Di salah satu seri video saya membaca buku saya, Catatan untuk Diriku: Ihwal Hidup, Cinta, dan Bahagia, ada yang berkomentar begini: “Jadikan aku muridmu, Bapak. Aku sudah capek sama propaganda Islam Arab.”
Komentar ini, saya kira, bukan suara tunggal. Ia mewakili kegelisahan yang makin luas—terutama di kalangan generasi muda Muslim yang kritis. Memang, ia tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan “Islam Arab”. Dan tentu saja, yang dimaksud tidak mungkin Islam dalam arti yang sesungguhnya berasal dari Arab. Sebab Islam memang datang dari Arab. Nabi Muhammad saw adalah orang Arab. Bahkan, tidak sedikit pemikir Arab justru menghadirkan wajah Islam yang sangat lembut, penuh welas asih, dan dekat dengan apa yang kita rasakan sebagai keindahan Islam di Nusantara. Ambil contoh Ibn ‘Arabi—yang secara harfiah namanya berarti “putra bangsa Arab”. Justru darinyalah kita mendapatkan salah satu formulasi paling mendalam tentang Islam sebagai agama cinta. Dan tentu masih banyak lagi.
Karena itu, lebih tepat jika “Islam Arab” yang dimaksud dalam komentar tadi kita pahami sebagai corak keberagamaan yang legalistik, kaku, dan cenderung keras—yang dalam sejarah Islam pernah tampil dalam bentuk-bentuk seperti Khawarijisme. Sebuah pendekatan yang menekankan hukum secara formal, tetapi kerap kehilangan ruh; yang menampilkan kepastian, tetapi sering mengorbankan kebijaksanaan; yang mengklaim kebenaran, tetapi mudah tergelincir ke dalam eksklusivisme.
Saya sudah lama merasakan bahwa banyak orang—khususnya generasi muda Muslim—mulai lelah dengan corak keberagamaan seperti ini. Bukan karena mereka menjauh dari agama, tetapi karena mereka tidak menemukan kehidupan di dalamnya. Agama terasa sebagai beban, bukan sebagai jalan pembebasan; sebagai sumber kecemasan, bukan ketenteraman.
Di sinilah saya dan banyak teman merasa terdorong untuk mendakwahkan apa yang saya sebut sebagai Islam Cinta. Secara ringkas, Islam Cinta adalah cara memahami dan menghayati Islam yang menempatkan rahmah (kasih sayang) sebagai inti ajaran. Ia bukan sekadar sentimen emosional, melainkan prinsip mendasar: Pertama, Tuhan memperkenalkan diri-Nya sebagai al-Rahman dan al-Rahim. Kedua, tujuan agama adalah penyempurnaan akhlak, bukan sekadar formalisme. Ketiga, syariat harus dibaca dalam terang hikmah dan kemaslahatan. Keempat, rasionalitas dan spiritualitas berjalan bersama, bukan saling meniadakan.
Dalam Islam Cinta, perbedaan tidak dimusuhi, melainkan dipahami. Manusia tidak direduksi menjadi objek hukum, melainkan dihormati sebagai makhluk yang memiliki kedalaman lahir dan batin.
Di titik ini, tasawuf sesungguhnya menawarkan jalan yang sangat penting. Ia bukan sesuatu yang asing dalam Islam, melainkan justru jantung dari dimensi batin agama ini.
Tasawuf mengajarkan bahwa inti keberagamaan bukan sekadar kepatuhan lahir, tetapi transformasi batin—dari ego menuju keikhlasan, dari keterpisahan menuju kedekatan, dari kekerasan menuju kelembutan.
Dalam tradisi tasawuf, hukum tidak ditolak, tetapi dihidupkan oleh makna. Ibadah tidak sekadar dilakukan, tetapi dirasakan dan dihayati. Dan yang paling penting, hubungan dengan Tuhan tidak dibangun atas rasa takut semata, tetapi atas cinta dan kerinduan.
Karena itu, tidak mengherankan jika tokoh-tokoh besar tasawuf—seperti Ibn ‘Arabi—menjadi rujukan penting bagi upaya menghadirkan kembali wajah Islam yang ramah dan mendalam.
Jika pendekatan seperti ini tidak dihadirkan, saya khawatir—dan tanda-tandanya sudah jelas—akan semakin banyak anak muda yang menjauh dari Islam. Bukan karena mereka anti-agama, tetapi karena mereka mencari sesuatu yang lebih manusiawi, lebih hangat, dan lebih bermakna.
Itulah sebabnya dalam beberapa dekade terakhir kita menyaksikan fenomena yang menarik: berkembangnya apa yang sering disebut sebagai “spiritualitas tanpa agama”. Orang tetap mencari makna, kedamaian, dan kedalaman batin—tetapi tidak lagi menemukannya dalam institusi agama formal.
Seiring dengan itu, muncul pula berbagai bentuk quasi-agama—yakni praktik atau sistem yang bukan agama dalam pengertian formal, tetapi menjalankan fungsi-fungsi religius: memberi makna, menyediakan ritual, dan menawarkan transformasi diri. Yoga, meditasi, berbagai bentuk spiritualitas kontemporer, hingga tradisi seperti Zen atau theosophy, menjadi alternatif bagi mereka yang merasa tidak lagi terjangkau oleh bahasa agama formal.
Fenomena ini bukan sekadar tren. Ia adalah cermin. Bahwa manusia modern tetap membutuhkan spiritualitas, tetapi menolak bentuk keberagamaan yang terasa keras, sempit, dan tidak ramah.
Pertanyaannya menjadi sederhana, tetapi mendasar: apakah kita akan membiarkan generasi ini mencari cahaya di luar Islam, atau kita berani menyingkap kembali cahaya yang sesungguhnya telah ada di dalam Islam itu sendiri?
Bagi saya, jawabannya jelas: Islam tidak kekurangan cahaya. Yang kurang adalah cara kita memancarkannya.