Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Kaum Malamati Menurut Ibn ‘Arabi

Makrifat Salat Menurut Syekh Muhammad Nawawī al-Jāwī (Bagian 1)

Sayyid ‘Ulamā’ al-Ḥijāz (Pemuka Para Ulama Hijaz; Makkah-Madinah), Syekh Muhammad Nawawī al-Jāwī, menyebutkan bahwa syarat utama diterimanya sebuah ibadah (oleh Allah) adalah ikhlas. Jika seorang hamba melaksanakan ibadah secara tidak ikhlas, maka dia tidak akan mendapatkan pahala dari Allah meskipun ibadahnya tersebut sah secara lahiriah. Sebab, riyā’ dalam setiap amal ibadah adalah haram. Jika ibadah diibaratkan dengan pohon, maka ikhlas adalah buahnya. Syarat (dalam ibadah) adalah akarnya. Rukun adalah batangnya. Sunah ab‘āḍ (perbuatan sunah yang jika ditinggalkan disunahkan sujud sahwi) adalah rantingnya yang besar. Sunah hay’āt (perbuatan sunah yang jika ditinggalkan tidak perlu sujud sahwi) adalah rantingnya yang kecil dan dedaunannya. Sebuah pohon tidak akan tumbuh tanpa akar. Ia juga tidak akan dikatakan pohon jika tidak memiliki ranting-ranting. Ketika ranting-rantingnya banyak, maka berarti pohonnya besar. Ketika pohon itu berbuah, maka tercapailah tujuan orang yang menanam pohon itu (Sullam al-Munājāh, hlm. 19).

Menurut Syekh Nawawī, ibadah dalam Islam ada yang berupa ucapan (seperti syahadat) dan ada yang berupa non ucapan, baik pelaksanaannya dengan meninggalkan/menahan (seperti puasa) maupun dengan mengerjakan. Ibadah yang berupa non ucapan yang pelaksanaannya dengan mengerjakan ada yang bersifat badaniah (seperti salat), harta (seperti zakat), dan gabungan dari keduanya (seperti haji). Ibadah badaniah sendiri ada yang bersifat lahir (al-‘ibādāt al-badaniyyah aẓ-ẓāhirah) dan ada yang bersifat batin (al-‘ibādāt al-badaniyyah al-qalbiyyah). Pertama, ibadah badaniah yang bersifat lahir, yaitu salat, puasa, haji, dan zakat. Adapun ibadah badaniah lahiriah yang paling utama adalah salat. Berikutnya adalah puasa, haji, dan zakat. Oleh karena itu, salat fardu merupakan ibadah fardu yang paling utama, dan salat sunah merupakan ibadah sunah yang paling utama. Kedua, ibadah badaniah yang bersifat batin, yaitu iman, makrifat, tafakur, tawakal, sabar, harapan (terhadap kasih sayang dan ampunan Allah), rida terhadap qada dan kadar, mencintai Allah, tobat, dan membersihkan diri dari sifat-sifat buruk (seperti tamak dan lainnya). Ibadah badaniah yang bersifat batin ini lebih utama daripada ibadah badaniah yang bersifat lahir termasuk salat sekalipun (Tanqīḥ al-Qawl al-Ḥaśīś fī Syarḥ Lubāb al-Ḥadīś, hlm. 25 dan Kāsyifah as-Sajā, hlm. 5-6).

Baca Juga:  Mencintai Makhluk, Dicintai Khalik (Bagian 1)

Adapun ibadah yang paling utama di antara semua ibadah tersebut (baik lahirian maupun batiniah) adalah iman kepada Allah. Menurut Syekh Nawawī, iman sendiri memiliki lima tingkatan. Pertama, īmān taqlīd, yaitu meyakini dan mengikuti pendapat orang lain tentang akidah-akidah keislaman tanpa mengetahui dalilnya. Status iman taklid ini adalah sah. Namun, seorang mukmin yang tidak mau mencari tahu tentang dalil atas keimanannya (yang didapatkan dari pendapat orang lain) tersebut; padahal dia mampu untuk melakukannya, maka dia berdosa. Kedua, īmān ‘ilm, yaitu mengetahui akidah-akidah keislaman dengan dalil-dalinya. Iman ilmu ini termasuk ‘ilm al-yaqīn. Orang-orang yang berada pada tingkatan iman taklid dan iman ilmu adalah sama-sama terhijab dari Zat Allah. Ketiga, īmān ‘iyān, yaitu mengetahui Allah berdasarkan pengamatan (murāqabah) hati. Oleh karena itu, mukmin yang berada pada tingkatan iman ‘iyān ini akan senantiasa mengingat Allah. Sebab, pikirannya tidak akan pernah melupakan Allah meskipun hanya sekejap mata, bahkan kemuliaan Allah senantiasa terasa di dalam hatinya seakan-akan dia melihat-Nya. Iman ‘iyān ini merupakan maqām murāqabah dan disebut ‘ayn al-yaqīn (Kāsyifah as-Sajā, hlm. 6 & 9).

Keempat, īmān ḥaqq, yaitu melihat Allah dengan mata batin(hati)nya. Orang yang berada pada tingkatan iman ḥaqq ini akan terhijab dari sekalian makhluk. Sebab, dia melihat Allah dalam segala sesuatu. Iman ḥaqq ini merupakan maqām musyāhadah dan disebut ḥaqq al-yaqīn. Kelima, īmān ḥaqīqah, yaitu tenggelam (fanā’) di dalam Allah dan mabuk di dalam cinta-Nya. Oleh karena itu, orang yang berada dalam tingkatan iman ḥaqīqah ini tidak melihat siapa pun selain Allah. Hal ini sama dengan orang yang tenggelam di dalam lautan sehingga dia tidak bisa melihat pantai lagi. Dari kelima tingkatan iman tersebut, tingkatan iman yang wajib dimiliki oleh seorang muslim adalah iman taklid atau iman ilmu. Adapun tingkatan iman ‘iyān, ḥaqq, dan ḥaqīqah merupakan ilmu ketuhanan yang hanya dianugerahkan kepada orang-orang yang dihendaki oleh Allah (hlm. 9).

Baca Juga:  Saluran Cerna yang Menakjubkan

Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa segala sesuatu pasti ada panji-panjinya, dan panji-panjinya iman adalah salat. Oleh karena itu, beliau mewanti-wanti umatnya agar berhati-hati dalam urusan salat, yaitu dengan cara mempelajari rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, sunah ab‘āḍ-nya dan hay’āt-nya, dan menegakkannya tepat pada waktunya. Syekh Nawawī―mengutip pendapat seorang sahabat bernama ‘Abdullāh bin Gassān―menyebutkan bahwa salat menghimpun semua ketaatan dalam Islam, seperti jihad, puasa, dan haji. Pertama, di dalam salat ada jihad. Sebab, orang yang melaksanakan salat (muṣallī) berjihad melawan dua musuh sekaligus, yaitu hawa nafsu dan setan. Kedua, di dalam salat ada puasa. Sebab, muṣallī tidak makan dan minum. Bahkan, salat melebihi puasa karena muṣallī tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga bermunajat kepada Tuhannya. Ketiga, di dalam salat ada haji, yaitu menuju Baitullah. Adapun muṣallī menuju Tuhannya Baitullah. Bahkan, salat melebihi haji karena muṣallī begitu dekat dengan kerajaan Tuhannya (Tanqīḥ al-Qawl, hlm. 25 & 4).

Salat merupakan manifestasi penghambaan kepada Allah dan pemenuhan terhadap hak ketuhanan. Adapun ibadah-ibadah yang lain merupakan sarana untuk mewujudkan rahasia-rahasia salat. Selain itu, salat merupakan koneksi batin antara seorang hamba dan Tuhannya, menjadi tempat munajat dan sumber ekspresi ketulusan cinta seorang hamba kepada Tuhannya, dan membersihkan hati dari kotoran dosa-dosa. Oleh karena itu, tidak ada satu pun sesuatu dalam urusan agama yang lebih agung daripada salat. Orang yang melaksanakan salat akan mendapatkan kebaikan yang melimpah, baik di dunia maupun di akhirat. Sebab, salat memiliki beberapa manfaat, di antaranya: pertama, doa-doa akan diijabah dan amal-amal baik akan diterima. Kedua, memberikan keberkahan terhadap rezeki. Ketiga, memberikan ketenteraman terhadap jasmani. Keempat, menjadi pelindung dari api neraka. Kelima, memperberat timbangan kebaikan di akhirat. Keenam, sukses melewati sirat di akhirat. Ketujuh, menjadi kunci untuk masuk surga (Tanqīḥ al-Qawl, hlm. 25 & 4 dan Sullam al-Munājāh, hlm. 19).

Baca Juga:  Al-Qur’an sebagai Sumber Pengetahuan (Bagian 3)

Nabi Muhammad saw. bersabda, “Orang yang melaksanakan salat itu sungguh sedang mengetuk pintunya Paduka Raja Yang Maha Mulia (Allah). Barang siapa yang terus-menerus mengetuk sebuah pintu, maka hampir pasti pintu itu akan dibuka untuknya.” (Naṣā’iḥ al-‘Ibād, hlm. 71) Syekh Nawawī―mengutip pendapat Syekh Muhammad bin ‘Alī at-Tirmiżī―menyebutkan bahwa Allah akan menyambut hamba-hamba-Nya secara khusus dalam salat. Oleh karena itu, setiap muslim seharusnya menghadap Allah dalam keadaan rendah diri, pengakuan dan penyerahan diri, merendahkan diri untuk menarik simpati Allah, tunduk, khusyuk, mengharap dengan penuh cinta, dan menyanjung-nyangjung agar Allah menyambutnya dengan kasih sayang, penerimaan, kemurahan, dan kedekatan. Semua kondisi tersebut ada di dalam salat. Dalam hal ini, berdiri (ketika salat) merupakan manifestasi kerendahan diri di hadapan Allah. Takbir merupakan manifestasi pengakuan dan penyerahan diri kepada Allah. Pujian dan tilawah merupakan manifestasi merendahkan diri untuk menarik simpati Allah. Rukuk merupakan manifestasi ketundukan kepada Allah. Sujud merupakan manifestasi kekhusyuan kepada Allah. Duduk (ketika salat) merupakan manifestasi pengharapan dengan penuh cinta kepada Allah. Tasyahud merupakan manifestasi sanjungan kepada Allah (Sullam al-Munājāh, hlm. 19). Wallāhu A‘lam wa A‘lā wa Aḥkam...

Previous Article

Dari Ramadhan ke Ramadhan Jua (Bagian 2)

Next Article

Makrifat Salat Menurut Syekh Muhammad Nawawī al-Jāwī (Bagian 2)

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *