Orang tua sering berkata ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Namun, bagaimana jika “yang terbaik” justru menjadi sumber luka yang diwariskan? Pertanyaan itu akan dijawab di film Aku Sebelum Aku sebuah persembahan dari Gina S. Noer yang baru tayang di Netflix. Film ini bercerita tentang pencarian diri ke dalam terkait dinamika orang tua dan anak. Tokoh utamanya, Jati seorang anak yang berprestasi tapi terpenjara dalam imajinasi dan persepsi kesuksesan dan kebahagiaan ayahnya. Ayahnya rela berkorban apa pun demi bisa mendampingi keberhasilan Jati, bahkan sampai resign dan memilih tempat kerja dekat dengan sekolah anaknya.
Namun, di balik pengorbanan yang tampak lahir dari cinta itu, tersimpan konflik yang jauh lebih dalam. Film ini memperlihatkan bahwa persoalan dalam keluarga tidak pernah selesai hanya dengan saling meminta maaf. Penyelesaiannya melibatkan banyak unsur: peran ibu, lingkungan sekolah, tradisi masyarakat, teman-teman, bahkan dimensi spiritualitas. Semua itu dirangkai menjadi alur cerita yang perlahan mengguncang batin penontonnya.
Film ini banyak merespon isu sosial yang sering kita jumpai, di antaranya yang membekas dalam batin saya ialah terkait Intergenerational Trauma yaitu fenomena psikologis ketika luka masa lalu yang belum selesai menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pola pengasuhan dan berisiko berulang antargenerasi. Luka trauma itu tidak selalu diwariskan lewat kekerasan, tetapi juga lewat kontrol, tuntutan, dan ekspektasi yang berlebihan pada anak. Kondisi seperti ini, membuat orang tua sering tanpa sadar mengulang pola yang pernah mereka alami. Mereka mengira sedang mendidik, padahal sedang mengulang luka yang belum sempat mereka sembuhkan. Sementara itu, anak membutuhkan ruang untuk mengenal dirinya, memilih jalannya dan bertumbuh menjadi dirinya sendiri sesuai dengan semangat dan tuntunan zamannya.
Di sinilah, film ini menurut bacaan saya benar-benar berusaha mewujudkannya wasiat Socrates yang dikutip oleh Syahrastani dalam kitab Al-Milal wa al-Nihal: “Janganlah kalian memaksa anak-anak kalian untuk mengikuti jejak kalian, karena mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dari zaman kalian.”
Artinya problem kuasa orangtua terhadap anak itu tidak terjadi di zaman sekarang saja, tapi sudah terjadi sebelum Masehi. Saking pentingnya nasihat itu, sampai-sampai setiap zaman ada nasihat yang hampir mirip, seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib pun pernah dikabarkan berkata, “Didiklah anakmu sesuai zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu.”
Nasihat serupa pun pernah disampaikan oleh Kahlil Gibran (seorang penyair kenamaan akhir abad 19 dan awal abad 20) dalam sebuah syair berjudul, Anakmu Bukan Milikmu di situ ada satu penyataan puitis yang menarik, begini katanya:
“Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri. Patut kau berikan rumah pada raganya, namun tidak bagi jiwanya, sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tidak dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu.”
Artinya bagi orangtua berdamai dengan masa lalu adalah salah satu langkah untuk memutus rantai trauma agar tidak mewariskan luka bagi anak, tapi mewariskan cinta. Dan jika anak kita terluka disebabkan pola asuh yang kurang tepat, maka jangan sampai seperti Al-Qur’an singgung, anak selain menjadi penyejuk mata juga berpotensi menjadi fitnah, bahkan musuh orang tuanya.
Saya ingin menutup ulasan sederhana ini dengan sebuah pernyataan, “Warisan terbesar orang tua bukanlah prestasi anak, melainkan ruang batin yang membuat anak merasa dicintai. Sebab yang paling lama hidup bukanlah harta, melainkan cara kita mencintai dan mendidiknya. Luka pun bisa diwariskan, tetapi cinta juga dapat diwariskan. Dan pilihan itu selalu berada di tangan kita sebagai orang tua.”
Saya senang sekali ikut terlibat dalam proses kreatif film ini. Selamat menonton semuanya. Semoga bermanfaat. Tabik