ARTIKEL

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumiddin: Kritik Haris Al-Muhasibi kepada Ulama Pecinta Dunia

Penulis

Salman
Maret 6, 2026
4 menit membaca

Suatu waktu Imam Haris Al-Muhasibi berkata kepada ulama-ulama jahat pencinta dunia. Katanya, “Celakalah kamu, wahai orang yang tertipu (ulama su’)! Apa alasanmu mengenai uang, padahal sahabat Abdurrahman bin Auf, dengan kebajikan dan ketakwaannya serta amal kebaikannya yang terkenal, bahkan selalu mengeluarkan hartanya di jalan Allah SWT.? Dia juga salah satu sahabat Nabi yang dijamin masuk surga.”

“Jika kalian tahu! Sekalipun Abdurrahman bin Auf kaya raya, dia akan dipaksa berdiri di Hari Kiamat, sekalipun uang yang dia peroleh secara halal demi amal kebaikan serta membelanjakannya hanya di jalan Allah SWT., namun dia dicegah untuk berusaha menuju Surga bersama kaum fakir Muhajirin, dan dia harus merangkak mengikuti jejak mereka. Jadi, apa pendapatmu tentang orang-orang seperti kami yang tenggelam dalam cobaan dunia ini?”

Kata Gus Ulil, jadi sekalipun Abdurrahman bin Auf memiliki harta banyak dan selalu menggunakan hartanya di jalan-jalan Allah SWT., maka ia akan tetap diminta untuk mempertanggungjawabkan hartanya.

Syahdan. Dan setelah Imam Haris Al-Muhasibi berkata demikian, betapa menakjubkannya bahwa setiap orang yang tertipu (ulama pencinta dunia) berkubang dalam keraguan dan keuntungan-keuntungan yang haram.

Kata Imam Haris Al-Muhasibi, “Mereka tidak sadar bahwa dirinya sudah memanjakan keinginan, perhiasan, dan kesombongan dalam godaan dunia ini, dan kemudian mengutip Abdurrahman bin Auf sebagai contoh, mengklaim bahwa jika kamu mengumpulkan kekayaan, maka para Sahabat pun juga mengumpulkannya. Seolah-olah kamu menyerupai para pendahulu yang saleh dan perbuatan mereka. Maka celakalah kamu.”

Tak berhenti di sini, Imam Haris Al-Muhasibi juga berkata, “Dengarkalah! Aku akan menggambarkan kepadamu tentang keadaan para pendahulu-pendahulu yang saleh, agar kamu dapat mengenali aibmu dan kebajikan para Sahabat.”

“Demi hidupku, sebagian dari para Sahabat memiliki kekayaan yang mereka gunakan hanya di jalan Allah SWT. Mereka memperolehnya secara halal, berinfak secukupnya, dan memberi dengan murah hati. Mereka tidak menahan apa yang menjadi hak orang lain, dan mereka juga tidak pelit. Saat berada di masa-masa sulit, mereka sering mengutamakan Allah SWT. daripada diri mereka sendiri. Demi Allah! Apakah Engkau seperti itu?! Demi Allah! Engkau jauh dari orang-orang seperti Sahabat itu.”

Lebih lanjut, kata Imam Haris Al-Muhasibi, “Para Sahabat itu selalu rendah hati, tidak takut akan kemiskinan, percaya kepada Allah SWT. dalam urusan rezekinya dan puas dengan ketetapan Allah SWT. Mereka, para Sahabat, juga merasa puas sekalipun dalam keadaan kesulitan, bersyukur ketika mendapatkan rezeki, dan sabar dalam kesusahan.”

“Mereka rendah hati di hadapan Allah SWT. dan selalu menjauhi cinta akan status sosial (jabatan) dan kekayaan. Mereka mengambil dari dunia ini hanya secukupnya saja. Yang jelas meninggalkan kesenangan dan kenikmatan duniawi yang sementara. Demi Allah! Apakah Engkau seperti itu?”

“Bahkan, kami tahu bahwa ketika kekayaan duniawi datang menghampiri mereka, para sahabat akan bersedih dan berkata: “Ini adalah dosa yang karenanya Allah Yang Mahakuasa telah mempercepat hukumannya.” Dan ketika mereka melihat kemiskinan mendekat, mereka akan berkata: “Selamat datang di lambang orang-orang saleh.”

Begitulah kehidupan sahabat Abdurrahman bin Auf. Ia adalah salah satu sahabat yang sukses dalam berdagang dan menjadikannya kaya raya. Ia sering menyedekahkan seluruh hartanya, tak terkecuali untuk membiayai pasukan dagangnya.

Namun demikian, setelah mendengar hadis dari Siti Aisyah bahwa ia akan masuk surga paling akhir karena kekayaannya, ia akhirnya bertekad menjadi miskin. Akan tetapi, usahanya menjadi miskin terus gagal. Kenapa gagal? Karena setiap harta yang ia sedekahkan, hartanya bertambah berlipat ganda. Inilah berkahnya kalau orang rajin bersedekah. Allah SWT. berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 261 yang berbunyi:

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ۝٢٦١

“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]: 261).

Di surat Saba’ ayat 39 Allah SWT. kembali menegaskan bahwa rezeki apa saja yang kamu infakkan, maka Allah SWT. akan menggantinya, baik waktu berada di dunia dan akhirat dengan penggantian yang lebih baik. Dikatakan:

قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗۗ وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗۚ وَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ ۝٣٩

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.” Suatu apa pun yang kamu infakkan, pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki. (QS. Saba’ [34]: 39). Wallahu a’lam bisshawab.

 

Penulis adalah alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Mahasiswa dan Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan