ARTIKEL

Rantai Tak Terlihat: Dari Su’uzhan Sampai Takabbur

Agustus 13, 2026
5 menit membaca

Coba kita bayangkan, jika seseorang berprasangka buruk pada temannya. Dan itu hanya sekali, cuma di dalam hati. Tapi tanpa disadari, satu prasangka kecil itu sedang membuka pintu bagi serangkaian penyakit hati lain yang akan menjalar secara diam-diam dan menjadikannya pelaku, bukan sebagai korban.

Kita biasa membayangkan dosa hati sebagai kejadian yang berdiri sendiri. Hari ini iri, besok sombong, lusa dengki, seolah masing-masing muncul dari sebab yang berbeda dan bisa ditangani satu per satu. Padahal, jika kita menelusuri lebih dalam, banyak dari penyakit hati itu sebenarnya adalah mata rantai dari satu penyakit yang sama, yang bermula dari sesuatu yang tampak begitu sepele hingga nyaris tidak kita sadari sebagai dosa.

Ada satu ungkapan menarik dalam mahfuzhat—sebuah buku pelajaran hikmah di banyak Pondok Pesantren dan Diniyah:

 سوء الخلق يعدي 

“Akhlak yang tercela itu menular”

Mungkin yang terlintas di benak kita adalah akhlak buruk seorang teman yang, jika kita bergaul dengannya, akan menular dan menimbulkan penyakit yang sama pada diri kita.

Namun dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa “menular” di sini—meskipun Imam al-Ghazali tidak secara eksplisit menyebut kata menular—bukan berarti berpindah kepada orang lain, melainkan bahwa satu akhlak buruk cenderung melahirkan keburukan yang lain dalam diri orang yang sama. Penularan yang dimaksud al-Ghazali terjadi secara vertikal, dari satu bibit penyakit menjadi penyakit turunan, bukan menular secara horizontal dari satu orang ke orang lain.

Pemahaman ini menurut saya penting, sebab jika kita memaknainya secara harfiah saja, bahwa akhlak buruk teman akan menular kepada kita, maka solusinya akan terlihat sederhana, yakni cukup jauhi orang yang berakhlak buruk dan selesai. Namun jika penularan itu justru terjadi di dalam diri sendiri, maka menjauhi orang lain saja tidak cukup. Yang perlu diwaspadai adalah benih penyakit yang sudah bersemayam dalam hati kita sendiri, sekecil apa pun bentuknya. Mari kita lihat bagaimana proses ini bekerja lewat contoh kasus su’uzhan (buruk sangka).

Seseorang yang berburuk sangka pada orang lain, secara tidak langsung akan terdorong membicarakan keburukan orang tersebut, dan inilah yang disebut gibah. Ketika gibah itu terjadi, ia justru mengantarkan pelakunya pada perasaan lebih baik dan lebih mulia dibanding orang yang digibahi.

Coba kita perhatikan alurnya. Semua berawal dari sesuatu yang terjadi di dalam kepala, tidak bersuara, tanpa adanya saksi, yang ada hanyalah sebuah sangkaan. Lalu, kita menduga-duga niat seseorang, menafsirkan sikapnya dengan cara yang paling buruk, lalu meyakini tafsiran itu seolah-olah sebuah kebenaran. Tahap ini sering luput dari perhatian kita karena tidak melibatkan tindakan apa pun, dan murni hanya pikiran. Padahal, di titik inilah benih penyakit itu sesungguhnya tertanam.

Begitu prasangka tertanam, ia mendesak untuk dikeluarkan, entah itu lewat obrolan santai atau keluhan kepada teman, atau mungkin komentar singkat yang terasa hal yang wajar-wajar saja. Nah, di sinilah su’uzhan, tanpa kita sadari melahirkan gibah, yang tadinya hanya prasangka pribadi, kini menjadi cerita yang beredar ke telinga orang lain, ditambah lagi bumbu di sana-sini, dan sulit ditarik kembali begitu sudah terlanjur diucapkan.

Dari sinilah lingkaran itu bermula. Su’uzhan melahirkan gibah, dan gibah melahirkan perasaan superior, yaitu merasa diri lebih baik dari orang yang sedang dibicarakan. Padahal, perasaan itu sendiri adalah bibit dari akhlak buruk berikutnya: ujub (bangga diri) dan takabbur (sombong). Maka benarlah apa yang dimaksud al-Ghazali bahwa satu penyakit hati tidak berdiri sendiri, ia beranak-pinak menjadi penyakit-penyakit lain yang saling menyuburkan.

Yang membuat lingkaran ini sulit diputus adalah rasa nikmat yang menyertainya di setiap tahap. Berprasangka buruk memberi rasa waspada dan seolah “lebih paham” dibanding orang lain. Bergibah memberi kedekatan sesaat dengan lawan bicara, semacam ikatan sosial yang terbentuk lewat cerita bersama. Dan merasa lebih baik dari orang yang digibahi memberi kepuasan batin yang paling halus, karena tidak terlihat sebagai dosa, melainkan hanya terasa seperti penilaian yang wajar. Tiga kenikmatan kecil inilah yang membuat rantai su’uzhangibah-ujub terus berulang tanpa pernah benar-benar disadari sebagai pola yang merusak.

Yang lebih mengkhawatirkan, pola ini tidak berhenti pada tiga penyakit itu saja. Rasa lebih baik dari orang lain, jika dibiarkan, akan mengeraskan hati terhadap nasihat dan koreksi. Orang yang merasa lebih mulia cenderung sulit menerima bahwa dirinya bisa salah, sebab dalam benaknya, standar kebaikan sudah ia tetapkan sendiri lewat perbandingan yang ia buat dengan orang yang ia gibahi. Dari sinilah lahir sikap keras kepala dalam beragama, mudah menyalahkan, dan pelan-pelan kehilangan kepekaan terhadap dosanya sendiri.

Di sinilah letak bahayanya. Kita sering menyangka bahwa akhlak buruk itu seperti satu setitik noda kecil yang bisa dibersihkan sekali usap. Padahal ia lebih menyerupai akar yang menjalar diam-diam, dari satu prasangka kecil, menjadi ucapan, menjadi kebiasaan, hingga akhirnya membentuk cara pandang kita terhadap sesama.

Maka menjaga hati dari su’uzhan bukan hanya soal menahan diri agar tidak berpikir buruk pada orang lain, tapi juga suatu upaya memutus rantai sebelum ia sempat melahirkan keburukan berikutnya. Sebab boleh jadi, prasangka yang tampaknya sepele hari ini justru merupakan pintu masuk bagi akhlak-akhlak buruk lain yang lebih sulit kita sadari keberadaannya dalam diri sendiri.

Lalu di mana titik yang paling tepat untuk memutus rantai ini? Maka, jawabannya akan selalu kembali ke titik paling awal, yaitu prasangka itu sendiri, sebelum ia sempat berubah menjadi ucapan. Nabi SAW sendiri mengingatkan agar kita berhati-hati terhadap prasangka, sebab prasangka adalah ucapan yang paling dusta. Peringatan ini bukan tanpa alasan, karena begitu prasangka dibiarkan menetap dan diyakini sebagai kebenaran, jalan menuju gibah, ujub, dan takabbur terbuka dengan sendirinya, hampir tanpa perlawanan.

Praktiknya sederhana, meski tidak mudah dijalani. Setiap kali muncul sangkaan buruk tentang seseorang, ada baiknya berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri, apakah ini benar-benar fakta, atau hanya tafsiran yang lahir dari suasana hati kita hari itu? Sering kali, ketika ditelusuri lebih jauh, prasangka itu tidak berdiri di atas bukti yang kuat, melainkan hanya cerminan dari kegelisahan atau ketidaknyamanan kita sendiri terhadap orang tersebut.

Menahan diri di titik ini memang tidak memberi kepuasan langsung seperti yang ditawarkan gibah atau perasaan lebih baik dari orang lain. Namun, di situlah letak nilainya. Karena menjaga hati kita bukan pekerjaan yang menghasilkan kenikmatan yang sesaat dan, melainkan usaha yang buahnya baru dapat kita rasakan ketika kita menyadari betapa lebih tenang dan lapangnya hati yang tidak dipenuhi sangkaan-sangkaan yang tidak perlu.

Wallahu a’lam.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan