ARTIKEL

Mati Sebagai Hidup yang Sejati

Mei 25, 2026
5 menit membaca

“(Dia) Yang menciptakan maut dan kehidupan untuk menguji kalian: siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk [67]: 2)

Ayat ini biasanya dipahami secara sederhana: manusia hidup, lalu mati, dan selama hidup itu ia diuji. Tetapi dalam perspektif metafisika Islam, khususnya dalam pemikiran Ibn ‘Arabī dan diperluas oleh tradisi hikmah serta gagasan tasawuf pada umumnya, ayat ini mengandung kedalaman yang jauh lebih besar.

Apa pasal? Sebab “maut” di sini tidak hanya menunjuk pada kematian biologis di akhir usia, melainkan mengungkap—setidaknya dua nama—makna yang sama sekali lain. Dalam konteks ini, Al-Qur’an secara sangat subtil mendahulukan maut sebelum hayat: “khalaqa al-mawta wa al-hayāt.”

Yang satu menunjuk kepada masa ke(-tidak)-beradaan manusia sebelum penciptaan atau tajalli. “Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia akan mematikan kamu, Dia akan menghidupkan kamu kembali, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan?” (QS. Al-Baqarah [2]: 28)

Di sini manusia disebut “mati” sebelum hidup biologisnya. Maka “mati” jelas tidak selalu berarti “bekas hidup lalu berhenti”, tetapi juga keadaan pra-kehidupan aktual. Dalam horizon metafisik tertentu, ia bahkan bisa dipahami sebagai “kembali” kepada asal. Karena “mawt” di sini bermakna keadaan potensial, ketaktertampakan, atau non-manifestasi sebelum kehidupan aktual muncul.

Itulah sebabnya para sufi seperti Ibn ‘Arabi sering menafsirkan mawt bukan sekadar akhir biologis, melainkan: fana’, lenyapnya ego, perpindahan tingkat eksistensi, atau kembalinya sesuatu dari manifestasi menuju asalnya.

Tapi, dengan ayat itu juga Allah sekaligus  ingin mengatakan bahwa kehidupan di alam tajallī pun hanya mungkin berlangsung melalui mekanisme maut. Satu bentuk harus lenyap agar bentuk lain muncul. Tanpa runtuhnya forma lama, tidak ada tajallī baru. Dalam kedua pengertian ini, maut bukan negasi kehidupan, melainkan asal, bahkan syarat, ontologisnya.

Dalam makna yang disebut terakhir, ujian hanya mungkin terjadi dalam dunia yang berubah. Jika forma-forma tetap dan tidak pernah berganti, maka tidak ada ruang bagi aktualisasi diri.

Dalam alam tajallī, tidak ada bentuk yang tetap. Segala sesuatu berada dalam arus pembaruan tanpa henti. Allah tidak ber-tajallī dalam manifestasi yang sama dua kali (la tikrar  fit-tajallī). Karena itu, alam bukan benda statis, melainkan aliran penciptaan terus-menerus. Apa yang kita sebut hidup sebenarnya adalah pergantian bentuk demi bentuk, keadaan demi keadaan, identitas demi identitas. Setiap momen adalah kelahiran baru sekaligus kematian baru.

Tubuh kita berubah, pikiran kita berubah, emosi kita berubah, keyakinan kita berubah, bahkan sel-sel tubuh kita terus mati dan diperbarui. Anak kecil “mati” untuk menjadi remaja. Remaja “mati” untuk menjadi dewasa. Orang sehat “mati” dalam sakitnya, dan orang kuat “mati” dalam kelemahannya. Dalam arti tertentu, hidup duniawi bukanlah lawan dari kematian, melainkan justru rangkaian kematian-kematian kecil yang memungkinkan lahirnya bentuk-bentuk baru.

Keberanian tidak akan pernah teruji tanpa bahaya. Kesabaran tidak pernah lahir tanpa penderitaan. Syukur tidak bermakna tanpa kemungkinan kehilangan. Ikhlas tidak tersingkap tanpa godaan riya. Semua kualitas rohani manusia hanya tampak ketika bentuk-bentuk kehidupan berubah dan mengguncang kestabilan dirinya.

Karena itu, ujian kehidupan—selain sebagai “tes moral” eksternal—adalah proses penyingkapan hakikat batin manusia melalui perubahan forma-forma eksistensial. Kehidupan adalah wahana tajallī. Setiap kehilangan, perpindahan, keretakan, dan kehancuran bentuk adalah medan di mana perspektif yang tersembunyi dalam jiwa menjadi nyata.

Dalam perspektif ini, maut ternyata bukan sekadar akhir kehidupan, tetapi denyut terdalam kehidupan itu sendiri. Tanpa maut dalam makna tajaddud al-shuwar—pembaruan forma-forma—manusia akan membeku dalam satu keadaan tetap. Tidak ada becoming, tidak ada perjalanan rohani, tidak ada penyingkapan diri. Kehidupan akan menjadi stagnasi tanpa sejarah dan tanpa ujian.

Karena itu, dunia adalah arena fana’ yang terus-menerus. Tetapi fana’ itu bukan nihilisme. Dengan runtuhnya bentuk-bentuk lama, manusia diberi kemungkinan untuk tumbuh, disucikan, dan ditarik menuju bentuk keberadaan yang lebih tinggi.

Selama manusia hidup, selama forma-forma masih bergerak dan berubah, selama kemungkinan masih terbuka, selama hijab belum sepenuhnya tersingkap, maka manusia masih berada dalam medan ibtilā’ (ujian). Ia masih dapat bertobat, jatuh, bangkit, mengkhianati, memurnikan diri, atau berubah arah.

Tetapi, yang tidak kalah—bahkan lebih penting—adalah maut dalam arti keberadaan yang secara relatif sudah (makin) tak tersentuh perubahan. Ketika ajal tiba, sesuatu yang mendasar berhenti. Di sana manusia tetap “menjadi”; tetapi bukan dalam bentuk masih memiliki ruang bagi ikhtiar dan perubahan dalam tantangan ujian-ujian hidup, melainkan ia menuai bentuk yang telah dibangunnya sepanjang hidup dalam bentuk menjasad/membadannya amal-amal (tajassud/tajassum al-a’mal).

Pengetahuan berubah menjadi penyaksian. Ujian pun berhenti, namun tajallī Ilahi sendiri tidak pernah berhenti. Yang berhenti hanyalah ujian dalam bentuk duniawi itu.

Hidup setelah mati, dengan demikian bukan sebuah stagnasi, tetapi sebagai kelanjutan perjalanan dalam bentuk lain: kenaikan derajat tanpa akhir, penyingkapan demi penyingkapan, makrifat yang terus bertambah. Sebab Wujud Ilahi tertinggi (yang bisa dicapai manusia)—dan yang menjadi tujuan—tidak memiliki batas untuk disingkap.

Perjalanan di alam baru ini bisa jadi melibatkan ‘adzab (siksa) di barzakh dan di akhirat, sebagai wahana pemurnian dan peningkatan derajat, sebagai pengganti ibtila’ di dunia. Tapi, di sini azab tetap merupakan bagian dari proses pemurnian—yang sekarang bersifat idhtirari (paksa), bukan ikhtiyari (suka rela) lagi. Agar pada akhirnya manusia bisa mati lagi—dalam makna kembali sempurna, kepada keilahian, sebagaimana dia sebelumnya berasal dari Tuhan.

Dalam makna  ini, mati adalah kesejatian, kekekalan yang tak tersentuh perubahan dan kefanaan. Dalam bahasa tasawuf: fana’ membuka jalan bagi baqa’.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Penulis belum menambahkan bio / deskripsi profil pada pengaturan akunnya.

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan