Setelah penulis menjelaskan tentang welas asih kepada sesama manusia dan sesama muslim, baik mengenai dalil-dalinya, keutamaan-keutamaannya, maupun bentuk-bentuknya, dalam “Paradigma Islam Cinta dalam Khazanah Kitab Kuning (Bagian 1; https://baca.nuralwala.id/paradigma-islam-cinta-dalam-khazanah-kitab-kuning-bagian-1/)” dan “Paradigma Islam Cinta dalam Khazanah Kitab Kuning (Bagian 2; https://baca.nuralwala.id/paradigma-islam-cinta-dalam-khazanah-kitab-kuning-bagian-2/)”, maka tulisan “Paradigma Islam Cinta dalam Khazanah Kitab Kuning (Bagian 3)” ini menjelaskan tentang welas asih kepada para pendosa dan binatang. Dalam hal ini, Nabi Muhammad saw., para sahabat, dan para ulama salaf dari kalangan tabiin dan tābi‘ at-tābi‘īn telah memberikan contoh nyata bagaimana mengasihi sesama manusia, sesama muslim, para pendosa, dan binatang. Oleh karena itu, Imam asy-Sya‘rānī memerintahkan setiap muslim untuk mengikuti para ulama salaf dalam hal welas asih karena mereka mewarisi sifat kasih sayang dan empati Nabi Muhammad saw. (Tanbīh al-Mugtarrīn, hlm. 47-48).
Welas Asih kepada Para Pendosa
Imam asy-Sya‘rānī menyebutkan bahwa welas kasih kepada para pendosa merupakan salah satu akhlak para ulama salaf yang harus ditiru (Nasrullah Ainul Yaqin, “Yang Tak Menyayangi Para Pendosa, Berarti Telah Keluar dari Jalan yang Benar”, dalam https://baca.nuralwala.id/yang-tak-menyayangi-para-pendosa-berarti-telah-keluar-dari-jalan-yang-benar/, 03/06/2026). Dalam hal ini, para ulama salaf sangat menyayangi para pendosa dan tidak merendahkannya. Bahkan, mereka rela menjadi tebusan bagi para pendosa tersebut. Oleh karena itu, salah satu dari mereka rela jika tubuhnya diiris-iris dengan gunting asalkan tidak ada lagi orang yang bermaksiat kepada Allah. Menurut mereka, welas asih yang besar kepada para pendosa lebih utama daripada melaknati mereka (Tanbīh al-Mugtarrīn, hlm. 49). Akhlak para ulama salaf yang mengasihi para pendosa ini memiliki pijakan yang sangat kredibel dari para nabi (seperti Nabi Isa as. dan Nabi Muhammad saw.) dan para sahabat.
Pertama, Nabi Isa as. bersabda, “Janganlah kalian banyak bicara, kecuali zikir kepada Allah, maka hati kalian akan keras. Sebab, hati yang keras akan jauh dari Allah, tetapi kalian tidak mengetahuinya. Janganlah kalian melihat aib-aib manusia seakan-akan kalian adalah Tuhan (yang tidak memiliki aib sama sekali), tetapi lihatlah aib-aib itu seakan-akan kalian adalah seorang hamba (yang memiliki aib-aib juga). Sebab, manusia itu ada dua macam, yaitu manusia yang diberikan cobaan dan manusia yang diberikan kesejahteraan. Maka, sayangilah orang-orang yang diberikan cobaan, dan bersyukurlah kepada Allah atas orang-orang yang diberikan kesejahteraan.” (Tanbīh al-Gāfilīn, hlm. 140). Menurut penulis, makna cobaan di sini meliputi musibah dan ketergelinciran ke perbuatan-perbuatan maksiat. Dengan demikian, sayangilah orang-orang yang sedang terkena musibah dan orang-orang yang tergelincir ke perbuatan maksiat. Salah satu bentuk mengasihi orang-orang yang sedang tergelincir ke perbuatan maksiat adalah mendoakan mereka agar segera bertobat dan mendapatkan ampunan Allah atau menasihati mereka dengan cara yang baik dan membantu mereka agar keluar dari jurang kemaksiatan. Bukan sebaliknya, yaitu membenci dan menghina mereka sehingga mereka semakin terpuruk dalam kubangan syahwat dan kemaksiatan.
Kedua, Rasulullah saw. bersabda, “Ada empat hak umat Islam yang harus dipenuhi oleh setiap muslim, yaitu membantu orang-orang yang baik di kalangan mereka, memintakan ampun untuk orang-orang yang berdosa di kalangan mereka, mengajak orang-orang yang lari dan menjauh dari agama di kalangan mereka, dan mencintai orang-orang yang bertobat di kalangan mereka.”
Ketiga, ‘Abdullāh bin Mas‘ūd r.a. (sahabat) berkata, “Kalau kalian melihat saudara kalian sedang dihukum (karena sebuah kesalahan/kejahatan), maka janganlah kalian melaknatnya, dan janganlah kalian membantu setan untuk menjauhkan saudara kalian itu dari rahmat Allah. Akan tetapi, doakanlah dia seraya berkata, “Ya Allah, sayangilah dia. Ya Allah, semoga Engkau menerima tobatnya.” (Tanbīh al-Gāfilīn, hlm. 138-139).
Keempat, Syaqīq al-Balkhī r.a. (tābi‘ at-tābi‘īn) berkata, “Ketika kamu menyebut orang yang buruk dan kamu tidak merasa kasihan kepadanya (karena telah terjerumus ke keburukan), maka berarti kamu lebih buruk darinya. Ketika kamu menyebut orang yang saleh dan kamu tidak merasakan manisnya ketaatan kepada Allah di dalam kalbumu, maka berarti kamu adalah orang yang buruk.” Riwayat lain menyebutkan bahwa Syaqīq al-Balkhī berkata, “Barang siapa yang tidak mengasihi orang yang buruk, maka berarti dia lebih buruk darinya. Barang siapa yang tidak mendapati kenyamanan dan kekaguman di dalam dirinya ketika mendengar kisah orang-orang saleh, maka berarti dia adalah orang yang buruk.” (Tanbīh al-Gāfilīn, hlm. 140 & Tanbīh al-Mugtarrīn, hlm. 49).
Kelima, Muṭarrif bin ‘Abdullāh r.a. (tabiin) berkata, “Barang siapa yang tidak memiliki welas asih kepada para pendosa, maka hendaklah dia mendoakan mereka agar segera bertobat dan mendapatkan ampunan Allah. Sebab, salah satu akhlak para malaikat adalah memohonkan ampunan untuk penduduk bumi.” Keenam, Zuhayr bin Nu‘aym r.a. (tābi‘ at-tābi‘īn) bersumpah bahwa dia rela jika tubuhnya diiris-iris dengan gunting asalkan tidak ada lagi orang yang bermaksiat kepada Allah (Tanbīh al-Mugtarrīn, hlm. 49).
Ketujuh, ketika Ḥabīb al-‘Ajamī r.a. (tabiin) membaca sebuah ayat yang berisi kemurkaan Allah atas suatu kaum, maka beliau menangis seraya berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah melimpahkan rasa kasih sayang di dalam kalbuku kepada mereka. Jika Engkau berkenan, maka ampunilah mereka, dan jika Engkau berkenan, maka siksalah aku saja (sebagai tebusan atas mereka).” Menurut Imam asy-Sya‘rānī, pernyataan Ḥabīb al-‘Ajamī ini tentu ditujukan untuk memohon keridaan Allah kepada kaum yang sedang dimurkai Allah tersebut, bukan ditujukan untuk merintangi (memprotes) kemurkaan Allah kepada mereka. Sebab, muslim yang sempurna akan murka terhadap hal yang dimurkai Allah dan rida terhadap hal yang diridai Allah (Tanbīh al-Mugtarrīn, hlm. 49).
Kedelapan, Manṣūr bin Muhammad r.a. enggan menyuruh muridnya untuk melakukan perbuatan tertentu karena merasa kasihan kepadanya. Dalam hal ini, beliau khawatir si murid akan menentang perintahnya sehingga murid itu berdosa dan mendapatkan hukuman darinya. Dengan demikian, beliaulah yang menyebabkan murid itu melakukan dosa dan mendapatkan hukuman. Kesembilan, Sufyān bin ‘Uyaynah r.a. (tābi‘ at-tābi‘īn) berkata, “Seandainya orang-orang tidak mendapatkan dosa karena (menghina) aku, maka sungguh aku akan berkata bahwa orang yang memfitnahku dan menghinaku lebih aku sukai daripada orang yang memujiku. Sebab, terkadang orang yang memujiku itu pura-pura saja.” (Tanbīh al-Mugtarrīn, hlm. 49).
Welas Asih kepada Binatang
Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada satu pun seorang nabi, kecuali dia pernah menjadi penggembala (kambing).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Anda juga pernah menjadi penggembala?” Beliau menjawab, “Iya. Aku pernah menjadi penggembala.” Menurut Imam Abū al-Layś, Allah menguji para nabi dengan menggembalakan binatang-binatang ternak terlebih dahulu agar mereka memiliki welas asih kepada makhluk-makhluk Allah. Ketika Allah menjumpai mereka memiliki welas asih kepada binatang-binatang ternak itu, maka Dia akan mengangkat mereka manjadi nabi dan memberikan otoritas kepada mereka untuk mengurus keagamaan umat manusia (Tanbīh al-Gāfilīn, hlm. 139).
Imam Abū al-Layś memperkuat pendapatnya tersebut dengan sebuah riwayat tentang kisah Nabi Musa as. yang diangkat menjadi nabi dan rasul. Dalam hal ini, Nabi Musa a.s. pernah bertanya kepada Allah, “Wahai Tuhanku, sebab apa Engkau menjadikan aku sebagai kekasih-Mu?” Allah menjawab, “Sebab kasih sayangmu kepada makhluk-Ku. Engkau pernah menggembala kambing-kambing milik Syu‘ayb, lalu ada seekor kambing yang melarikan diri. Maka, kamu mengejarnya sehingga kamu mengalami kesusahan dan kelelahan dalam mencarinya. Ketika kamu sudah menemukannya dan menangkapnya, maka kamu memangkunya seraya berkata, ‘Kasihan sekali kamu. Kamu membuatku lelah dan melelahkan dirimu sendiri.’ Maka, sebab kasih sayangmu kepada makhluk-Ku itulah Aku memilihmu dan memuliakanmu dengan kenabian.” (Tanbīh al-Gāfilīn, hlm. 139 & Mukāsyafah al-Qulūb, hlm. 61).
Adapun beberapa bentuk welas asih kepada binatang adalah menolongnya, berbuat baik kepadanya, dan tidak memberi beban kepadanya di luar kemampuannya.
Pertama, Rasulullah saw. bersabda, “Suatu ketika ada seorang laki-laki sedang berjalan di sebuah jalan dan merasa sangat kehausan. Ia kemudian menemukan sebuah sumur. Maka, ia pun menghampiri sumur itu, lalu minum. Setelah itu, ia pergi dari sumur itu. Tiba-tiba ia bertemu dengan seekor anjing yang terengah-tengah sembari mengisap tanah karena kehausan. Laki-laki itu berkata, ‘Sungguh anjing ini sangat kehausan seperti yang aku alami tadi.’ Akhirnya, ia pergi ke sumur itu lagi dan memenuhi selopnya dengan air. Ia kemudian meletakkan dan memajukan selop yang berisi air di dekat mulut anjing itu. Maka, laki-laki itu memberi minum anjing yang sangat kehausan tersebut. Oleh karena itu, Allah membalas jasa laki-laki itu dan mengampuni dosa-dosanya.” Para sahabat bertanya, “Apakah kami akan mendapatkan pahala jika berbuat baik kepada binatang?” Rasulullah saw. menjawab, “Perbuatan baik kepada setiap makhluk hidup akan mendapatkan pahala.” (Tanbīh al-Gāfilīn, hlm. 138 & Mukāsyafah al-Qulūb, hlm. 61).
Kedua, suatu ketika Abū ad-Dardā’ ra. (sahabat) mengikuti anak-anak yang sedang bermain beberapa burung. Beliau kemudian membeli burung-burung itu dan melepaskannya seraya berkata, “Terbanglah kalian dan hiduplah dengan bebas.”
Ketiga, suatu ketika Syarīk ra. melihat seekor semut dari Persia di tengah perjalanannya. Merasa kasihan kepada semut itu, akhirnya beliau mengembalikannya ke Persia. Padahal, dia sudah mencapai perjalanan sekitar 4 farsakh (1 farsakh kurang lebih 8 km atau 5 km)―yaitu sekitar 32 km (4 X 8) atau 20 km (4 X 5)―dari Persia. Selain itu, beliau biasa memberi makan kawanan semut dengan roti yang sudah dihancurkan dan tepung yang ditaburkan di sarangnya (Mukāsyafah al-Qulūb, hlm. 61 & Tanbīh al-Mugtarrīn, hlm. 49). Wallāhu A‘lam wa A‘lā wa Aḥkam.