalam bismillāh merupakan sebuah petunjuk bahwa kasih sayang Allah mendahului amarah-Nya. Oleh karena itu, setiap orang hendaklah menyayangi dan mengasihi saudaranya karena mengikuti dan meniru Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. Allah berfirman dalam kitab Injil, “wahai anak Adam, jika engkau menyayangi, maka engkau akan disayangi. Sebab, bagaimana mungkin kamu mengharap kasih sayang Allah kepadamu, sementara kamu tidak menyayangi hamba-hamba-Nya?” (Sirāj aṭ–Ṭālibīn, hlm. 4-5). Wallāhu A‘lam wa A‘la wa Aḥkam.