ARTIKEL

Paradigma Islam Cinta dalam Khazanah Kitab Kuning (Bagian 1)

Juni 5, 2026
6 menit membaca

Tulisan ini menjelaskan tentang Paradigma Islam Cinta dalam khazanah kitab kuning yang berfokus pada pembahasan tentang welas asih kepada sesama manusia, sesama muslim, para pendosa, dan binatang. Paradigma Islam Cinta (PIC) sendiri mengacu kepada pemahaman keislaman yang berfokus kepada prinsip utama Islam, yaitu spiritualitas, cinta dan welas asih, dan akhlak mulia. Ia pertama kali digagas oleh pemikir muslim Indonesia pendiri Gerakan Islam Cinta (GIC), Haidar Bagir, dalam karyanya, Manifesto Islam Cinta (2022).

Secara genealogi pemikiran Islam, gagasan Paradigma Islam Cinta ala Haidar Bagir ini memiliki akar yang sangat kuat jika ditautkan dengan khazanah kitab kuning, yaitu kitab yang ditulis dengan huruf Arab tanpa harakat dan menjadi bahan pelajaran di pondok pesantren (Kamus Besar Bahasa Indonesia VI). Sebab, salah satu ajaran luhur Islam yang menjadi bahasan pokok dalam beberapa kitab kuning adalah welas asih kepada sesama makhluk, baik manusia (baik muslim maupun nonmuslim, baik ahli ibadah maupun ahli maksiat) maupun binatang. Tentu ajaran luhur Islam tentang welas asih kepada sesama makhluk yang disebutkan dalam kitab kuning ini sangat penting disebarluaskan di era disrupsi yang penuh dengan kebencian, permusuhan, dan pertikaian.

Beberapa contoh kitab kuning yang secara jelas membahas welas asih dalam bahasan khusus adalah Tanbīh al-Gāfilīn karya Abū al-Layś as-Samarqandī dalam “Bāb ar-Raḥmah wa asy-Syafaqah (Bab tentang Kasih Sayang dan Kemurahan Hati)”, Mukāsyafah al-Qulūb al-Muqarrib ilā Ḥaḍrah ‘Allām al-Guyūb fī ‘Ilm at-Taṣawwuf karya (yang dinisbahkan kepada) Abū Ḥāmid al-Gazālī dalam “al-Bāb aś-Śāmin ‘Asyara fī Faḍl at-Taraḥḥum (Bab Ke-18 tentang Keutamaan Kasih Sayang)”, dan Tanbīh al-Mugtarrīn Awākhir al-Qarn al-‘Āsyir ‘alā mā Khālafū fīhi Salafahum aṭ-Ṭāhir karya asy-Sya‘rānī dalam “wa min Akhlāqihim raḍiyallāhu ta‘ālā ‘anhum Kaśrah asy-Syafaqah ‘alā al-Muslimīn aṭ-Ṭā’i‘i wa al-‘Āṣī wa ‘alā Sā’iri al-Ḥayawānāt (Sebagian dari Akhlak para Salaf aṣ-Ṣāliḥ―Semoga Allah ta‘ālā Meridai Mereka―Adalah Memiliki Kasih Sayang yang Banyak kepada Umat Islam, baik yang taat maupun yang durhaka, dan kepada Sekalian Binatang)” dan “wa min Akhlāqihim raḍiyallāhu ta‘ālā ‘anhum Raḥmah al-‘Ūṣāh wa ‘Adamu Izdirā’ihim wa Fidā’uhum bi Anfusihim (Sebagian dari Akhlak para Salaf aṣ-Ṣāliḥ―Semoga Allah ta‘ālā meridai mereka―adalah mengasihi para pendosa dan tidak merendahkannya serta kerelaan mereka untuk menjadi penebus bagi para pendosa tersebut)”.

Welas Asih kepada Sesama Manusia

Welas asih kepada sesama manusia sangat ditekankan dalam Islam dan memiliki pijakan dalil yang sangat kuat, baik dari firman Allah maupun sabda Rasulullah saw. Menurut Ṭāwūs r.a. (tabiin), inti ajaran kitab suci Taurat, Injil, dan Al-Qur’an adalah tiga. Pertama, takut kepada Allah dengan rasa takut yang tidak ada seorang pun lebih ditakuti daripada-Nya. Kedua, berharap kepada Allah dengan harapan yang melebihi rasa takut kepada-Nya. Ketiga, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri (Tanbīh al-Gāfilīn, hlm. 140). Adapun beberapa firman Allah kepada para nabi (seperti Nabi Adam a.s., Nabi Isa a.s., dan Nabi Muhammad saw.) yang menjelaskan tentang pentingnya welas asih kepada sesama manusia adalah sebagai berikut.

Pertama, Allah berfirman kepada Nabi Adam a.s., “Wahai Adam, ada empat kumpulan kebaikan untukmu dan keturunanmu. Satu kebaikan untuk-Ku; satu kebaikan untukmu; satu kebaikan antara diri-Ku dan dirimu; dan satu kebaikan antara dirimu dan orang lain. Satu kebaikan untuk-Ku adalah engkau harus menyembah-Ku dan tidak menyekutukan-Ku dengan apa pun. Satu kebaikan untukmu adalah Aku akan membalas amal baikmu saat kamu sangat membutuhkannya (pada hari kiamat kelak). Satu kebaikan antara diri-Ku dan dirimu adalah engkau harus berdoa kepada-Ku dan Aku pun akan mengabulkannya. Adapun satu kebaikan antara dirimu dan orang lain adalah engkau harus memperlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan.” (Tanbīh al-Gāfilīn, hlm. 140).

Kedua, Allah berfirman dalam kitab Injil, “Wahai anak Adam, sebagaimana engkau sudah disayangi (oleh Allah), maka sayangilah (makhluk Allah). Bagaimana mungkin kamu mengharap Allah akan menyayangimu, sedangkan kamu tidak menyayangi hamba-hamba-Nya.” 

Ketiga, Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Fatḥ (48): 29, “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka.”

Menurut Imam Abū al-Layś, ayat tersebut merupakan sanjungan Allah kepada para sahabat Nabi Muhammad saw. karena mereka memiliki sifat welas asih kepada sesama. Dalam hal ini, para sahabat tidak hanya mengasihi sesama muslim, tetapi juga mengasihi nonmuslim dan sekalian makhluk. Oleh karena itu, baik Imam Abu al-Layś maupun Imam al-Gazālī, sama-sama mengharuskan setiap muslim untuk meniru dan mengikuti sifat welas asih para sahabat tersebut (Tanbīh al-Gāfilīn, hlm. 139-140 & Mukāsyafah al-Qulūb, hlm. 61).

Adapun beberapa hadis yang menyebutkan tentang pentingnya welas asih kepada sesama manusia adalah sebagai berikut. Pertama, “Tidak akan masuk surga, kecuali orang yang penyayang.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kami semua adalah orang yang penyayang.” Nabi saw. menjawab, “Orang yang penyayang itu bukan orang yang menyayangi dirinya sendiri secara khusus. Akan tetapi, orang yang penyayang itu adalah orang yang menyayangi dirinya dan orang lain.”

Makna menyayangi diri sendiri adalah mengasihi diri agar tidak terkena siksa Allah dengan cara meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat dan bertobat dari perbuatan maksiat yang sudah dilakukan serta melaksanakan ketaatan-ketaatan dan ikhlas dalam melaksanakannya. Adapun makna menyayangi orang lain adalah tidak menyakitinya, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Makna ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad saw., yaitu “Muslim sejati adalah seorang muslim yang orang lain merasa aman dari gangguan tangan dan lidahnya.” Artinya, muslim sejati tidak akan menyakiti orang lain, baik dengan lisannya maupun dengan perbuatannya (Tanbīh al-Gāfilīn, hlm. 138 & Mukāsyafah al-Qulūb, hlm. 60-61).

Kedua, Orang-orang yang menyayangi akan disayangi oleh Tuhan Yang Maha Penyayang. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, maka kalian akan disayangi oleh makhluk yang ada di langit.” Ketiga, “Barang siapa yang tidak menyayangi manusia, maka ia tidak akan disayangi oleh Allah.” Keempat, “Sesungguhnya Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak mau menyayangi (sesama) dan tidak akan mengampuni orang yang tidak mau mengampuni (orang lain) serta tidak akan menerima tobatnya orang yang tidak mau menerima tobatnya orang lain (kepadanya).” (Tanbīh al-Gāfilīn, hlm. 140 & Mukāsyafah al-Qulūb, hlm. 61).

Selain firman Allah dan sabda Rasulullah saw. tersebut, terdapat juga perkataan sahabat dan tabiin tentang pentingnya welas asih kepada sesama manusia. Pertama, ‘Ammār bin Yāsir r.a. (sahabat) berkata, “Barang siapa yang mengumpulkan tiga hal dalam dirinya, maka dia telah mengumpulkan seluruh keimanan, yaitu (1) berinfak pada waktu miskin, (2) bersikap adil dan jujur kepada dirinya sendiri, dan (3) menebarkan salam (perdamaian) kepada makhluk-makhluk Allah.

Kedua, ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz r.a. (tabiin) berkata, “Ada tiga perbuatan yang paling dicintai oleh Allah, yaitu (1) mengampuni orang lain (yang pernah menyakitinya) ketika mampu membalasnya, (2) tidak melampaui batas (bersikap tenang) ketika sedang marah, dan (3) bersikap lemah lembut kepada hamba-hamba Allah. Ketika seorang hamba bersikap lemah lembut kepada hamba-hamba Allah, maka Allah akan bersikap lemah lembut kepadanya (Tanbīh al-Gāfilīn, hlm. 140). Wallāhu A‘lam wa A‘lā wa Aḥkam.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Alumni Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Konsentrasi Kajian Maqasid dan Analisis Strategi dan Pengajar di Madrasah Diniyah Awwaliyah Nurul Jadid Pamekasan

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan