Jika tulisan sebelumnya, “Paradigma Islam Cinta dalam Khazanah Kitab Kuning (Bagian 1)”, menjelaskan tentang dalil-dalil dan keutamaan-keutamaan welas asih kepada sesama manusia dalam khazanah kitab kuning, maka tulisan “Paradigma Islam Cinta dalam Khazanah Kitab Kuning (Bagian 2)” ini menjelaskan tentang bentuk-bentuk welas asih kepada sesama manusia, kemudian disusul dengan penjelasan tentang welas asih kepada sesama muslim, baik dari segi dalil-dalinya maupun dari segi bentuk-bentuknya.
Bentuk-Bentuk Welas Asih kepada Sesama Manusia
Adapun beberapa bentuk welas asih kepada sesama manusia yang disebutkan dalam kitab kuning adalah: pertama, memberikan makan kepada orang yang sedang kelaparan, kedua, dermawan, ketiga, mengasuh dan menyantuni anak yatim, dan keempat, membantu orang lain.
Pertama, memberikan makan kepada orang yang sedang kelaparan. Menurut Rasulullah saw., barang siapa yang memberi makan orang yang sedang lapar karena mengharap rida Allah, maka dia wajib mendapatkan surga. Sebaliknya, barang siapa yang tidak mau memberikan makanan kepada orang yang sedang kelaparan, maka Allah tidak akan memberikan keutamaan-Nya kepadanya pada hari kiamat dan akan menyisaknya di dalam neraka. Selain itu, Rasulullah saw. juga bersabda bahwa ada empat amalan yang bisa mendatangkan ampunan Allah, yaitu memberikan makanan, menebarkan salam, dan (memiliki) perkataan yang baik (Mukāsyafah al-Qulūb, hlm. 62-63).
Dikisahkan bahwa ketika Nabi Ibrahim a.s. hendak dahar, maka beliau akan berjalan sekitar satu mil hingga dua mil untuk mencari orang yang akan diajak makan bersama beliau. Dikisahkan pula bahwa suatu ketika seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israel melewati gunung pasir. Pada waktu itu, Bani Israel sedang mengalami kelaparan yang sangat besar. Ia pun berharap di dalam hatinya moga-moga gunung pasir itu berubah menjadi tepung sehingga ia akan mengenyangkan Bani Israel yang sedang kelaparan dengan tepung itu. Maka, Allah mewahyukan kepada salah satu Bani Israel agar disampaikan kepada ahli ibadah tersebut bahwa ia mendapatkan pahala mengenyangkan manusia dengan tepung sebagaimana yang diharapkan dalam hatinya itu. Oleh karena itu, Rasulullah saw. bersabda, “Niatnya seorang mukmin lebih baik dari perbuatannya.” (Mukāsyafah al-Qulūb, hlm. 62).
Kedua, dermawan. Rasulullah saw. menyebutkan bahwa Allah menganugerahkan orang-orang tertentu dengan berbagai nikmat (seperti kepandaian, kekayaan, atau kekuasaan) agar mereka membantu dan memberikan manfaat kepada orang lain. Jika mereka pelit untuk memberikan manfaat kepada orang lain, maka Allah akan mencabut nikmat-nikmat tersebut dari mereka dan memindahkannya kepada orang lain (Mukāsyafah al-Qulūb, hlm. 62).
Menurut Rasulullah saw., kedermawanan adalah salah satu pohon dari pepohonan surga, yang ranting-rantingnya terjuntai ke bumi. Barang siapa yang mengambil satu ranting saja dari pohon (kedermawanan) itu, maka ranting itu akan menuntunnya ke dalam surga. Bahkan, beliau menyebutkan bahwa ada empat golongan manusia yang masuk surga tanpa hisab, yaitu (1) ulama yang mengamalkan ilmunya; (2) orang yang berhaji dan menjaga lidahnya dari berkata keji serta tidak melakukan kefasikan hingga meninggal; (3) syahid yang gugur di medan pertempuran dalam rangka meninggikan agam Islam; dan (4) orang dermawan yang mendapatkan harta yang halal dan menginfakkannya di jalan Allah secara ikhlas (bukan karena pamer/riyā’). Keempat golongan tersebut nanti akan saling berebut satu sama lain untuk masuk surga duluan (Mukāsyafah al-Qulūb, hlm. 62).
Oleh karena itu, sabar dan dermawan merupakan amalan apa yang paling utama sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw. Bahkan, beliau menegaskan bahwa Allah lebih mencintai orang bodoh yang dermawan daripada ahli ibadah yang pelit. Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Sebaliknya, orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Dikisahkan bahwa suatu ketika Sayyidina ‘Alī bin Ṭālib karramallāhu wajhahu menangis. Ketika ditanya apa yang membuatnya menangis, maka beliau menjawab, “Aku tidak kedatangan seorang pun tamu dalam satu minggu ini. Aku khawatir Allah telah menghinakanku.” (Mukāsyafah al-Qulūb, hlm. 62).
Ketiga, mengasuh dan menyantuni anak yatim. Dikisahkan bahwa suatu ketika Nabi Isa as. bertemu dengan iblis yang sedang membawa madu dan abu. Lalu, beliau bertanya kepada iblis, “Wahai musuhnya Allah, apa yang akan kamu lakukan dengan madu dan abu itu?” Iblis menjawab, “Madu ini akan aku oleskan ke bibirnya orang-orang yang tukang fitnah sehingga mereka menyampaikan fitnah-fitnah itu. Adapun abu ini akan aku taburkan ke wajahnya anak-anak yatim sehingga manusia benci kepada mereka.” Menurut Rasulullah saw., ketika ada anak yatim menangis karena dipukul, maka Arasy akan berguncang karena tangisan anak yatim itu. Lalu, Allah berfirman, “Wahai para malaikat-Ku, siapa yang berani membuat anak yatim ini menangis?” Sebaliknya, barang siapa yang memberi tempat tinggal, makan, dan minum kepada anak yatim, maka Allah mewajibkan baginya surgaloka (Mukāsyafah al-Qulūb, hlm. 62).
Keempat, membantu orang lain. Dikisahkan bahwa suatu malam Khalifah ‘Umar bin Khaṭṭāb r.a. melakukan ronda. Tiba-tiba beliau bertemu dengan sekelompok orang yang sedang berhenti di sebuah tempat untuk beristirahat. Mengetahui hal ini, beliau khawatir mereka akan kemalingan ketika sedang tertidur pulas. Oleh karena itu, beliau mendatangi ‘Abdurraḥmān bin ‘Awf r.a. dan mengajaknya untuk menjaga mereka. Akhirnya, beliau berdua menjaga mereka semalam suntuk. Ketika waktu Subuh sudah tiba, maka Sayyidina ‘Umar r.a. membangunkan mereka untuk melaksanakan salat. Ketika mereka sudah terbangun, maka beliau berdua pun pergi meninggalkan mereka.
Dikisahkan pula bahwa suatu ketika Khalifah ‘Umar bin Khaṭṭāb r.a. melihat seorang kakek nonmuslim meminta-minta dari satu rumah ke rumah yang lain. Melihat kenyaatan pahit itu, beliau kemudian berkata kepada sang kakek, “Kami tidak berlaku adil kepada Anda. Kami memungut jizyah dari Anda sewaktu Anda masih muda. Sekarang, kami malah menyia-nyiakan dan menelantarkan Anda.” Lalu, beliau memerintahkan petugasnya untuk memenuhi makanan pokok sang kakek tersebut dari baitulmalnya orang-orang Islam (Tanbīh al-Gāfilīn, hlm. 139 & Mukāsyafah al-Qulūb, hlm. 61).
Welas Asih kepada Sesama Muslim
Rasulullah saw. bersabda bahwa umat Islam harus saling menasihati dan mengasihi satu sama lain. Dalam hal ini, beliau menggambarkan bahwa kasih sayang di antara mereka adalah seperti anggota tubuh. Ketika salah satu anggota tubuh ada yang sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain akan saling berempati dan bersimpati sampai sakit itu hilang. Oleh karena itu, beliau bersumpah, “Demi Tuhan, yang diri Muhammad berada di dalam genggaman-Nya, tidak sempurna iman seorang muslim sampai dia mencintai saudaranya yang muslim seperti dia mencintai dirinya sendiri dalam hal mendapatkan kebaikan.” Selain itu, beliau menegaskan bahwa wali abdāl masuk surga bukan karena banyak melaksanakan salat sunah dan puasa sunah, tetapi karena memiliki hati yang bersih (selamat dari penyakit-penyakit hati), jiwa yang dermawan, dan welas asih kepada sekalian umat Islam (Tanbīh al-Gāfilīn, hlm. 139-140 & Mukāsyafah al-Qulūb, hlm. 61).
Adapun beberapa bentuk welas asih kepada sesama muslim yang disebutkan oleh Rasulullah saw. adalah sebagai berikut. Pertama, jika dia diundang oleh muslim lain, maka dia harus memenuhi undangannya tersebut. Kedua, ketika ada seorang muslim sakit, maka dia harus menjenguknya. Ketiga, ketika ada seorang muslim yang meninggal, maka dia harus melawatnya. Keempat, ketika dia bertemu dengan muslim lain, maka dia harus mengucapkan salam kepadanya. Kelima, ketika dia dimintai nasihat oleh muslim lain, maka dia harus memberikan nasihat kepadanya. Keenam, ketika ada seorang muslim bersin dan mengucapkan alhamdulillah, maka dia harus mendoakannya seraya berkata, “Yarḥamukallāh (semoga Allah mengasihimu).” Menurut Rasulullah saw., keenam hal tersebut merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap muslim kepada sesama muslim. Jika dia meninggalkan salah satu dari enam kewajiban tersebut, maka berarti dia telah mengabaikan salah satu hak muslim lain yang bersifat wajib (Tanbīh al-Gāfilīn, hlm. 139). Ketujuh, menutupi aib sesama muslim, menghilangkan kesedihannya, dan menolongnya. Dalam hal ini, Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang menutupi aib saudaranya yang muslim di dunia, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menghilangkan kesedihan saudaranya yang muslim di dunia, maka Allah menghilangkan kesedihannya nanti pada hari kiamat. Sebab, Allah akan menolong seorang hamba selagi dia mau menolong saudaranya yang muslim.” (Tanbīh al-Gāfilīn, hlm. 139-140).
Adapun beberapa contoh nyata welas asih kepada sesama muslim dari ulama salaf adalah sebagai berikut. Pertama, ketika Maymūn bin Maḥrān r.a. (tabiin) mendapatkan kabar tentang orang-orang yang teraniaya di daerah tertentu, maka beliau akan sakit karena hal itu. Bahkan, beliau dibesuk oleh orang-orang layaknya orang-orang yang sakit pada umumnya. Ketika disampaikan kepadanya bahwa Allah telah menolong orang-orang yang teraniaya itu dan menghilangkan kesusahan mereka, maka beliau langsung sembuh seketika itu. Kedua, ketika ada orang meminta doa kepada Śābit al-Bunānī r.a. (tabiin) untuk hajat tertentu, maka beliau akan terus-menerus mendoakan orang tersebut di dalam sujudnya hingga hajatnya terkabul (Tanbīh al-Mugtarrīn, hlm. 49). Wallāhu A‘lam wa A‘lā wa Aḥkam