Perbincangan sufisme tidak hanya berpusat pada tasawuf falsafi dan tasawuf sunni. Terdapat pula tasawuf salafi, yang mungkin kurang mendapat perhatian dan sering luput dari perbincangan para pengkaji tasawuf. Hamdan Maghribi dalam bukunya: Tasawuf Salafi: Rekontruksi Tasawuf Ibn Taimiyyah, mengatakan narasi tasawuf salafi sering dikategorikan dalam tasawuf sunni, padahal keduanya memiliki epistemologi yang berbeda.
Tasawuf salafi merupakan corak tasawuf yang melandaskan ajarannya pada Al-Qur’an, sunah, dan al-salaf al-salih secara ketat. Serta memiliki semangat dalam “memurnikan” praktik-praktik tasawuf yang menyimpang dari ajaran Islam. Fazlur Rahman, menamakan corak salafi dalam tasawuf dengan istilah neo-sufisme, yang menekankan adanya keserasian antara habl min Allah dan habl min al-nas. Tokoh tasawuf salafi mayoritas bermazhab fikih Ahmad ibn Hanbal (Hanabilah). Sedangkan mayoritas mazhab Hanabilah memiliki kecenderungan anti-sufi. Lantas, bagaimana dengan istilah “tasawuf salafi”?
Maghribi dalam bukunya yang merupakan hasil dari penelitian disertasinya memberikan alternatif argumentasi dalam merespon polemik sufi dan anti-sufi dalam salafi. Ia membabarkan, memang ada beberapa tokoh salafi yang terang-terangan menentang tasawuf, yang paling mencolok adalah Ali ibn al-Jauzi, hal ini dapat dilihat melalui karyanya Talbis Iblis yang sebagian diskusinya berisi kritik praktik tasawuf serta penolakan terhadap tokoh-tokoh sufi. Namun perlu dicatat, terdapat pula pengikut Hanabilah yang kompromistis terhadap tasawuf, salah satunya adalah Ibn Tamiyyah.
Kajian ilmiah tentang Ibn Taimiyyah dan tasawuf telah banyak didiskusikan oleh para pengkaji tasawuf, kajiannya seputar pada ranah apakah ia sufi atau anti-sufi dan kritikannya pada praktik tasawuf. Namun, Maghribi dengan kejeliannya telah menemukan mutiara-mutiara pengetahuan tentang Ibn Taimiyyah dan tasawuf, temuan ini perlu dipahami oleh para akademisi, pengkaji tasawuf, pengikut Ibn Taimiyyah yang anti tasawuf, pengikut tarekat yang anti Ibn Taimiyyah, untuk memperkaya khazanah keilmuan dan kehidupan spiritual muslim.
Tasawuf: Tangga Menuju Tuhan
Hemat saya, tasawuf dalam Islam merupakan salah satu tangga menuju Tuhan. Mafhum, jalan menuju Tuhan dalam Islam termaktub dalam perangkat dasar agama Islam seperti: al-iman, al-islam, dan al-ihsan. Jika ilmu akidah dan kalam perwujudan dari al-iman, dan ilmu fikih dan syari’at perwujudan dari al-islam, maka ilmu tasawuf perwujudan dari al-ihsan, yakni beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak melihat-Nya, maka Dia melihatmu. Ketiga perangkat tersebut sudah seharusnya tertanam dalam tubuh kita agar menjadi muslim sejati.
Pada kesempatan ini, tasawuf dan Ibn Taimiyyah yang akan menjadi bahan perbincangan. Maghribi menegaskan bahwa Ibn Taimiyyah tidak melakukan penolakan terhadap tasawuf, namun memiliki corak tasawuf yang berbeda (h. 27). Hal ini penting untuk kita pahami, perbedaan suatu pandangan atau pendapat merupakan bagian dari dinamika kehidupan, tidak semua “perbedaan” diartikan sebagai bentuk “penolakan”. Ibaratnya, kita pernah menolak cinta salah satu perempuan dengan alasan tidak sesuai kriteria kita, hal ini bukan berarti kita melakukan penolakan terhadap semua perempuan. Sebab, penolakannya terletak pada “kriteria” bukan perempuannya. Begitu, Ibn Taimiyyah, dalam tasawuf penolakannya terletak pada “praktik” bukan tasawufnya.
Ibn Taimiyyah melalui beberapa karya memang melakukan kritik pedas kepada para sufi dan beberapa praktik tasawuf yang dianggap menyimpang dari sunah, khususnya tasawuf falsafi dengan tokohnya seperti Ibn ‘Arabi dan al-Hallaj. Namun, ia juga apresiatif terhadap hasil ijtihad pada ulama tasawuf yang tidak bertentangan dengan Islam. Ia juga memiliki kontruksi tasawuf yang disampaikan melalui karya-karyanya.
Tasawuf Menurut Ibn Taimiyyah
Ibn Taimiyyah tidak menyebutkan secara langsung definisi tasawuf. Tapi, ia berpendapat tentang tasawuf, bahwa; terdapat golongan yang mencela kaum sufi dengan mengatakan ahli bid’ah karena telah keluar dari tuntunan sunah. Dan, terdapat golongan yang fanatik terhadap kaum sufi, sampai menganggap mereka (kaum sufi) adalah hamba pilihan Tuhan yang terbaik sesudah para Nabi. Menurutnya, yang disebut kaum sufi adalah mereka yang bersungguh-sungguh beribadah sesuai kemampuannya.
Hal ini berbeda dengan al-Ghazali yang secara jelas dan tegas memberikan definisi tasawuf, yakni mengosongkan hati dari segala sesuatu selain Allah, menganggap rendah segala sesuatu selain Allah, dan akibat dari sikap ini mempengaruhi pekerjaan hati dan anggota badan (baca: Ihya’ Ulum ad-Din). Ia menegaskan bahwa jalan para sufi tidak dapat dicapai hanya dengan belajar, tetapi harus dengan dzauq yang dimulai dengan melakukan mujahadah (perjuangan batin) dan riyadhah (olah batin).
Meskipun Ibn Taimiyyah tidak mendefinisikan tasawuf secara eksplisit, namun ia mengklasifikasian barisan kaum sufi. Pertama, golongan al-sabiqun bi al-khairat (paling tinggi). Kedua, golongan ahl al-yamin (pertengahan). Ketiga, golongan ahli bid’ah dan zindiq yang berafiliasi tasawuf. Namun, sebagian ulama sufi tidak mengakui keberadaan golongan yang ketiga (ahli bid’ah dan zindiq).
Dari sini dapat dipahami bahwa Ibn Taimiyyah bukanlah orang yang anti tasawuf. Sisi apresiatif Ibn Taimiyyah dapat dilihat pada masa kecilnya yang aktif berkumpul dengan sekumpulan orang ahli zuhud dan ibadah. Tidak heran jika keaktifan Ibn Taimiyyah bergaul dengan sufi menimbulkan pengaruh yang sangat kuat bagi pekembangan pendidikan ruhaninya, seperti sikap zuhud dan wara'. Namun, pada sisi lain Ibn Taimiyyah telah melakukan kritik pedas dan tegas terhadap praktik tasawuf yang bertentangan dengan ajaran Islam. Seperti, ajaran hulul, ittihad, dan wahdah al-wujud yang sering kita temui dalam tasawuf falsafi.