November 1095 Masehi, kampus kelas dunia pada masanya, Madrasah Nizāmiah Baghdad kehilangan salah satu guru besar. Ialah Abu Ḥamid Al-Ghazālī, profesor ilmu hukum Islam yang mengajar sekitar tiga ratus mahasiswa, calon para hakim dan fuqaha. Padahal baru empat tahun Al-Ghazālī ditugaskan oleh wazir Daulah Saljuq, Nizām al-Mulk untuk mengampu tugas akademik itu.
Al-Ghazālī berpamitan keluar dari Baghdad dengan alasan pergi ke Makkah. Namun sebenarnya, kepergian itu merupakan panggilan ukhrawi, Al-Ghazālī menuju Suriah dengan niat tidak kembali lagi ke Baghdad. Kondisi krisis, kebingungan, dan kebimbangan tarik-menarik antara panggilan spiritual atau meneruskan karir duniawi, akhirnya membuat Al-Ghazālī beruzlah. Fokus mendekatkan diri kepada Allah, melalui praktik riaḍah dan mujahadah di atas menara Masjid Damaskus.
Al-Ghazālī melakukan sikap berpura-pura demi bisa keluar dari Baghdad. Karena jika mengatakan niat yang sebenarnya untuk mengasingkan diri, jelas banyak orang di Madrasah Nizāmiah akan menentang. Ibarat pertunjukan teatrikal, di panggung depan Al-Ghazālī mengemas dirinya sebagai tenaga pendidik yang hendak cuti agar semua orang setuju, sedangkan panggung belakang milik Al-Ghazālī sepenuhnya, menjadi hamba yang rindu naungan Tuhan.
Panggung Depan dan Panggung Belakang
Erving Goffman (1922 – 1982), seorang tokoh dan pengkaji sosiologi terkemuka mengenalkan konsep dramaturgi dalam kehidupan sosial. Guru besar yang pernah mengajar di University of California itu mengajak kita membayangkan dunia ini layaknya sebuah drama teatrikal. Pertunjukan dimainkan di panggung depan (front stage), sedangkan persiapan beserta pelengkap teatrikal berada di panggung belakang (back stage). Keduanya memainkan peran penting dan saling mengisi ruang kehidupan sosial.
Lebih lanjut, Goffman menjabarkan secara sederhana, panggung depan meliputi ruang publik yang formal. Seperti apa individu ingin dinilai khalayak, identitas apa yang hendak ditampilkan, serta bagaimana atribut sosial harus digunakan sedemikian rupa. Terkadang panggung depan agak memaksa seseorang untuk mengikuti kehendak komunal. Berbeda dengan panggung belakang, yang mengakomodir keaslian diri seratus persen.
Panggung belakang meliputi ruang pribadi yang bersifat informal. Individu tidak lagi resah akan penilaian publik terhadap dirinya. Baik perilaku, ekspresi, rencana, juga keinginan dapat diekspolorasi secara mandiri bahkan sesuka hati tanpa melibatkan publik. Namun, untuk mencapai panggung belakang, individu harus mundur dari panggung depan. Dalam artian seseorang harus menarik diri dari peran sosial yang selama ini ia pertontonkan.
Hal tersebut mengisyaratkan bahwa meskipun manusia didapuk sebagai makhluk sosial, tanpa mengurangi fitrahnya, manusia sesekali perlu meluangkan waktu untuk tidak terus-menerus melayani ruang sosial. Tentu panggung belakang ini memiliki manfaat untuk mengistirahatkan peran panggung depan. Individu dapat melakukan refleksi dan evaluasi di panggung belakang, untuk selanjutnya menyeleksi dan reaktivasi tampilan-tampilan ke depan. Kemudian bab terpenting dari panggung belakang adalah seseorang dapat melakukan segalanya tanpa tekanan sosial.
Melihat Dramaturgi Imam Al-Ghazālī
Setelah mengetahui konsep di atas, mari melihat bagaimana Imam Al-Ghazālī berdramaturgi. Identitas Al-Ghazālī sebagai ahli fikih, teolog, filsuf, dan akademisi kemungkinan adalah panggung depan. Misalnya di mata Imam Haramain sekaligus guru dari Al-Ghazālī, yaitu Al-Juwainī, Al-Ghazālī memiliki kemampuan akademik di atas rata-rata. Bahkan Al-Juwainī menjuluki Al-Ghazālī sebagai lautan yang dalam karena kekuatan analisisnya, sehingga diangkatlah Al-Ghazālī menjadi asisten yang bertugas mengajar dan membimbing mahasiswa lain.
Saat di Madrasah Nizāmiah Nisabur, Al-Ghazālī juga dikenal sosok yang handal menulis, karya pertama pada masa itu berjudul Al-Mankhūl. Ketika di Madrasah Nizāmiah Baghdad, Al-Ghazālī melakukan aktivitas menulis, mengajar, dan mempelajari filsafat di sela-sela pekerjaannya. Kurang lebih seperti itulah panggung depan Al-Ghazālī. Hingga suatu saat timbul krisis batin yang menyelimuti pikirannya. Pada periode itu pula terjadi perang kebenaran antar golongan, yang memaksa Al-Ghazālī menyelidiki kebenaran hakiki.
Setelah menyelidiki kebenaran melalui jalan ilmu dan tidak membuahkan hasil, Al-Ghazālī meyakini ada satu jalan yang dapat ditempuh, yaitu dengan spiritual. Maka dengan begitu jalan ini akan membukakan anugerah Allah SWT agar menurunkan cahaya ilmu ke dalam sanubari aulia-Nya. Akan tetapi, jalan tersebut perlu pengosongan hati dari selain Allah SWT. Dalam hal ini menurut metode para sufi, harus dimulai dengan menjauhkan perkara dunia dan hal materil sejenisnya.
Al-Ghazālī mengawali kehidupan sufi di usia yang relatif muda, yaitu 38 tahun. Di mana Al-Ghazālī sedang berada di puncak karirnya, namun keinginan untuk menyepi dan mengasingkan diri demi mengejar ketersambungan dengan Allah SWT lebih kuat. Tibalah Al-Ghazālī di panggung belakang, beribadah sembari menjernihkan hati adalah perkara yang tidak perlu diketahui atau didikte publik.
Uzlah sebagai panggung belakang Al-Ghazālī selama sepuluh tahun itu akhirnya menciptakan pengalaman langsung (direct experience) sekaligus pengalaman puncak (peak experience). Pengetahuan hanya bisa diperoleh dengan hati yang jernih, sebab dosa dan materi itulah yang menjadi penghalang cahaya kebenaran. Atas kehidupan sufi itu pula, Al-Ghazālī berhasil menulis Iḥyā’ ‘Ulūmuddīn yang fenomenal dan menjadi rujukan keberagamaan manusia modern.