Saya sudah lama berpikir bahwa ibadah mahdhah—ibadah ritual—juga membutuhkan kebugaran fisik. Yang segera terbayang tentu ibadah haji, dengan rangkaian kegiatan yang menuntut banyak berjalan dan bergerak. Tetapi mungkin puasa pun memerlukan tubuh yang terjaga kesehatannya. Begitu juga shalat, terutama shalat-shalat yang panjang atau banyak rakaatnya.
Bila tubuh tidak fit, kita bisa menjadi malas beribadah. Kalaupun tetap melakukannya, mungkin yang kita inginkan hanya agar ibadah itu lekas selesai. Bagaimana kita dapat khusyuk jika pikiran dan tubuh terus mendesak agar semuanya segera berakhir? Bahkan dalam shalat lima waktu, yang tidak terlalu berat secara fisik, ketergesaan itu bisa memupus kekhusyukan.
Tentu, kebugaran bukan satu-satunya syarat khusyuk. Ada banyak hal yang memengaruhi hadirnya hati: pemahaman, ketenangan batin, perhatian, dan kemampuan menghayati apa yang kita baca dan lakukan. Tetapi tubuh adalah tempat kita menjalankan ibadah. Jika tubuh terus terasa berat, lemah, dan enggan bergerak, usaha menghadirkan hati pun dapat menjadi lebih sulit.
Dalam pembicaraan tentang mujahadah sebagai salah satu pilar bertasawuf, dikenal latihan untuk mengendalikan empat hal: tidak terlalu banyak makan, tidur, berbual, dan bergaul tanpa tujuan. Dua yang pertama dapat dipandang berpasangan, begitu pula dua yang terakhir. Terlalu banyak makan bisa membuat kita mengantuk dan tidur berlebihan. Terlalu banyak berkumpul tanpa arah bisa membuat kita larut dalam percakapan yang tak ada habisnya.
Namun, pasangan makan dan tidur itu juga berkaitan dengan kebugaran. Jika kita terus makan berlebihan, lalu banyak tidur dan kurang bergerak, tubuh mudah terasa berat. Kita menjadi mager—malas bergerak. Padahal, makin jarang tubuh digunakan, makin berkurang pula kebiasaan dan kemampuannya untuk bergerak. Kebugaran melemah; pekerjaan sehari-hari terasa lebih berat; ibadah yang menuntut ketahanan fisik pun bisa terasa sebagai beban. Mager menghasilkan mager lebih jauh.
Maka, kalau boleh saya menafsirkan, di dalam latihan mengendalikan makan dan tidur itu tersimpan juga ajakan untuk menjaga tubuh tetap bugar. Bukan agar kita sibuk mengejar penampilan atau menjadikan olahraga sebagai tujuan pada dirinya sendiri, melainkan agar tubuh mampu menjadi sarana yang baik untuk menjalani kehidupan—termasuk kehidupan ibadah.
Islam mengajarkan keseimbangan dalam makan. Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk makan dan minum, tetapi tidak berlebih-lebihan (QS al-A‘rāf [7]: 31). Nabi juga mengingatkan bahwa tubuh mempunyai hak yang harus dipenuhi. Ketika ‘Abd Allāh ibn ‘Amr hendak berpuasa terus-menerus dan beribadah sepanjang malam, Nabi mengarahkannya agar berpuasa dan berbuka, beribadah dan tidur: tubuh, mata, dan keluarga memiliki hak atas dirinya.
Keseimbangan itu dapat diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari: makan secukupnya, tidur dengan teratur, berjalan kaki, melakukan peregangan, atau memilih aktivitas fisik yang sesuai dengan keadaan tubuh. Gerak badan—istilah yang dulu lebih sering kita dengar daripada “olahraga”—tidak selalu harus berupa latihan berat. Membiasakan diri berjalan, berdiri dan bergerak di sela-sela duduk, atau melakukan latihan ringan dengan teratur pun dapat menjadi awal yang baik. Yang penting, tubuh tidak dibiarkan semakin lama semakin pasif.
Saya sendiri merasa, salah satu sebab saya tidak mudah khusyuk beribadah mungkin adalah mager dan kurang bergerak. Usia yang bertambah membuat persoalan ini terasa lebih nyata. Orang yang semakin tua sering bergerak semakin sedikit; karena jarang bergerak, ia merasa semakin berat untuk bergerak. Kekuatan dan massa otot dapat berkurang, tubuh menjadi lebih lemah, lalu kegiatan yang dahulu terasa mudah kini membutuhkan usaha lebih besar. (Itu sebabnya sebagian ulama menganjurkan agar kita sudah menjadi seseorang yang dekat kepada Allah sejak muda. Bahkan ada yang mengatakan bahwa mendekat kepada Allah saat muda lebih mudah ketimbang sesudah menua. Mungkin soal fitness fisik ini juga merupakan salah satu faktornya).
Lingkaran setan mager bisa pelan-pelan dapat membuat hidup kita menyempit. Bukan hanya olahraga yang terasa berat. Berjalan, bepergian, mengurus keperluan sehari-hari, bahkan berdiri cukup lama dalam shalat pun bisa terasa semakin sulit. Padahal, bukan berarti orang yang menua harus memaksa diri berlatih seperti orang muda. Justru gerak perlu disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan tubuh: sedikit demi sedikit, aman, dan dilakukan secara teratur.
Bukankah seharusnya, semakin tua, malah kita harus semakin banyak beribadah untuk mendekat kepada Allah? Tidak harus semakin banyak, apalagi jika sudah lebih tua, tapi setidaknya semakin tekun, semakin sadar, semakin tulus, dan semakin pandai memanfaatkan kemampuan yang masih dianugerahkan kepada kita.
Alhasil, jangan sampai mager membuat kita semakin jarang bergerak, lalu gerak terasa semakin berat, tubuh semakin lemah, dan ibadah semakin terasa sebagai beban. Menjaga kebugaran dapat menjadi bagian dari mujahadah: latihan kecil untuk tidak selalu menuruti rasa malas, demi menjaga tubuh yang dititipkan Allah dan menggunakannya sebaik mungkin dalam ibadah.
Barangkali, bagi saya, langkah menuju kekhusyukan tidak hanya dimulai ketika berdiri di atas sajadah. Ia bisa dimulai lebih awal: dari makan secukupnya, tidur dengan tertib, dan menggerakkan tubuh—agar ketika tiba waktunya beribadah, tubuh tidak terus-menerus meminta agar semuanya lekas selesai, dan hati memiliki kesempatan lebih lapang untuk hadir di hadapan Allah.