ARTIKEL

Metafora Ibn ‘Arabi tentang Status Agama-Agama Pra-Islam

Penulis

admin
November 4, 2019
2 menit membaca

Umat beragama di zaman sekarang dengan mudah melontarkan statement untuk menyalahkan, mengafirkan, bahkan dengan enteng memvonis ‘neraka’ bagi siapa saja yang berbeda dengannya. Melihat realitas ini, agaknya kita harus sering-sering menengok kembali falsafah keberagamaan kita.

Islam berdiri di atas cinta. Untuk itu Islam kapan pun dan di mana pun akan selalu menyuarakan hidup rukun walau berbeda, saling menghormati, menebarkan kasih dan sayang ke segala penjuru alam. Hal ini telah ditegaskan, “Dan tidaklah kami mengutusmu (Nabi Muhammad saw.), melainkan (sebagai) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’ 21:107). Senada juga dalam hadis disebutkan, “Dari Abu Huraira, bahwa Rasulullah saw. bersabda; “Ketika Allah menciptakan makhluk, Dia tuliskan dalam Kitab-Nya (yang tersimpan di sisi-Nya di atas ‘Arsy) bahwa kasih sayang-Ku mendominasi murka-Ku’.” (HR. Imam Muslim No.2751). Dengan demikian terang bagi kita, bahwa falsafah diutusnya Nabi dan sifat yang mendominasi bagi Allah itu adalah cinta bukan murka. Dengan demikian Islam tidak lain ialah ‘Agama Cinta’.

Terkait dengan Islam sebagai ‘Agama Cinta’. Pemerhati serta aktivis filsafat dan tasawuf, Dr. Haidar Bagir mengutip syair dari sang idolanya yaitu Ibn ‘Arabi:  “Ke mana pun kafilah cinta mengarah di situlah agamaku.”

Dalam Syarah kitab Tarjuman al-Asywaq dijelaskan: “Yang dimaksud agama cinta itu adalah agama Muhammad saw.” Kata penulis buku “Semesta Cinta: Pengantar kepada Pemikiran Ibn ‘Arabi” seperti direkam dalam kanal YouTube Nuralwala, 03 Oktober 2019.  

Lebih lanjut, Dr. Haidar Bagir melemparkan pertanyaan, apakah kemudian agama-agama lain itu kehilangan kandungan kebenarannya? “Tidak” jawabnya. Lebih lanjut, kata Ibn ‘Arabi: “Agama Islam itu seperti sinar matahari, agama-agama non-Islam itu seperti sinar bintang-bintang. Ketika sinar matahari tidak ada (terbenam), maka sinar bintang-bintang itu tampak, tapi ketika matahari itu terbit apakah sinar bintang-bintang itu hilang?  Tidak, bintang itu bersinar namun sinarnya terserap dalam intensitas sinar matahari yang jauh lebih terang.”

Jadi Ibn ‘Arabi bukan mengatakan ketika Islam datang, maka agama-agama lain kehilangan kebenarannya. Ibn ‘Arabi ingin menegaskan datangnya Islam itu mencakup kebenaran agama-agama lain, dan menambahkan serta menyempurnakan kebenaran-kebenaran yang ada di agama lain.

Da/Nuralwala.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Yayasan ini terutama bergerak dalam bidang edukasi akhlak dan tasawuf atau dimensi esoteris (batini) Islam, dan sedapat mungkin mempromosikan visi Islam yang berorientasi cinta, sebagai alternatif cara pandang dalam beragama (Islam) yang sejalan dengan budaya keislaman di Indonesia.

Baca Semua Artikel Penulis

Satu Komentar

  • Endang Srihartini

    November 4, 2019 • 7:10 pm

    sy setuju dengan pendapat Kiyai Guru Cak Nur n Kiyai guru bpk Haidar Bagir. Semua Agama mengajarkan kebaikan n cinta kasih, dan Islam diturunkan sebagai penyempurna.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan