Kita hidup pada zaman ketika alam lebih sering dipandang sebagai sumber daya daripada sumber pelajaran. Hutan dihitung berdasarkan nilai ekonominya, sungai dinilai dari potensi eksploitasi airnya, dan gunung dipandang sebagai cadangan mineral yang menunggu untuk digali. Cara pandang reduksionis seperti ini perlahan mengubah relasi manusia dengan alam: dari persahabatan menjadi penguasaan. Padahal, dalam tradisi spiritual Islam, alam bukan sekadar benda mati yang tersedia untuk dimanfaatkan, melainkan hamparan ayat-ayat Tuhan (ayat kauniyyah) yang terus berbicara kepada siapa pun yang mau mendengarkan.
Mungkin karena itulah Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, hujan, pepohonan, pergantian malam dan siang, serta kehidupan berbagai makhluk. Ajakan tersebut bukanlah pelajaran biologi atau geografi semata. Ia adalah undangan untuk bertafakur. Alam dijadikan cermin (mir’at) agar manusia mengenal Penciptanya sekaligus mengenali dirinya sendiri.
Membaca Semesta dengan Mata Batin
Para sufi sejak dahulu membaca alam dengan cara yang berbeda. Mereka tidak berhenti pada bentuk lahiriah (zahir) setiap makhluk, tetapi berusaha menangkap makna batin yang tersembunyi di balik keberadaannya. Dalam pandangan Ibn ‘Arabi, alam semesta adalah tajalli, manifestasi dan pemantulan nama-nama serta sifat Tuhan yang tiada henti. Bahwa, sebuah pohon bukan hanya kumpulan akar, batang, dan daun, melainkan simbol tentang kesabaran bertumbuh dan kepasrahan menanti karunia-Nya. Sungai mengajarkan kerendahan hati karena ia selalu mengalir menuju tempat yang lebih rendah. Gunung menjadi perlambang keteguhan, sedangkan hujan menghadirkan pelajaran tentang rahmat yang turun tanpa memilih siapa yang akan menerimanya.
Pandangan seperti ini, lahir dari keyakinan bahwa seluruh alam berada dalam tasbih kepada Allah. Al-Qur’an dalam Surah Al-Isra’ ayat 44, menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih memuji-Nya, meskipun manusia sering kali tidak memahami cara tasbih mereka.
تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبْعُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”
Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi-nya menegaskan hakikat ini secara puitis: “Batu, tanah, air, dan angin sejatinya memiliki jiwa dan mendengar pertanda Tuhan, walau bagi pandangan lahiriah manusia, mereka tampak membisu.” Jika demikian, hutan, laut, angin, bahkan bebatuan, sesungguhnya sedang menjalankan ibadah dan zikir dengan caranya masing-masing. Manusia justru menjadi makhluk yang paling sering lupa pada tugas penghambaan itu.
Di sinilah makrifat menemukan jalannya melalui ekologi. Makrifat sering dipahami sebagai pengalaman mengenal Allah yang begitu tinggi sehingga tampak eksklusif dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, jalan menuju pengenalan (ma’rifatullah) tidak selalu melewati ruang-ruang sunyi atau ritual khalwat yang panjang. Kadang-kadang ia justru hadir ketika seseorang belajar melihat alam sebagai tanda-tanda kasih sayang Tuhan. Semakin dalam seseorang memahami keteraturan dan keharmonisan ciptaan-Nya, semakin tumbuh kesadaran intuitif akan kebesaran Sang Pencipta.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin mengingatkan bahwa hati yang bersih mampu membaca hikmah pada setiap ciptaan. Sebaliknya, hati yang dipenuhi keserakahan hanya melihat dunia sebagai objek kepentingan. Karena itu, kerusakan lingkungan sesungguhnya tidak bermula dari krisis teknis-ekologis semata, melainkan berakar dari krisis spiritual dan krisis batin manusia. Bagaimana tidak, ketika keserakahan menjadi cara hidup, pohon ditebang tanpa rasa cukup, sungai dicemari tanpa penyesalan, dan udara dipenuhi asap tanpa memikirkan generasi yang akan datang. Alam rusak bukan karena kehilangan keseimbangannya sendiri, tetapi karena manusia kehilangan keseimbangan jiwanya.
Menjadikan Aksi Ekologis sebagai Latihan Spiritual
Modernitas memang membawa banyak kemudahan, tetapi di sisi lain juga melahirkan ilusi antroposentris, bahwa manusia adalah pusat dan penguasa dari segala sesuatu. Dengan teknologi yang semakin canggih, kita merasa mampu mengendalikan bahkan menguasai alam sepenuhnya. Padahal, perubahan iklim, banjir, kekeringan, dan berbagai bencana ekologis mengingatkan bahwa manusia tetap bagian kecil dari tatanan kosmis yang jauh lebih besar. Artinya, Alam selalu memiliki cara untuk menunjukkan batas kemampuan manusia.
Dalam perspektif tasawuf, menjaga lingkungan bukan sekadar tindakan etis atau gerakan sosial normatif. Ia merupakan latihan spiritual (riyadhah). Menanam pohon dapat menjadi bentuk syukur. Menghemat air dapat menjadi wujud menjaga amanah khalifah fil ardh. Tidak membuang sampah sembarangan bisa menjadi ekspresi ihsan, karena seseorang telah dan terus sadar bahwa setiap tindakannya disaksikan oleh Allah. Ketika kesadaran spiritual menyatu dengan tindakan ekologis, ibadah tidak lagi terbatas pada sajadah di dalam ruang shalat, tetapi meluas hingga cara kita memperlakukan bumi.
Barangkali selama ini kita terlalu sering mencari Tuhan di tempat-tempat yang jauh, sementara jejak-Nya terbentang jelas di sekitar kita. Bahkan setiap embun yang menempel di daun, setiap burung yang kembali ke sarangnya, dan setiap benih yang tumbuh dari tanah mengandung pelajaran tentang kehidupan yang terus diperbarui oleh kehendak-Nya. Alam tidak pernah berhenti berzikir. Pertanyaannya bukan apakah Tuhan menghadirkan tanda-tanda-Nya, melainkan apakah hati kita masih memiliki kepekaan untuk membacanya.
Krisis lingkungan yang kita hadapi hari ini bukan sekadar panggilan teknis untuk memperbaiki bumi. Ia adalah tamparan sekaligus panggilan spiritual untuk memperbaiki cara kita memandang kehidupan. Sebab, ketika manusia kembali melihat alam sebagai manifestasi ayat-ayat Tuhan, menjaga lingkungan tidak lagi terasa sebagai beban aturan. Ia berubah menjadi jalan pulang, yakni jalan yang mengantarkan manusia dari kekaguman pada keindahan ciptaan menuju pengenalan yang lebih mendalam (makrifat) kepada Sang Pencipta. Barangkali di sanalah ekologi dan tasawuf akhirnya bertemu.