Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Ramadan: Sarana Berbisnis dengan Allah

Habib Umar bin Hafizh: Simbol Keulamaan yang Menjulang dalam Balutan Keterbukaan dan Kesantunan

Di kota kecil Tarim, Hadhramaut—sebentangan luas lembah yang sejak berabad-abad dikenal sebagai taman ilmu dan dan tradisi spiritual keagamaan—lahirlah seorang anak pada tanggal 4 Muharram 1383 H / 27 Mei 1963 M. Namanya ‘Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, kelak dikenal dunia sebagai Habib Umar bin Hafizh.

Sejak awal, darah keilmuan dan cinta kepada Islam mengalir deras dalam dirinya. Betapa tidak? Ayahnya adalah Habib Muhammad bin Salim bin Hafizh, mufti Tarim yang dihormati. Namun jalan hidupnya tidak dimulai dengan kemudahan. Pada usia sembilan tahun, ayah yang beliau cintai itu dibunuh oleh rezim komunis Yaman Selatan. Tubuhnya tak pernah ditemukan, tetapi warisan spiritualnya tak pernah padam. Dari kehilangan itulah Habib Umar kecil belajar bahwa cinta kepada Allah sering kali ditempa oleh ujian dan kesabaran.

Sejak muda, Habib Umar menempuh jalan ilmu dengan tekad dan kesungguhan yang luar biasa. Ia berguru kepada para habib dan ulama besar di berbagai penjuru negeri: Tarim, Al-Bayda’, Al-Hudaydah, Taiz, hingga Makkah dan Jeddah. Dari Habib ‘Abd al-Qadir as-Saqqaf, beliau belajar kelembutan hati. Dari Habib Ahmad Mashhur al-Haddad, ia menyerap semangat dakwah lintas benua; dan dari Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki, beliau memahami bahwa cinta kepada Rasul adalah poros seluruh kehidupan beragama.Kecerdasannya luar biasa. Ia menghafal ribuan hadis, menguasai tafsir, fikih, dan tasawuf. Namun, sesungguhnya, yang membuatnya menonjol bukanlah keluasan ilmu itu, melainkan kelembutan tutur dan keluhuran budi pekertinya.

Pembawaan beliau tenang dan santun. Ketika ditanya mengapa beliau selalu tersenyum, beliau menjawab. “Aku tak ingin wajahku menjadi penghalang antara manusia dan rahmat Allah.” Sekembalinya ke Tarim pada awal 1990-an, beliau mendirikan Dar al-Mustafa, lembaga ilmu yang kini menjadi salah satu tonggak spiritual dunia Islam. Di sana, para penuntut ilmu datang dari berbagai bangsa—Timur dan Barat—duduk bersila di lantai-lantai batu, diajar bukan hanya ilmu, melainkan juga adab. Memang metode pendidikan di Dar al-Mustafa berakar pada tiga pilar: tazkiyah (penyucian jiwa), ta‘lim (pengajaran), dan da‘wah (pengamalan ilmu).

Baca Juga:  Tentang Neraka

Bagi Habib Umar, pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses pembentukan hati. Beliau sering berkata. “Pendidikan yang benar bukanlah yang hanya melahirkan kepandaian, tetapi yang menumbuhkan kasih sayang.”

Beliau menolak dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia. Bagi beliau, semua ilmu berasal dari sumber yang sama—Allah—dan semuanya harus dikembalikan untuk kemaslahatan makhluk. Karena itu, beliau mendorong umat Islam untuk menguasai ilmu modern sekaligus menjaganya dengan akhlak luhur. Beliau mengajarkan bahwa berdakwah sama sekali tak terbatas hanya dengan menjadi ustadz atau kiai. Setiap orang bisa berdakwah dengan cara menjalankan profesinya—apa pun itu, dokter, insinyur, guru, dsb—dengan sebaik-baiknya, sehingga bisa menjadi teladan kebaikan bagi yang lainnya.

Habib Umar menegaskan bahwa inti pendidikan adalah meneladani Rasulullah. Menurut Habib Umar, jika seorang murid tumbuh mencintai Nabi, ia tak akan pernah mencintai keburukan. Di situlah terletak resep keberhasilan seorang pendidik. Habib Umar dikenal sebagai keturunan Nabi, dari jalur Sayyidina Husain, tetapi beliau tidak pernah menjadikan nasab itu sebagai sumber kebanggaan. Dalam banyak kesempatan, beliau menegaskan bahwa kemuliaan nasab hanyalah amanah, bukan jaminan kebaikan atau keselamatan. Bahwa masalah keturunan Nabi sesungguhnya lebih terkait dengan tanggung jawab kebaikan akhlak dan amal shaleh.

Beliau menegaskan bahwa Allah tidak melihat pada nasab, tetapi pada kebersihan hati, keluhuran akhlak, dan keikhlasan amal. Maka, siapa pun yang meneladani Nabi dengan cinta dan akhlak, ia termasuk bagian dari keluarga besar beliau.

Dalam perjalanan dakwahnya yang melintasi banyak negeri dan mazhab, Habib Umar bin Hafizh selalu menegaskan bahwa rahmah (kasih sayang) adalah asas seluruh ajaran Islam—dan rahmah itu mencakup siapa pun yang bersyahadat, bahkan mereka yang berbeda pandangan, tradisi, atau mazhab. Selama seseorang masih mengatakan Laa ilaaha illalLaah, Muhammadur Rasulullah, maka darahnya, kehormatannya, dan hartanya adalah suci di sisi Allah.

Baca Juga:  Seni Agar Allah Jatuh Cinta ala Sufi (Bagian 3)

Habib Umar bin Hafizh menafsirkan ungkapan rahmah lil-‘alamin (QS. 21:107) secara luas, mencakup seluruh makhluk, bahkan non-Muslim dan alam semesta. Pada tahun 2007, beliau termasuk penandatangan awal surat A Common Word Between Us and You—seruan dialog kasih antara pemimpin Muslim dan Kristen, berbasis dua prinsip Alkitab dan Al-Qur’an: cinta kepada Tuhan dan cinta kepada sesama manusia. Sambil lalu saya sampaikan di sini, bahwa Habib Umar menegaskan kebolehan bagi seorang Muslim untuk memberikan ucapan selamat kepada umat Kristiani pada hari Natal, selama ucapan tersebut tidak mengandung pengakuan terhadap doktrin-doktrin yang bertentangan dengan akidah Islam.

Seperti beberapa pernyataan Habib Umar yang lain, pernyataan ini bukannya tidak menimbulkan kontroversi. Tidak sedikit orang dari kalangan habaib sendiri yang tidak setuju kepada pendapat beliau ini. Tetapi bukan Habib Umar jika beliau tidak teguh dengan keyakinannya, meski itu berbeda dengan pendapat orang lain. Dan yang tidak boleh dilupakan, betapa pun berbedanya dengan pandangan orang lain, Habib Umar selalu menyatakan pandangannya dengan tenang, dan santun, disertai argumen secukupnya, sehingga tidak menimbulkan permusuhan dengan siapa pun.

Beliau pun selalu bersikap lembut dan santun kepada kelompok-kelompok yang berbeda pandangan dengan beliau—bahkan kepada kelompok-kelompok yang mengkritik keyakinan beliau. Terhadap kelompok Salafi—walaupun sebagian dari mereka bersikap keras terhadap tradisi sufi yang beliau ajarkan—beliau tetap  menunjukkan kesabaran dan menghindarkan sikap reaktif, seraya menonjolkan prinsip persaudaraan.

Terhadap kaum Syiah yang sering dimusuhi sebagian kaum Muslim sendiri, Habib Umar mengambil posisi yang juga moderat. Beliau menolak menyesatkan mereka secara indiskriminatif, dengan menyatakan bahwa Syiah pun bergolong-golongan. Dan bahwa ada di antara mereka yang tidak ekstrem (ghuluw) sehingga beliau menganjurkan siapa pun untuk berinteraksi secara baik (ma’ruf) dengan mereka.

Baca Juga:  Dzun Nun Al-Mishri dan Teori Makrifat

Beliau menegaskan bahwa akar perpecahan umat tidak akan disembuhkan dengan debat dan pertengkaran, melainkan dengan kasih dan pengetahuan. Ia mengakui bahwa sejarah penuh luka yang mengakibatkan trauma dan dendam, tetapi beliau juga menekankan bahwa rahmah harus dan selalu bisa menjadi jembatan dan solusi bagi seluruh masalah umat.

Melalui pendidikan di pesantren, ceramah, dan inisiatif lintas iman, beliau menghidupkan kembali wajah Islam yang penuh damai dan penghormatan terhadap kemanusiaan universal. Menurut beliau, cinta kepada Allah adalah cahaya yang jika benar, akan membuat semua orang mencintai seluruh ciptaan-Nya.

Previous Article

Berdramaturgi dengan Uzlahnya Imam Al-Ghazali

Next Article

Imajinasi dan Moralitas: Sebuah Renungan terhadap Pemikiran Haidar Bagir

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *