Kini, kita hidup di era yang menjunjung tinggi rasionalitas dan ilmu pengetahuan. Segala sesuatu diukur dengan logika, diuji lewat data, dan ditimbang dengan standar objektivitas. Dalam lanskap dunia yang serba empiris ini, spiritualitas kerap dianggap sebagai sesuatu yang usang, kurang sahih secara ilmiah dan tak cukup relevan dalam percakapan publik yang modern.
Doa, misalnya, kerap dipandang tak lebih dari mekanisme pelarian psikologis—semacam cara manusia menenangkan diri saat merasa tak berdaya menghadapi kenyataan hidup. Karl Marx, dalam pernyataannya yang masyhur, menyebut agama sebagai “candu masyarakat”, opium yang membuat manusia terlena dalam khayalan surgawi, sambil melupakan luka-luka sosial yang nyata di sekitarnya. Kritik Marx ini, menurut saya, justru relevan—bukan sebagai serangan terhadap agama itu sendiri, melainkan terhadap cara sebagian pemeluk agama yang menjadikan ritus dan kepercayaan sebagai tameng kemalasan atau pelarian dari tanggung jawab sosial.
Namun akan keliru jika pandangan ini digeneralisasi seolah doa selalu identik dengan kepasrahan pasif. Sebab, dalam tradisi Islam itu sendiri, doa justru merupakan pernyataan eksistensial tentang keterbatasan manusia di hadapan Realitas yang lebih besar darinya. Ia bukan penyangkalan atas kenyataan, tapi bentuk keberanian untuk menghadapinya. Nabi Muhammad bersabda, “Doa adalah intisari ibadah” (HR. Tirmidzi), bukan karena ia satu-satunya laku, tetapi karena ia menjadi ruh dari segala gerak. Doa, dalam makna ini, bukan penenang yang meninabobokan, tetapi kesadaran mendalam yang membangkitkan keberanian untuk bertindak.
Doa juga bukan bentuk eskapisme dari kenyataan, tetapi justru titik awal keterlibatan yang sadar terhadap kenyataan. Doa adalah pertemuan paling jujur antara manusia dengan keterbatasannya dan Tuhan dengan segala kebesaran-Nya. Di dalamnya ada keikhlasan, ada keberanian, dan ada kesadaran bahwa kita hidup dalam dunia yang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya, namun tetap harus dijalani dengan penuh makna.
Sebagaimana dikatakan oleh filsuf eksistensialis Søren Kierkegaard “Prayer does not change God, but it changes the one who prays.” (Quote ini sering saya jumpai di Medsos seperti di Instagram), doa tidak mengubah kehendak Tuhan, melainkan mengubah struktur batin orang yang berdoa. Kutipan ini punya makna yang kuat, karena ia memindahkan makna doa dari yang bersifat magis menjadi eksistensial. Doa bukan alat transaksi, melainkan alat transformasi. Di dalam proses doa, manusia digugat: untuk lebih jujur pada dirinya sendiri, untuk menyelami ketakutannya, dan pada akhirnya, untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih tenang, dan siap memula aksi.
Saya pribadi sering memaknai doa sebagai bentuk keberanian spiritual yang tidak kalah radikalnya dibanding protes atau aksi sosial. Ketika seseorang berdoa dalam kondisi hidup yang serba tak pasti, seperti misalnya tatkala sedang menghadapi ekonomi yang terpuruk, relasi hancur dan masa depan suram, berdoa bukanlah ekspresi kelemahan, melainkan keputusan untuk tidak menyerah, sebab kita memilih untuk tetap berharap, meski tahu bahwa tidak ada jaminan pasti akan hasilnya. Dengan berdoa juga, mentalitas kita seharusnya dapat berkembang secara lebih kuat sebab merasa kalau dalam istilah anak zaman sekarang bolone pusat.
Dalam sejarah Islam sendiri, kita bisa melihat bahwa Nabi Muhammad saw tidak pernah menjadikan doa sebagai pengganti dari usaha. Beliau adalah manusia yang sangat spiritual, tetapi juga sangat strategis. Doa-doanya penuh harapan dan ketundukan, tetapi langkah-langkahnya selalu rasional dan terukur. Dalam satu riwayat, ketika sahabat bertanya apakah mereka cukup berdoa tanpa menjaga untanya, Nabi menjawab: “Ikatlah dulu untamu, lalu bertawakkallah”(HR. Tirmidzi). Dalam hadis ini terlihat jelas bahwa doa tidak menggantikan posisi usaha atau ikhtiar, tetapi mengiringi dan memberi ruh padanya.
Dengan demikian, ketika kita memaknai doa secara aktif, kita tidak sedang menjadikan doa sebagai penenang semu. Kita sedang menjadikannya sebagai sumber keberanian. Doa memberi arah kepada gerak. Ia tidak hanya menjadi kompas moral, namun juga menjadi cahaya batin yang mencegah kita dari hidup yang hanya dikendalikan oleh nafsu, dendam, atau kekosongan. Tanpa doa, hidup menjadi mekanistik, maksudnya penuh gerak, tapi kehilangan tujuan, penuh ambisi, tapi hampa makna.
Saya tidak menyangkal bahwa sebagian orang menjadikan doa sebagai ganti dari usaha. Mereka berdoa agar nasib berubah, tapi tetap diam dalam kemalasan. Mereka berharap tanpa bergerak, meminta tanpa mempersiapkan diri. Namun itu bukan cacat dari hakikat doa itu sendiri tapi itu cacat dari pemaknaannya. Sama seperti seseorang yang membaca buku hanya untuk formalitas, atau yang menyembah Tuhan hanya karena takut hukuman. Bukan ajarannya yang salah, tapi cara manusia menjalaninya yang perlu dikritisi.
Akhirnya, saya ingin menegaskan bahwa doa bukan candu. Ia adalah cahaya. Bukan cahaya yang menyilaukan untuk melupakan kenyataan, tetapi cahaya yang cukup terang untuk menuntun kita dalam gelapnya kenyataan itu sendiri. Ketika doa dipahami secara aktif, ia menjadi lompatan iman, bukan lompatan dari realitas. Ia akan membentuk karakter dan menyadarkan kita bahwa hidup bukan tentang kepastian, tetapi tentang kesetiaan pada perjuangan yang bermakna. Wallahu a’lam.