Tahun 2017, World Health Organization (WHO) menerbitkan sebuah publikasi dengan judul Depression and Other Common Mental Disorders Global Health Estimates. Di antara data yang dipaparkan dokumen tersebut adalah sebanyak 322 juta orang penduduk bumi hidup dengan depresi dengan separuhnya hidup di Asia Tenggara dan Wilayah Pasifik Barat. Selain itu diperkirakan terjadi peningkatan sebanyak 18,4% kasus depresi dari tahun 2005 hingga 2015.
Data di atas menunjukkan bahwa depresi menjadi salah satu gangguan psikologis utama manusia. Tidak hanya jumlahnya yang mengalami peningkatan, pengaruhnya juga melintasi batas kultur dan geografis. Karena itu wajar, apabila lembaga dunia seperti WHO khusus memberikan perhatian mengenai gangguan ini.
Salah satu ilmuwan Islam yang fokus membahas depresi adalah Abu Zayd al-Balkhi dalam kitabnya yang berjudul Mashalih al-abdan wa al-anfus (Kesehatan Badan dan Jiwa). Di bukunya tersebut dia mendedikasi satu pokok pembahasan khusus terkait huzn dan jaza’. Ahli psikologi Islam kontemporer, Malik Badri dalam menterjemahkan buku tersebut, mengartikan kata huzn dengan sadness (kesedihan) dan jaza’ dengan depression (depresi).
Di dalam al-Qur’an kata jaza’ muncul sekali dalam bentuk kata kerja masa lampau, jazi’a, pada surat Ibrahim ayat 21. Ayat itu menggambarkan keluh kesah dan tekanan yang dialami oleh orang yang tidak beriman di akhirat. Ahli tafsir asal Tunisia, Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya terhadap ayat tersebut mendefinisikan istilah jaza’ dengan kesedihan yang bercampur dengan kekacauan (gangguan). Definisi yang diberikan oleh Ibnu ‘Asyur relevan dengan pernyataan al-Balkhī bahwa jaza’ adalah bentuk ekstrem dari pada huzn. Dengan kata lain, depresi adalah kesedihan yang sangat dalam.
Bagi al-Balkhi, depresi merupakan gejala psikologis yang menimpa manusia karena kehilangan sesuatu yang dia sukai baik orang, harta benda maupun lainnya. Kehilangan tersebut akan memunculkan kesedihan, apabila kesedihan tersebut menguat akan mengakibatkan depresi. Karena al-Balkhi menganggap depresi kelanjutan dari kesedihan, dia meletakkan pembahasan penanganannya di dalam bab yang sama dengan judul fi tadbiri daf’i al-huzni wa al-jaza’i (tentang cara menghilangkan kesedihan dan depresi).
Pendekatan awal al-Balkhi dalam mengelola kesedihan dan depresi adalah dengan menyatakan bahwa kesedihan maupun ketakutan merupakan hal yang wajar di dunia. Dia mendukung pendapatnya ini dengan mengutip surat al-Baqarah ayat 38 yang mengatakan bahwa orang beriman di akhirat tidak ada ketakutan dan kesedihan pada mereka.
Al-Balkhi kemudian membagi kesedihan dan depresi menjadi dua bagian, yaitu yang dikenali sebabnya (ma’ruf al-sabab) dan yang tidak diketahui sebabnya (majhul al-sabab). Penanganan untuk yang pertama terdapat dua jenis yaitu internal dan eksternal. Secara internal seseorang mesti melatih pikirannya untuk menguasai dirinya ketika ditimpa depresi.
Terkait hal ini al-Balkhi menyampaikan beberapa metode kognitif. Metode pertama adalah orang yang sedang sedih dan depresi mesti memikirkan kebaikan badannya. Meskipun dia merasa berat kehilangan orang dicintai, hartanya dan yang lainnya, dia mesti tetap mempertimbangkan kondisi dirinya akibat kesedihan yang dalam. Karena dirinya adalah yang seharusnya paling dia cintai.
Kedua, al-Balkhi menyampaikan bahwa seseorang harus berpikir realistis bahwa kehidupan dunia bukanlah tempat untuk kesenangan abadi. Sekaligus juga bukan tempat menghindari berbagai macam kerugian dan malapetaka. Ketika seseorang mampu berpikir sedemikian rupa, dia akan menganggap kesenangan dia miliki adalah semacam hadiah belaka. Seterusnya, apabila dia mendapatkan kerugian dan musibah, dia tidak akan sedih berlarut-larut, apalagi sampai depresi.
Selanjutnya, al-Balkhi menyampaikan bahwa individu yang tengah bersedih mesti memikirkan kelemahannya terhadap musibah yang dia hadapi dan ketidaksabarannya. Karena kelemahan dan ketidaksabaran tersebut lebih berat dari bencana. Apabila dia tidak mampu kuat mengatasi dirinya hingga sampai bersedih dan mengalami depresi maka dia akan menjalani hidup lebih berat di masa yang akan datang. Sebab dia akan bertambah jatuh begitu bertambahnya persoalan kehidupannya.
Metode lainnya adalah menggunakan kelebihan untuk menguasai dirinya apabila dilanda kesedihan dan depresi. Misalnya, dia mengatakan pada dirinya bahwa tunduk pada keputus-asaan adalah kelemahan, dan itu tidak sesuai dengan dirinya.
Kelima seseorang mesti bersyukur, dalam hal ini dia memikirkan bahwa musibah yang menimpa dia bisa jadi lebih buruk daripada yang dia hadapi saat ini. Terakhir, dia mesti belajar dari pengalaman orang lain sehingga dia dapat berkesimpulan bahwa pada akhirnya segala macam sumber kesedihan pada akhirnya terlupakan dan hilang. Sekaligus dia belajar bahwa keadaan yang membuatnya paling sedih adalah saat awal masalah itu muncul saja. Pada akhirnya, rasa sedih akan berkurang hingga masalah tersebut terlupakan.
Adapun cara penanganan secara eskternal menurut al-Balkhi adalah dengan mengajak orang yang sedang dilanda kesedihan dan depresi berbicara hal yang menyenangkan, mendengarkan musik dan nyanyian, dan aktivitas lain yang memberikan dukungan emosinal kepadanya.
Tampaknya al-Balkhi menyoroti model berpikir alternatif yang seharusnya dimiliki oleh penderita depresi. Alih-alih fokus pada masalah yang menimpanya, individu tersebut seharusnya lebih fokus pada keselamatan serta kekuatan fisik dan pikirannya. Dia juga menekankan aspek realitas kehidupan di dunia yang penuh cobaan dan ujian. Penekanan model berpikir seperti ini, tentu berguna bagi orang religius yang sedih dan penderita depresi.