Hari ini kita bersilaturahmi dengan pemikiran Sang Bijak Bestari, Maulana Jalaluddin Rumi untuk menghayati ibadah shalat. Ia memaknai shalat bukanlah sekadar ibadah ritual yang kering akan makna. Menurutnya ibadah ini adalah perjumpaan jiwa dengan Tuhan, tempat segala kesadaran, dan harapan bertemu dalam ruang batin.
Dalam magnum opusnya, Mastnawi Ma’nawi, Rumi memaknai shalat dengan imajinasi yang unik yaitu sebagai reka adegan di Padang Mahsyar. Al-Qur’an me-mention Padang Mahsyar ialah suatu tempat di mana manusia berdiri dan dikumpulkan untuk mempertanggung jawabkan semua aktivitas di alam dunia dengan sangat adil dan bijaksana, dan pada hari itu semua manusia sibuk dengan diri sendiri (baca: chaos) sebagaimana yang dideskripsikan oleh Al-Qur’an:
“(Yaitu) hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit. Mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (QS. Ibrahim [14]: 48)
“Bumi (padang Mahsyar) menjadi terang benderang dengan cahaya Tuhannya, buku (catatan amal) diberikan (kepada setiap orang), para nabi dan para saksi pun dihadirkan, lalu diberikan keputusan di antara mereka secara adil dan mereka tidak dizalimi.” (QS. Az-Zumar [39]: 69)
“(Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak. Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 88-89)
Menurut Rumi saat kita mendirikan shalat dalam posisi berdiri itu seakan-akan kita berada di Padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Tuhan Sang Maha Lembut, bertanya, “Dari sekian nikmat dan kesempatan yang telah Aku berikan, apakah kau gunakan sebaik-baiknya? Bagaimana engkau memanfaatkan nikmat telinga, mata, kecerdasan, tangan, dan kaki?” (Lihat: Afifah Ahmad, Ngaji Rumi).
Pertanyaan itu tak cukup dijawab dengan lisan, tetapi dijawab dengan hati, dengan rasa malu, dengan kesadaran akan semua kekurangan diri karena terlalu banyak menyia-nyiakan waktu dan fasilitas-Nya. Maka, hamba itu tak sanggung menjawab, dan sebagai bentuk pengakuannya, ia tertunduk dalam rukuk, membungkuk sebagai tanda penyesalan yang dalam sambil berucap, “Subhana rabbiyal ‘adhimi wabihamdih: Maha Suci Tuhanku Yang Agung, dan segala puji baginya.”
Tuhan memerintahkan kembali hambanya untuk berdiri (setelah rukuk) dan melontarkan pertanyaan yang sama. Tetapi karena sang hamba itu masih belum mampu menjawab, ia pun makin tersungkur hingga bersujud, sebagai simbol menyerahkan seluruh dirinya, meluruhkan ego yang selama ini melekat dalam diri, dan menangis dalam diam di hadapan Sang Pencipta, sambil berucap: “Subhana rabbiyal a’la wabihamdih; Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi dan segala puji baginya.”
Hamba itu berusaha menjawab pertanyaan Tuhannya, lalu perlahan bangun dari sujudnya hingga posisi duduk sambil berucap dalam deraian air mata: “Rabbighfirli, warhamni, wajburni, warfa’ni, warzuqni, wahdini, wa’afini wa’fu’anni; Tuhanku ampunilah aku, rahmati diriku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, berilah petunjuk kepadaku, sehatkanlah aku, dan maafkan diriku.” Demikian seterusnya sampai tiba pada gerakan tahiyat akhir lalu salam.
Masih menurut Rumi, “Ketika menengok ke kanan dan mengucap salam, ia mencari sosok para Nabi dan orang-orang mulia. Lalu bermunajat, “Berikanlah syafaatmu, duhai kekasih Allah pada hamba yang berlumur dosa dan kekhilafan.”
Salam bukan hanya ucapan penutup, tetapi seruan batin yang menggambarkan kerendahan hati dan pengakuan akan kelemahan diri. Ini menegaskan bahwa syafaat bukan hanya harapan di akhirat, tetapi juga kekuatan yang menggerakan jiwa untuk berubah sejak sekarang.
Pemaknaan shalat yang diajukan Rumi ini membuat jiwaku tak berdaya, kalau mau jujur shalat yang selama ini kita—terutama saya—lakukan dengan terburu-buru sampai kecepatan penuh ternyata hanya mengugurkan kewajiban, hingga lupa apa yang diperoleh setelah shalat. Padahal kata Nabi, shalat itu ialah penyempurna jiwa (self healing).
Oleh Rumi lewat shalat kita diajak journaling sambil bermuhasabah (introspeksi diri) sejenak untuk memulihkan mental sambil bertanya apakah hidup ini sudah dijalani dengan kesadaran penuh (mindfulness)? Apakah nikmat dan fasilitas yang telah Tuhan berikan sudah kita gunakan untuk kebaikan dan dimanfaatkan sebaik mungkin, atau justru disia-siakan?
Artinya, rentang waktu setelah shalat Subuh sampai shalat Dzuhur itu mengajarkan kita untuk memastikan, bahwa setiap aktivitas kita harus diisi dengan hal-hal positif, seperti kerja/berkarya/berseni dengan ulet dan jujur, belajar dengan sebaik mungkin, menggunakan medsos dan nge-game pun secukupnya. Jika ternyata dalam rentang waktu tersebut kita tergelincir melakukan hal negatif, maka penting untuk segera menghadirkan kembali kesadaran pada niat awal: menjadi manusia yang bermanfaat. Artinya aktivitas shalat itu ialah terapi yang Tuhan berikan untuk mengembalikan jiwa kita di jalan kebaikan lagi atau di jalan cahaya bukan jalan keburukan (nircahaya). Sebagaimana firman-Nya:
“(lewat shalat) Dia (Allah) mengeluarkan kamu dari berbagai kegelapan menuju cahaya” (QS. Al-Ahzab [33]: 43)
Hal yang sama juga berlaku untuk rentang waktu antara Dzuhur ke Asar, Asar ke Magrib, Magrib ke Isya dan seterusnya. Setiap momen shalat adalah alarm untuk melakukan introspeksi diri, agar di dunia bahagia dan di akhirat (Padang Mahsyar) pun menuai kesejahteraan. Di sinilah terlihat bahwa shalat yang disertai dengan penghayatan dan imajinasi akan menuntun seseorang untuk memperbaiki akhlak dan karakternya.
“...tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut [29]: 45)