ARTIKEL

Hari Kerehatan dan Ketenteraman

Penulis

Haidar Bagir
September 23, 2026
4 menit membaca

Sabtu pagi kemarin saya menziarahi makam almarhumah ibu saya, yang wafat enam hari sebelumnya. Seperti saat ketika memakamkan jenazah beliau “Catatan Seorang Anak Yang Tak Pernah Bisa Tak Menjadi Seorang Anak, Yang Ditinggalkan Ibunya”, saya seolah melihat bayangan ibu di barzakh, bebas bergerak, tanpa batasan ruang. Seperti terbang di ruang tanpa dimensi, meski mungkin lebih tepat dikatakan bahwa tak ada batas-batas ruang yang mengekangnya. Beliau seperti berada di suatu tempat, tapi sekaligus di mana saja.

Ibn ‘Arabi menyebut keberadaan barzakh sebagai keberadaan subyek yang masih terikat bentuk dan kejamakan, tapi tak lagi dibatasi oleh keberadaan wadag konkret yang menempati ruang. Wadag tak ada, ruang pun tak ada. Seperti bayangan di cermin. Masih menyimpan bentuk dan kejamakan, tapi tak seperti subyek di depan cermin yang direpresentasikan oleh bayangannya. Atau seperti wujud-wujud dalam mimpi. Wujud-wujud di alam ini masih mempertahankan sebagian sifat wujud-wujud di alam fisik tapi sudah lagi tak ber-wadag konkret.

Ibu saya memang kehilangan sesuatu, tapi kehilangannya justru membuatnya makin kaya. Karena yang hilang dari dirinya adalah justru sesuatu yang tadinya membatasinya. Memang, ketika di dunia, wadag diperlukan. Wadag adalah bejana indra, yang dengan itu manusia mempersepsi obyek-obyek fisik. Dan, betapa pun, obyek-obyek fisik adalah juga bejana tanda-tanda Allah. Karenanya, keberadaan manusia, di alam fisik, memberinya akses kepada pengetahuan tentang Allaah Swt.

Tapi, wadag adalah pedang bermata dua. Dia menjadi tuan rumah indra persepsi tapi sekaligus juga menyimpan daya negatif hawa nafsu. Hawa nafsu memang berpangkal dalam wadag, dalam badan. Wadag bisa memberikan pengetahuan, bahkan pengetahuan tentang Allaah Swt., tapi wadag juga yang menyimpan godaan ke arah kemaksiatan/pembangkangan kepada Allaah Swt.

Kenapa demikian? Apa hikmah dari keberadaan hikmah sebagai sumber hawa nafsu? Jawabannya terletak pada kenyataan bahwa (mati dan) hidup adalah ajang cobaan atau ujian:“(Dia/Allaah) Yang Menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian dalam hal penyelenggaraan amal-amal yang indah.” (QS. 67:2)

Tanpa hawa nafsu, tak ada tantangan yang bisa menjadi bahan ujian tersebut. Tinggal, apakah manusia menyiapkan diri untuk lulus atau gagal dalam ujian tersebut.

Nah, kematian adalah titik akhir beroperasinya wadag dalam karier kehidupan manusia. Saat ruh terbebas dari wadag. Mulla Sadra mengatakan bahwa kematian adalah saat perkembangan ruh seorang manusia sudah tak memerlukan wadag lagi.

“Penjelasan bagi kematian fisik adalah bahwa jiwa telah mencapai keparipurnaan dan kebebasan dalam keberadaannya sehingga ia beralih kepada aktivitas dan upaya bawaannya menuju dunia yang lain.” (Haidar Bagir, Makrifat Sakit dan Kematian, Noura, 2023, Jakarta)

Soal perbedaan berapa umur seseorang ketika wafat, tua atau muda, adalah soal pengetahuan Allah Swt, yang tahu seberapa lama seseorang membutuhkan wadag-nya sebelum dia memulai karier baru di alam barzakh. Pertanyaan kenapa ada yang dimatikan sangat muda atau sangat tua adalah berada dalam pengetahuan-Nya. Yakni terkait keseluruhan kariernya hingga berujung dalam keabadian di alam akhirat. Ada yang ditakdirkan membutuhkan wadag-nya dalam waktu panjang, tapi ada yang cukup dalam waktu singkat.

Selebihnya kita hanya (baca: harus) memercayakan semuanya kepada Allaah. Tugas kita hanyalah memaksimumkan kehidupan kita di dunia ini, sehingga kita bisa mencapai kesempurnaan terjatuh yang bisa kita capai sebelum kita masuk ke alam barzakh.

Tentang ibu saya? WalLaah a’lam. Tapi saya percaya beliau telah mencapai keparipurnaan wadag dan kebebasan jiwanya. Dan siap menjalani karier baru di alam barzakh dengan penuh kerehatan dan ketenteraman. Allah telah mewafatkan (tawaffa)–yakni menerima dirinya dalam kesempurnaan–saat wafatnya. Sebagaimana difirmankannya: “Allah mewafatkan diri saat kematiannya” (QS. 39:42, yang saya uraikan secara ringkas dalam tulisan saya berjudul “Saat Jiwa Diterima Allah Dengan Seiutuhnya”)

Sehingga, sebagai doa saya berharap bahwa beliau telah mencapai, setidaknya sebagian, kepuasan seorang mukmin, seperti yang diungkapkan Imam Ali bin Abi Thalib:

“(Kematianku) telah dekat dan menepi. Aku akan segera berangkat ke hadirat Allah, ke Sidrah Muntaha, kemudian ke Surga Firdaus yang tertinggi, menuju piala kehidupan yang telah penuh, dan Sahabat di Tempat yang Tinggi, menjelang kebahagiaan dan kehidupan yang tenteram…” (Makrifat Sakit dan Kematian, h. 118)

Kabulkanlah Yaa Allah….

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Penulis belum menambahkan bio / deskripsi profil pada pengaturan akunnya.

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan