Muḥyi al-Dīn Ibn ‘Arabī (1165–1240), atau yang lebih dikenal sebagai Syaikh al-Akbar (Guru Agung), adalah salah satu sufi monumental dalam sejarah tasawuf Islam. Lahir di Murcia, Spanyol, dan wafat di Damaskus, ia hidup dalam masa transisi sejarah besar; keruntuhan Andalusia di Barat dan transformasi politik di dunia Islam Timur. Namun di tengah pergolakan itu, Ibn ‘Arabī mengukir jalan spiritual yang tidak hanya melampaui batas geografi dan politik, tetapi juga batas-batas disiplin ilmu, bahkan batas akal manusia biasa (W. Chittick 2007; Claude Addas 1993).
Pemikirannya luas, mencakup filsafat, tasawuf, tafsīr, dan ontologi metafisik. Namun, yang membuat Ibn ‘Arabī unik adalah caranya memadukan wahyu dengan intuisi spiritual. Ia tidak sekadar menulis sebagai seorang filsuf atau ulama, tetapi sebagai seseorang yang mengklaim telah mengalami langsung penyaksian terhadap kebenaran Tuhan. Esai ini akan mencoba mengurai inti dari ajaran Ibn ‘Arabī dengan bahasa sederhana (Ali 2022).
Waḥdah al-Wujūd: Kesatuan dalam Keberagaman
Salah satu konsep paling terkenal dari Ibn ‘Arabī adalah waḥdah al-wujūd atau “kesatuan wujud”. Meski istilah ini baru dirumuskan secara sistematik oleh murid-muridnya, gagasan dasarnya sudah mengalir dalam seluruh karya Ibn ‘Arabī, bahwa hanya ada satu Wujud yang hakiki, yaitu Tuhan. Alam semesta, manusia, dan segala sesuatu lainnya hanyalah cerminan, bayangan, atau manifestasi dari Wujud Tunggal (W. C. Chittick 1989).
Namun Ibn ‘Arabī tidak jatuh pada pantheisme mentah. Ia menekankan bahwa Tuhan tidak identik dengan makhluk. Segala yang ada di dunia ini bukanlah Tuhan, tapi semuanya memancarkan sifat-sifat Tuhan. Maka, Tuhan bukanlah satu di antara banyak hal yang ada, melainkan realitas di balik segala sesuatu yang eksis. Ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana kita melihat dunia dan Tuhan; bukan sebagai dua entitas yang terpisah, tetapi sebagai satu kenyataan yang hadir dalam pelbagai bentuk (Izutsu 2016b).
Fuṣūṣ al-Ḥikam dan al-Futūḥāt al-Makkiyyah: Dua Puncak Karya Ibn ‘Arabī
Di antara lebih dari 800 karya Ibn ‘Arabi, dua yang paling berpengaruh adalah Fuṣūṣ al-Ḥikam (Permata-permata Kebijaksanaan)(‘Arabī 2018b) dan al-Futūḥāt al-Makkiyyah (Pencerahan dari Makkah)(‘Arabī 2018a). Yang pertama merupakan ringkasan puitik dan simbolik dari kebijaksanaan para nabi, sementara yang kedua adalah ensiklopedia tasawuf yang kompleks.
Menariknya, Ibn ‘Arabī mengklaim bahwa ia menulis kedua kitab tersebut bukan berdasarkan pemikiran rasional, melainkan berdasarkan inspirasi langsung dari Tuhan dan Nabi Muhammad. Bahkan, dalam Fuṣūṣ, ia menyatakan bahwa Nabi muncul dalam mimpinya dan menyuruhnya menulis buku itu. Ini menjadikan karya-karyanya bukan sekadar kontemplasi intelektual, tetapi juga wahana penyampaian realitas batin yang ia rasakan dan alami (‘Arabī 2018b).
Nabi sebagai Simbol Arketipal
Dalam Fuṣūṣ al-Ḥikam, Ibn ‘Arabī mempersembahkan 27 bab yang masing-masing mengulas kebijaksanaan dari seorang nabi; mulai dari Adam hingga Muhammad. Namun, para nabi ini bukan hanya tokoh sejarah; mereka adalah lambang dari aspek-aspek ketuhanan yang termanifestasi dalam realitas duniawi (‘Arabī 2018b).
Adam, misalnya, bukan hanya manusia pertama, tetapi simbol dari al-Insān al-Kāmil (Manusia Sempurna)—entitas yang merefleksikan seluruh nama dan sifat Tuhan. Musa melambangkan kekuatan hukum dan wahyu, sementara Isa adalah cermin cinta dan ruh. Ini menunjukkan bahwa setiap nabi adalah cermin bagi suatu aspek dari Wujud Tuhan. Dalam hal ini, perjalanan spiritual manusia menjadi upaya menyerap kembali seluruh aspek itu dalam dirinya (‘Arabī 2018b).
Al-Insān al-Kāmil: Cermin Tuhan di Dunia
Konsep al-Insān al-Kāmil adalah inti dari seluruh pemikiran Ibn ‘Arabī. Baginya, manusia bukan hanya makhluk pasif, tetapi aktor spiritual yang dapat menyerap, mencerminkan, bahkan menjadi 'tempat tinggal' bagi Tuhan. Dalam istilahnya: “Hati seorang manusia lebih agung daripada Ka‘bah, sebab Tuhan tidak mengatakan bahwa Dia tinggal di Baitullāh, tetapi Dia mengatakan bahwa Dia tinggal di hati hamba-Nya.”
Melalui disiplin spiritual dan penyucian jiwa, manusia bisa naik derajatnya untuk menjadi ‘cermin sempurna’ yang memantulkan seluruh Nama dan Sifat Tuhan. Dalam diri manusia yang sempurna inilah Tuhan ‘melihat’ Diri-Nya sendiri. Ini adalah spiritualitas yang mendalam dan menuntut, tetapi juga memberi harapan besar, bahwa siapa pun bisa, dengan izin-Nya, mencapai pencerahan tertinggi(‘Arabī 2018b, 135).
Tasybīh dan Tanzīh: Tuhan yang Dekat dan Tak Terjangkau
Dua prinsip utama dalam teologi Ibn ‘Arabī adalah tasybīh (penyerupaan) dan tanzīh (penyucian). Tasybīh berarti bahwa Tuhan bisa dikenal melalui dunia, karena segala sesuatu adalah manifestasi dari-Nya. Tapi tanzīh menegaskan bahwa Tuhan tetap transenden dan tidak bisa dipahami secara utuh oleh akal manusia (W. C. Chittick 1989, 72–73).
Bagi Ibn ‘Arabī, kebenaran ada di antara keduanya; Tuhan serupa dengan segala sesuatu dan sekaligus tak serupa. Dia hadir dalam ciptaan, tetapi tidak menjadi ciptaan. Ini menegaskan bahwa pendekatan Ibn ‘Arabī tidak hitam-putih, tapi dialektis dan penuh misteri.
Waktu, Takdir, dan Pengetahuan Ilahi
Salah satu aspek paling membingungkan namun indah dalam filsafat Ibn ‘Arabī adalah pandangannya tentang waktu dan takdir. Baginya, segala sesuatu telah ada dalam pengetahuan Tuhan sejak azali. Setiap makhluk memiliki ‘ain ṡābitah (realitas tetap) yang sudah diketahui oleh Tuhan sebelum diciptakan secara aktual (Knysh 1999, 109).
Namun, ini bukan berarti determinisme total. Justru karena setiap makhluk memiliki kesiapan yang unik, Tuhan menciptakan mereka sesuai dengan kesiapan itu. Maka, takdir bukanlah paksaan, tapi penyesuaian antara kehendak Tuhan dan potensi bawaan makhluk. Ini adalah sintesis unik antara qadar (ketetapan Tuhan) dan ikhtiār (pilihan manusia).
Kontroversi
Pemikiran Ibn ‘Arabī tidak diterima secara seragam dalam sejarah Islam. Banyak ulama memujinya sebagai lautan hikmah, namun tak sedikit pula yang menganggapnya sesat dan menyimpang. Beberapa bahkan menuduhnya sebagai penganut panteisme, syirik terselubung.
Namun, para peneliti modern seperti Henry Corbin (Corbin 2000), Toshihiko Izutsu (Izutsu 2016a), dan William Chittick (W. C. Chittick 1989) menempatkan Ibn ‘Arabī sebagai tokoh besar yang menyumbangkan kerangka spiritual dan metafisik Islam yang kaya. Bahkan dalam era kontemporer, ketika pencarian makna hidup menjadi isu universal, pemikiran Ibn ‘Arabi kembali mendapatkan ruang, baik di kalangan muslim maupun non-muslim.
Dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh konflik identitas, agama, dan kepentingan, pemikiran Ibn ‘Arabī menawarkan harapan tentang kemungkinan adanya titik temu. Gagasannya tentang kesatuan eksistensi mengajarkan bahwa perbedaan bukan untuk ditakuti, tapi untuk dirayakan sebagai manifestasi dari satu realitas yang sama.
Ibn ‘Arabī juga menawarkan paradigma spiritualitas yang inklusif, tanpa meniadakan kedalaman. Ia tidak mengajak kita untuk meninggalkan agama, tetapi untuk masuk lebih dalam ke dalamnya, hingga kita menemukan Tuhan bukan hanya dalam dogma, tapi dalam diri, dalam semesta, dan dalam sesama.
Penutup
Membaca Ibn ‘Arabi bukan hal mudah. Bahasanya metaforis, konsep-konsepnya menantang, dan pengalaman mistiknya sukar dicerna. Tapi jika kita bersedia bersabar, merenung, dan membuka diri, kita akan menemukan bukan hanya seorang sufi, tapi seorang penjelajah keberadaan (wujūd) yang telah menjembatani antara wahyu dan nalar, antara hati dan akal, antara Tuhan dan manusia.
Dalam zaman yang sering kehilangan arah, Ibn ‘Arabī mengajarkan bahwa jalan menuju Tuhan tidak sempit atau tertutup, tapi luas, dalam, dan terbuka bagi siapa pun yang mau menempuhnya dengan hati yang ikhlas dan akal yang jernih.
Bahan Bacaan
‘Arabī, Ibn. 2018a. Al-Futuḥāt Al-Makkiyyah. Beirut: Dār al-Kutub al-’Ilmiyyah.
———. 2018b. Fuṣuṣ Al-Ḥikam. Beirut: Dār al-Kutub al-Islāmiyyah.
Ali, Mukhtar H. 2022. Philosophical Sufism: An Introduction to the School of Ibn Al-‘Arabi. London: Routledge.
Chittick, William. 2007. Ibn ’Arabi: Heir to the Prophet. Oxford: Oneworld.
Chittick, William C. 1989. The Sufi Path Of Knowledge. New York: State University Of New York Press.
Claude Addas. 1993. Quest for the Red Sulphure: The Life of Ibn ’Arabi. Translated by Peter Kingsley. Cambridge: The Islamic Texts Society.
Corbin, Henry. 2000. L’imagination Creatrice Dans Le Soufisme d’Ibn ’Arabi. Paris: Aubier.
Izutsu, Toshihiko. 2016a. Sufism and Taoism: A Comparative Study of Key Philosophical Concepts. California: University of California Press.
———. 2016b. Sufisme: Samudra Makrifat Ibn ‘Arabi. Bandung: Mizan.
Knysh, Alexander D. 1999. Ibn ʿArabi in the Later Islamic Tradition: The Making of a Polemical Image in Medieval Islam. Albany, NY: State University of New York Press.