Pemikir dan sufi yang satu ini lebih populer dengan nama Sari As-Saqati. Ia bernama lengkap Abul Hasan Sari As-Saqati. Tidak diketahui kapan dan di mana ia lahir. Ia merupakan paman Junaid al-Bagdadi dari pihak ibu. Oleh sebab itu, nasabnya tentu tidaklah sembarangan.
Diyakini, ia merupakan penyuguh ajaran sufisme Islam secara sistematis. Bahkan, ia dianggap sebagai imam dan syekh dari orang-orang Irak. Sari As-Saqati sangatlah populer di negara Irak, terutama di Bagdad. Ia dianggap sebagai ulama paling warak pada abad ke-2 Hijriah. Selain itu, ia juga dikenal sebagai ulama berilmu tinggi dan alim.
Kealimannya di bidang ilmu-ilmu agama, terutama di bidang ilmu tasawuf, menempatkannya sebagai guru dari para ulama besar di Bagdad. Di antara ulama yang menjadi murid dari Sari As-Saqati adalah Samun, Khaldi, al-Junaid, dan Habib ar-Ra’i. Dari nama-nama tersebut, al-Junaid jelas yang paling masyhur.
Sari As-Saqati dikenal luas sebagai sufi yang sudah disiplin yang tinggi dan kesanggupan yang total dalam mencapai maqam kewalian. Pasalnya, ia rajin beribadah kepada Allah SWT. Boleh dikatakan bahwa ia termasuk seorang hamba yang berhasil menghiasi seluruh waktu hidupnya dengan Allah SWT. Wajar bila kemudian Allah SWT begitu mencintainya hanya untuk beribadah, bermunajat, dan bertakarub kepada-Nya sebagaimana ia juga sangat mencintai Tuhannya.
Ia wafat pada 253 Hijriah atau tahun 867 Masehi. Jenazahnya dikuburkan di Bagdad. Ribuan orang melayat dan mengantarkan Sari As-Saqati ke tempat peristirahatan terakhirnya. Mereka semua berduka atas kepergian sang guru besar, sang wali agung, yang derajat kewaliannya diakui oleh banyak ulama terkemuka di masa itu.
Tidak Cinta Dunia
Konon, Sari As-Saqati tidak pernah sudi memasukkan perkara duniawi dalam hatinya. Meskipun profesinya adalah pedagang, ia tidak sudi menghabiskan banyak energinya untuk benar-benar mengurusi perdagangannya.
Pernah suatu ketika ia menyumbangkan semua barang dagangannya dan seluruh hasil jualannya untuk membantu fakir miskin sebagai wujud penjagaan dirinya agar tidak terlena dengan urusan perdagangan. Ia seakan-akan membatasi dirinya agar tidak terlena dalam perkara duniawi.
Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa pada suatu ketika salah seorang murid dari Sari As-Saqati, yakni Habib Ar-Ra’i, berkunjung ke toko gurunya. Sari As-Saqati lantas menitipkan sesuatu kepada muridnya itu agar pemberiannya itu nanti disumbangkan kepada orang-orang miskin.
Habib Ar-Ra’i lantas bertanya kepada gurunya, “Mengapa engkau berbuat demikian, ya Syekh?” Sari As-Saqati menjawab, “Perkara dunia sudah tidak menarik hatiku lagi. Oleh sebab itu, semua hal yang dapat merusak kedamaian hatiku mesti kuberikan kepada orang lain.” Kisah tersebut menjadi bukti bahwa Sari As-Saqati benar-benar menjauhi perkara dunia, sekalipun ia hidup di dalamnya, kekuatan yang sifatnya gaib.
Pada suatu hari, Junaid al-Bagdad mengunjungi pamannya, Sari As-Saqati, yang kebetulan tengah bersedih. Sang paman sedang meneteskan air matanya, seakan-akan peristiwa besar telah terjadi. Untuk mengetahui keadaan pamannya itu, Imam Junaid bertanya, “Peristiwa apa yang sesungguhnya sudah terjadi sehingga membuatmu menjadi bersedih hati, Paman?”
Sari As-Saqati menjawab, “Pada malam ini, sebenarnya aku sudah berniat hendak menggantungkan sekendi air untuk didinginkan agar aku dapat menggunakannya untuk minum. Di dalam mimpi, aku lalu bertemu dengan seorang bidadari yang sangat cantik.”
“Aku lantas bertanya kepadanya, “Siapakah yang memilikimu? Kemudian ia menjawab bahwa dirinya adalah milik seseorang yang tidak mendinginkan air dengan menggantungkan kendi. Setelah itu, bidadari tersebut menghempaskan kendiku ke atas tanah ini. Saksikanlah olehmu sendiri, Junaid! Kendi itu benar-benar hancur di lantai ini.”
Mendengar kisah pamannya tersebut, Junaid hanya dapat terpaku diam. Apalagi ia mendapati sendiri bahwa pecahan-pecahan kendi yang dihempaskan oleh bidadari dalam mimpi pamannya tersebut masih dibiarkan tergeletak di atas lantai.
Junaid tampaknya memahami bahwa mimpi pamannya itu ternyata juga telah terjadi di dunia nyata. Jadi, kendi yang hancur dilemparkan oleh bidadari dalam mimpi As-Saqati ternyata juga hancur di dalam dunia nyata.
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa Sari As-Saqati dapat mengalami peristiwa-peristiwa gaib yang tidak dialami oleh orang awam. Peristiwa aneh tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa Allah SWT telah memberikan kepada Sari As-Saqati kemuliaan yang agung.
Tidak seperti kebanyakan orang awam, ia memiliki kekuatan-kekuatan yang sifatnya gaib. Ia bisa bertemu dengan bidadari maupun penduduk alam kubur, baik di dunia mimpi maupun di dunia nyata.
Tentu saja, peristiwa ganjil semacam ini tentu hanya diberikan kepada orang-orang yang sudah terbuka mata batinnya sehingga seolah-olah pintu keagungan sudah terbuka untuk mereka. Hal inilah yang sesungguhnya berlaku pada Sari As-Saqati. Allah SWT tampaknya sudah membuka mata batinnya sehingga ia dapat menyaksikan sendiri perkara-perkara gaib yang tidak sembarang orang dapat menyaksikannya.
Kalam Hikmah Sari As-Saqati
“Ada dua cara untuk sampai kepada Allah. Yang pertama dengan mengerjakan semua yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Sedangkan yang kedua adalah dengan meninggalkan segala-galanya selain Allah.”
Syahdan. Dalam kehidupan manusia di dunia yang fana, Allah SWT merupakan tujuan tertinggi, teragung, dan paling hakiki. Oleh sebab itu, segala hal yang kita lakukan di dunia semestinya diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Tanpa disadari, melalui perkatannya, Sari As-Saqati menawarkan dua jalan agar cepat sampai ke hadirat-Nya. Yang pertama adalah dengan mengerjakan segala yang diperintahkan-Nya dalam Al-Qur’an, sedangkan yang kedua adalah meninggalkan segala hal selain-Nya.
Dua jalan yang ditawarkan oleh Sari As-Saqati tersebut tentu bukanlah jalan yang mudah untuk ditempuh. Kita hanyalah manusia biasa yang boleh jadi memiliki banyak kelemahan, kesalahan, dan kekurangan.
Adakalanya kita menerjang larangan-larangan-Nya. Adakalanya pula kita senantiasa melalaikan segala perintah-Nya. Padahal, amat jelas dan tegas, Allah SWT menunjukkan perintah dan larangan-Nya dalam Al-Qur’an.
Karena itu, jalan pertama maupun kedua yang ditawarkan oleh Sari As-Saqati bukanlah jalan yang mudah, melainkan jalan sulit yang mesti ditempuh dengan kesungguhan hati, kebulatan tekad, ketulusan niat, dan cinta yang mendalam kepada-Nya.
Sebab jalan menuju Allah SWT senantiasa berliku, penuh cobaan, upan, dan rintangan. Hanya orang-orang berimanlah yang akan sukses menempuh jalan yang sulit tersebut agar sampai kepada Allah SWT.
Dengan demikian, untuk sampai kepada Allah SWT diperlukan usaha yang keras. Kita tidak boleh berdiam diri, apalagi menerjang seluruh larangan-larangan-Nya. Semestinya, kita mengoptimalkan seluruh potensi yang telah Allah SWT karuniakan kepada diri kita hanya untuk mengabdi kepada-Nya. Seluruh anugerah dan nikmat yang telah Allah Swt. berikan mestinya kita gunakan untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Namun demikian, kita tetaplah harus sadar diri bahwa segala kebaikan atau pengabdian yang kita kerjakan hanya untuk Allah SWT tersebut sejatinya belum apa-apa di hadapan-Nya. Untuk sampai kepada-Nya dalam keadaan selamat, selain mengerjakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, kita mesti senantiasa berharap agar Allah SWT memberikan rahmat dan bergantung pada rahmat dan rida-Nya, bukan pada ibadah kita. Sebab, keselamatan diri kita kelak sejatinya tetaplah
Tabir dan Hijab Ketuhanan
“Wahai Allah, berilah siksaan kepadaku. Namun jangan Engkau campakkan aku dengan hina tertutupnya hijab rahasia-Mu. Sebab dengan terbukanya hijab rahasia-Mu itu, siksaanku akan terkurangi. Sebaliknya, jika hijab itu menutupi rahasia-Mu, niscaya rahmat-Mu akan terputus untukku.”
Allah SWT adalah Tuhan yang lahir dan batin. Untuk memandang hadirat-Nya sebagai Tuhan yang nyata atau yang lahir, tentu tidaklah sama sebagaimana kita melihat makhluk-makhluk-Nya yang berwujud di dunia.
Dengan kata lain, segala sesuatu yang lahir dapatlah kita saksikan dengan mata kepala kita, namun hal demikian tidaklah berlaku pada Allah Swt. Tidaklah mungkin bagi mata kepala kita untuk menjangkau-Nya.
Artinya, untuk “melihat” Allah SWT sebagai Tuhan yang lahir, kita harus menggunakan bashirah atau mata batin. Namun, mata batin tersebut mestilah diasah terlebih dahulu sehingga akan semakin tipis hijab antara kita dengan-Nya. Selama masih tebal hijab kita dengan-Nya, selama itu pula pasti akan amat sulit bagi mata batin kita untuk bisa menemukan dan menjangkau hadirat-Nya.
Tak heran jika dalam doanya yang sederhana, Sari As-Saqati berharap agar Allah SWT senantiasa membuka hijab rahasia-Nya. Kalaupun mesti memperoleh siksaan terlebih dahulu, tidaklah mengapa, asal Allah SWT tidak menutup hijab-Nya.
Kenapa demikian? Karena dengan terbukanya hijab rahasia-Nya, niscaya akan terkuranglah siksaan tersebut. Sebaliknya, jika hijab itu menutupi rahasia-Nya, niscaya rahmat-Nya akan terputus.
Dengan demikian, agar hijab kita dengan Allah SWT menjadi tipis, mengasah mata batin menjadi suatu yang niscaya bagi diri kita. Mata batin ini hanya bisa diasah dengan kesungguhan hati dan kebulatan niat untuk senantiasa mengabdi kepada-Nya. Pada saat bersamaan, mestilah kita membebaskan mata batin kita dari pengaruh hawa nafsu dan kesenangan duniawi. Artinya, hati kita mestilah “sepi” dari dunia, namun “ramai” oleh Allah SWT.
Artinya, sepi dari dunia adalah segala hal yang sifatnya duniawi; janganlah sampai membuat kita lalai dari pengabdian kepada-Nya. Sementara itu, yang dimaksud dengan ramai dengan Allah SWT adalah bahwa hati kita mesti senantiasa mengingat dan memuji keagungan-Nya. Dengan begitu, akan terasahlah mata batin kita sehingga akan terbuka hijab rahasia-Nya.
Bukankah kesenangan-kesenangan duniawi itu hanya sebentar dan tidak kekal, maka janganlah sampai hati kita terperdaya dengan kesenangan-kesenangan dunia. Apalagi bila sampai kita lalai dari memperhatikan urusan akhirat; lalai terhadap perintah Allah SWT dan segala larangan-Nya. Padahal jelas bagi kita bahwa mata batin kita hanya akan keruh bila kita senantiasa lalai dari-Nya. Apabila hati sudah keruh, tentu akan amat sulit bagi kita untuk melihat hadirat-Nya. Wallahu a’lam bisshawab.
Tentang Penulis: Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.