Saya yakin semua orang tua mendambakan anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berakhlak mulia, bermanfaat bagi sesama, dan meraih kebahagiaan dunia serta akhirat. Lantas, bagaimana cara mewujudkannya? Saya coba uraikan dalam artikel pendek ini yang awalnya ialah materi khutbah Idhul Adha di Lazuardi Global Compassionate School yang saya kasih judul “Belajar Hidup dari Keluarga Ibrahim as.”
Kata Ibrahim oleh sebagian mufasir—termasuk juga Muhammad Quraish Shihab—berasal dari dua kata, abb (ayah) dan rahim (penuh kasih/penyayang). Karena itu, Nabi Ibrahim as digambarkan sebagai sosok ayah yang memiliki cinta luar biasa kepada anak-anaknya, saking cintanya, ia mendidik keluarganya secara lahir dan batin.
Yang menarik, Al-Qur’an mengisahkan keturunan Nabi Ibrahim as (Ismail dan Ishaq) dengan karakter yang berbeda-beda. Al-Qur’an menyebut Nabi Isma’il as sebagai ghulāmin halīm (seorang yang sangat santun, penyabar, dan bijak):
رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ
“(Ibrahim berdoa,) ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.’ Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak (Isma’il) yang sangat santun (ghulāmin halīm).” (QS. As-Shaffat [37]: 100–101)
Sedangkan kepada Nabi Ishaq as, Allah menyebutnya sebagai ghulāmin ‘alīm (anak yang cerdas dan berilmu):
اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمٍ عَلِيْمٍ
“Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) seorang anak laki-laki (Ishaq) yang alim/cerdas.” (QS. Al-Hijr [15]: 53)
Mengapa Isma’il disebut halīm, sedangkan Ishaq disebut ‘alīm? Kata halīm yang melekat pada diri Isma’il berasal dari kata hilm, yang bermakna kemampuan menahan amarah, kebijaksanaan, kedewasaan emosional, serta kesabaran yang tinggi. Hanya orang yang memiliki sifat halīm yang mampu menghadapi ujian berat dengan keteguhan hati, di antara ujiannya ialah ia hampir saja disembeleh oleh ayahnya sendiri. Al-Quran mengisahkan, “Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (QS. Shaffat [37]: 102)
Sebagian mufasir juga menjelaskan bahwa ujian besar itu kelak akan diwarisi oleh keturunannya. Dari jalur Isma’il inilah lahir Nabi Muhammad saw, yang memikul amanah besar untuk membimbing seluruh umat manusia.
Adapun Nabi Ishaq as disifati sebagai ‘alīm, yakni sosok yang cerdas dan berilmu. Hal ini sejalan dengan takdir beliau sebagai leluhur para nabi Bani Israil dan penjaga syariat. Dari jalur Ishaq lahir Nabi Ya’qub, kemudian Nabi Yusuf, Nabi Ayub, Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, hingga Nabi Isa as. Misi besar ini tentu membutuhkan modal ‘ilm yaitu kapasitas intelektual dan kedalaman ilmu pengetahuan.
Puncak dari seluruh mata rantai kenabian itu bertumpu pada Nabi Muhammad saw. Beliau adalah penyempurna risalah para nabi sebelumnya dan juga keturunan Nabi Ibrahim melalui jalur Isma’il. Dalam diri beliau terkumpul sifat halīm, ‘alīm, ra’ūf, dan rahīm: lembut hati, berilmu, penuh kasih, dan penuh sayang kepada umat manusia.
Amalan apa yang dilakukan Nabi Ibrahim as sehingga keturunannya tumbuh menjadi pribadi-pribadi mulia, bijak, dan berpengaruh besar dalam sejarah kemanusiaan?
Saya coba hadirkan dengan menggunakan metode tafsir tematik yaitu mengumpulkan kata Ibrahim dalam Al-Qur’an dengan bantuan kitab Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur’an al-Karim karya Muhammad Fu’ad Abdul Baqi. Dari situ saya temukan minimal ada 5 (lima) amalan penting yang dilakukan oleh Ibrahim, berikut penjelasannya:
Pertama, Ibrahim memberikan teladan yang baik kepada keturunannya. Al-Qur’an ceritakan:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ
“Sungguh, benar-benar ada suri teladan (uswah hasanah) yang baik bagimu pada (diri) Ibrahim.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)
Nabi Ibrahim tidak hanya memerintah, tetapi terlebih dahulu memberi contoh. Karena itu, Nabi Isma’il memiliki sifat halīm sebab ayahnya (Ibrahim) juga seorang yang halīm.
اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ لَحَلِيْمٌ اَوَّاهٌ مُّنِيْبٌ
“Sesungguhnya Ibrahim benar-benar penyantun (halīm), pengiba, dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hud [11]: 75)
Apa yang kita peroleh dari penjelasan di atas? Pendidikan anak yang paling membekas bukan hanya apa yang didengarnya dari orang tua, melainkan juga apa yang dilihat dan diteladaninya dalam perilaku orang tua setiap hari.
Yang menarik ialah dalam Al-Qur’an yang disebut uswah hasanah ialah hanya dua tokoh yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad saw. Artinya dari kedua tokoh inilah kita harusnya belajar hidup.
Kedua, Ibrahim memilih lingkungan yang baik bagi pertumbuhan anaknya. Hal ini tampak ketika Nabi Ibrahim mengantarkan Siti Hajar dan Isma’il ke Makkah setelah Isma’il lahir. Beliau berdoa agar tempat itu menjadi negeri yang aman dan diberkahi bagi kehidupan keturunannya (QS. Ibrahim [14]: 37).
Ibrahim mengajarkan kepada kita sebagai orang tua atau pendidik bahwa mendidik anak bukan hanya soal memberikan nasihat dan memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi juga menyediakan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan karakter dan spiritualnya. Karena itu, memilih sekolah bukan semata-mata mempertimbangkan fasilitas atau prestasi akademik, tetapi juga nilai-nilai yang diajarkan, keteladanan para pendidik, dan budaya yang dibangun. Demikian pula, orang tua perlu memperhatikan lingkungan pergaulan anak, sebab teman dan lingkungan hidup turut membentuk cara berpikir, kebiasaan, serta kepribadiannya. Dan yang lebih penting lagi ialah menciptakan lingkungan rumah yang baik, penuh uswah, dan kesantunan, sehingga anak melihat, memperhatikan, dan merasakan betul teladan dari orang tuanya.
Ketiga, Ibrahim mencontohkan kepada kita untuk menjadi orang tua yang komunikatif dan demokratis. Sikap ini tergambar dalam dialog Nabi Ibrahim dengan Isma’il ketika menerima perintah Allah untuk menyembelih putranya. Ibrahim tidak memaksakan kehendak, tetapi memberi ruang kepada Isma’il untuk menyampaikan pendapat dan kesiapan dirinya (Lihat: QS. As-Shaffat [37]: 102).
Inilah yang Ibrahim terapkan kepada anaknya, memberikan ruang untuk bertumbuh dan berkembang bagi anaknya hingga seorang anak dibiasakan untuk berpendapat, dan keterlibatan anak dalam pengambilan keputusan keluarga.
Keempat, Ibrahim selalu melibatkan keturunannya dalam amal sosial dan tanggung jawab besar. Nabi Ibrahim mengajak Isma’il membangun kembali Ka’bah yang rusak akibat banjir. Keterlibatan ini menanamkan rasa memiliki, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap rumah ibadah, rumah tempat warga berkumpul, dan kepentingan umat lainnya. Kisah ini dilukiskan dalam surah Al-Baqarah [2]: 125–127.
Kelima, Ibrahim berikhtiar dengan berbagai hal yang ia lakukan untuk mendidik anaknya, pada saat yang sama ia berdoa agar Allah memberikan bimbingan dan keberkahan bagi anak-anaknya. Saya sudah menulis satu buku khusus yang membahas tentang doa berjudul, Makrifat Doa: Munajat Para Nabi, Sahabat, dan Kekasih Allah.
Doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ialah agar keluarganya menjadi qurrata a‘yun (penyejuk hati) dan pemimpin bagi orang-orang bertakwa.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan [25]: 74)
Selamat merenung dan bermuhasabah. Sudahkah keinginan kita memiliki keturunan yang saleh dan berakhlak mulia sejalan dengan ikhtiar lahir dan batin yang kita lakukan, sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as?
Tabik.