ARTIKEL

Tiga Tingkatan Istigfar dalam Khazanah Kitab Kuning

Agustus 5, 2026
4 menit membaca

Hadis pemungkas (Hadis Ke-42) yang disebutkan oleh Imam an-Nawawī dalam karyanya, al-Arba‘īn an-Nawawiyyah fī al-Aādīś aaīah an-Nabawiyyah, adalah hadis tentang pentingnya istigfar. Berikut redaksi hadisnya, “Allah berfirman, ‘Wahai anak cucu Adam, selama engkau masih berdoa dan berharap kepada-Ku, maka tentu Aku akan mengampuni semua dosa yang ada pada dirimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak cucu Adam, seandainya dosa-dosamu sudah mencapai awan di langit, lalu engkau memohon ampun kepada-Ku, maka tentu Aku akan mengampunimu. Wahai anak cucu Adam, seandainya engkau menghadap kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, lalu engkau menjumpai-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, maka sungguh Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi juga.’” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmiżī dengan status asan aī.

Menurut Syar Matn al-Arba‘īn an-Nawawiyyah fī al-Aādīś aaīah an-Nabawiyyah (terbitan Maktabah Dār al-Fatḥ, Damaskus, Cetakan Keempat, 1984: 112-113. Bisa diakses di https://archive.org/details/amatullah0911_gmail_20160504), kandungan Hadis Ke-42 tersebut serupa dengan firman Allah yang termaktub indah dalam surah An-Nisā’ (4): 110, yaitu “Siapa yang berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian memohon ampunan kepada Allah, niscaya akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dalam hal ini, Allah memang Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya dan Maha Pengampun atas dosa-dosa mereka. Oleh karena itu, setiap muslim harus berhasrat untuk mendapatkan rahmat Allah dan istikamah membaca istigfar (https://dorar.net/hadith/sharh/72890, akses 05 Juli 2026).

Syekh Muhammad Nawawī al-Jāwī menyebutkan bahwa istigfar―yang merupakan salah satu bagian dari zikir―harus dilakukan oleh setiap muslim. Sebab, ia merupakan salah satu cabang keimanan (al-Futūāt al-Madaniyyah fī asy-Syu‘ab al-Īmāniyyah, hlm. 27). Istigfar harus disertai dengan penyesalan (tobat) sebagaimana diperintahkan oleh Allah dalam surah Hūd (11): 3, “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya” dan surah An-Nūr (24): 31, “Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (Syar Matn al-Arba‘īn an-Nawawiyyah, hlm. 113).

Menurut Syar Matn al-Arba‘īn an-Nawawiyyah, istigfar memiliki tiga tingkatan. Pertama, tingkatan istigfar yang paling rendah, yaitu istigfar untuk memohon ampun kepada Allah. Ia merupakan istigfarnya para pendosa. Jadi, para pendosa beristigfar semata-mata untuk memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang dilakukan. Kedua, tingkatan istigfar yang pertengahan, yaitu istigfar karena lalai bersyukur kepada Allah. Ia adalah istigfarnya para wali dan orang-orang saleh. Jadi, para wali dan orang-orang saleh beristigfar bukan karena melakukan dosa dan maksiat, tetapi karena semata-mata lalai bersyukur kepada Allah. Ketiga, tingkatan istigfar yang paling tinggi, yaitu istigfar karena semata-mata bersyukur kepada Allah. Ia merupakan istigfarnya Nabi Muhammad saw. dan sekalian nabi. Jadi, Nabi Muhammad saw. dan para nabi yang lain beristigfar bukan karena melakukan dosa dan juga bukan karena lalai bersyukur, tetapi karena semata-mata bersyukur kepada Allah (hlm. 113).

Mengetuk Ampunan Allah dengan Sayyid al-Istigfār

Redaksi istigfar yang paling pendek adalah “astagfirullāh” (aku memohon ampun kepada Allah). Adapun redaksi istigfar yang paling utama, paling dicintai oleh Allah, paling banyak pahalanya, dan paling besar kemungkinannya untuk diterima oleh Allah adalah sayyid al-istigfār (rajanya istigfar). Ia diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad saw. dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī. Sayyid al-istigfār disebut sayyid al-istigfār karena ia mengumpulkan seluruh makna tobat. Menurut Nabi Muhammad saw., barang siapa yang membaca sayyid al-istigfār setiap pagi dan petang dengan penuh keyakinan kepadanya, maka dia akan mendapatkan jaminan surga (https://dorar.net/hadith/sharh/72890). Berikut redaksi lengkapnya,

اللهُمَّ أنتَ رَبِّي لا إلَهَ إلَّا أنتَ، خَلَقتَني وأنا عَبدُك، وأنا على عَهدِك ووَعدِك ما استَطَعتُ، أعوذُ بك مِن شَرِّ ما صَنَعتُ، أبوءُ لك بنِعمَتِك عَلَيَّ، وأبوءُ لك بذَنبي، فاغفِرْ لي فإنَّه لا يَغفِرُ الذُّنوبَ إلَّا أنتَ

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan senantiasa menetapi janjiku kepada-Mu (berupa keimanan kepada-Mu dan ikhlas dalam melakukan ketaatan) semampuku dan aku yakin akan janji-Mu (berupa pahala atas amalku). Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan azab yang disebabkan oleh dosa-dosa dan maksiat-maksiat yang aku lakukan. Aku mengakui berbagai nikmat-Mu kepadaku dan aku juga mengakui berbagai dosaku kepada-Mu. Maka, semoga Engkau mengampuniku. Sebab, tidak ada satu pun yang bisa mengampuni dosa-dosa selain Engkau.”

Wallāhu A‘lam wa A‘lā wa Akam…

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Alumni Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Konsentrasi Kajian Maqasid dan Analisis Strategi dan Pengajar di Madrasah Diniyah Awwaliyah Nurul Jadid Pamekasan

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan