Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Meninjau Ulang Ajaran Zuhud dalam Sufisme Perspektif Jalaluddin Rakhmat

Tasawuf dan Fisika Kuantum: Menyelami Dimensi Alam Empiris dan Ghaib

Tasawuf dan fisika kuantum adalah dua bidang yang tampak berbeda secara mendasar. Tasawuf berkutat pada dimensi spiritual, sementara fisika kuantum menjelajahi realitas subatomik yang empiris. Namun, keduanya memiliki titik temu, terutama dalam membahas alam ghaib dan konsep wujud.

Integrasi Tasawuf dan Prinsip Fisika Kuantum

Konsep tentang ‘wujud’ menjadi kaitan atau relevansi antara tasawuf dan fisika kuantum, kemudian konsep tentang adanya alam-alam supra empiris atau ghaib juga menjadi salah satu pembahasan yang ada di dalamnya. Maka, terkait nantinya dengan cara kerja hukum-hukum di alam ghaib, di dalam Al-Qur’an ada dua pembagian hukum mengenai dua alam yang berbeda itu, yaitu:

  1. Alam Khalq: Alam ciptaan konkret yang tunduk pada hukum kausalitas deterministik.
  2. Alam Amr: Alam yang berada di bawah arahan langsung Allah, terkait dengan ruh dan pengaruh supra-empiris.

Ruh dalam pandangan fukaha berada sepenuhnya di bawah kekuasaan Allah, yang menunjukkan keberadaan sesuatu yang melampaui hukum kausalitas empiris. Misalnya, doa yang dianggap mampu mengubah takdir menunjukkan intervensi langsung dari alam amr terhadap hukum alam khalq. Doa diyakini sebagai sesuatu yang bisa mengubah takdir, seolah-olah doa adalah sesuatu yang arbitrer begitu saja mengintervensi hukum-hukum alam empiris, padahal ada mekanisme yang mengaturnya sehingga doa bisa memberikan efek pada hal-hal  yang bersifat empiris.

Sebagian rasionalis mengatakan bahwa doa hanya sugesti semata. Padahal kita ketahui adanya vibrasi (gelombang) dalam fisika kuantum itu sendiri. Doa, wirid atau mantra itu tadi bisa menciptakan vibrasi yang beresonansi dengan benda-benda lain sehingga doa itu dapat mengubah dan menuruti sebuah keteraturan, hanya saja dia umumnya dianggap sebagai hal ghaib atau tidak masuk akal. Konsep ini sejalan dengan teori resonansi dalam fisika kuantum, di mana interaksi partikel dapat terjadi tanpa kontak fisik. 

Baca Juga:  Menjaga Diri dari Dosa Tangan

Maka vibrasi yang kita keluarkan akibat membaca mantra atau doa bisa mempengaruhi benda lain. Ibnu Sina pernah menyinggung gagasan serupa dalam risalahnya mengenai pengaruh bintang-bintang terhadap manusia, yang dapat disamakan dengan fenomena superposisi dalam fisika kuantum. Jadi sebenarnya tetap ada semacam kausalitas, tetapi dia tidak terbatas hanya pada kausalitas alam empiris saja tapi ada kausalitas lain yang tidak disebut sebagai sesuatu yang empiris.

Superposisi Kuantum

Fisika kuantum menemukan bahwa partikel subatomik memiliki sifat ganda, yaitu: 

  1. Sebagai Materi: Memiliki volume, densitas, dan massa, terikat ruang dan waktu.
  2. Sebagai Gelombang: Tidak terikat ruang dan waktu.

Fenomena ini dikenal sebagai superposisi yaitu atom yang dianggap sebagai partikel (materi) dan gelombang (non materi), hal ini demikian karena partikel sendiri seperti benda fisik dan bisa dihitung menggunakan rumus Newton, sedangkan gelombang merupakan sebuah gangguan dalam ruang yang tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang fisik. Maka kemudian diketahui bahwa partikel itu berperilaku ganda, satu sisi ia berperilaku sebagai benda besar yang memiliki volume, densitas dan massa, tapi dia juga satu sisi berfungsi sebagai gelombang yang dia tidak menempati tempat tertentu. Dalam hal ini dapat kita ketahui mengenai space yang berhubungan dengan waktu dipahami sebagai suatu benda yang menempati ruang dan waktu kemudian dia bergerak menempuh suatu jarak, maka dia akan menempuhnya dengan waktu tertentu, dan waktu bergerak bersama materi. Tetapi di dalam fisika kuantum waktu itu tetap dan tidak terpengaruh oleh partikel yang berfungsi sebagai gelombang itu tadi, seolah-olah waktu terlepas dengannya.

Maka superposisi adalah adanya perilaku ganda dari sebuah partikel di level subatomik yang didalamnya partikel itu berperilaku sebagai materi tapi pada saat yang sama dia berperilaku sebagai gelombang.

Baca Juga:  Memahami Aspek Batin Saluran Cerna

Kuantum Entanglement dan Fenomena Isra Mi’raj

Keadaan superposisi atom ini kemudian membuat Einstein tidak nyaman, karena ternyata di level subatomik ini teori relativitasnya tidak berlaku, karena ternyata dua partikel yang memiliki jarak sangat jauh bisa saling mempengaruhi nyaris secara instan. Einstein dalam teori relativitasnya mengatakan sesuatu yang bergerak dengan kecepatan cahaya itu masih membutuhkan durasi dalam bergerak atau memberikan efek pada benda lain, tetapi di level subatomik pengaruh suatu benda kepada benda lain itu terjadi nyaris tanpa waktu bahkan dengan kecepatan yang lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Maka superposisi kemudian menghasilkan kuantum entanglement (keberlindanan di antara dua partikel yang berperilaku sebagai gelombang). Maka inilah esensi dari fisika kuantum, di mana sebuah benda di alam bisa memberikan pengaruh kepada benda lain meskipun posisinya berjauhan dan tidak ada gaya fisik yang terlibat di antara keduanya. Disifati sebagai quantum entaglement karena kesaling-terikatan ini terjadi di level quanta. Quanta bermakna bagian (energi) terkecil dari benda, yakni di level subatom.

Fisika atau mekanika quantum mendapati bahwa bagian-bagian benda atau alam semesta yang berjauhan ternyata bisa saling memberikan pengaruh. Bahka secara instan (tanpa waktu). Yakni lebih cepat dari kecepatan cahaya sekalipun. Padahal, seperti diungkapkan dalam teori fisika relativitas waktu Einstein, tak ada kecepatan yang bisa melebihi kecepatan cahaya.

Kesaling terikatan ini tidak biasa dilihat dari gejala fisika biasa sehingga oleh Einstein disebuat sebagai “aksi (hantu) menakutkan (benda-benda) dalam jarak berjauhan” (Spooky action at a distance). Jadi dalam hal ini ia seperti suatu ghaib karena dirasa aneh, mengapa benda yang jaraknya sangat jauh bisa mempengaruhi benda lain secara instan seolah-olah tidak ada volume, densitas dan masa.

Baca Juga:  Ngaji Kitab Bidayatul Hidayah Part 1 - Ilmu yang Membawa Kehancuran: Refleksi dari Imam Al-Ghazali

Terkait hal ini, kita ketahui peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW sering dianggap sebagai fenomena ghaib. Tapi jika kita lihat dari sudut perspektif fisika kuantum ini mungkin saja karena mungkin buraq (kendaraan yang dipakai Rasul ketika Isra Mi’raj) di sini terkait dengan partikel di level subatom yang berperilaku sebagai gelombang, sehinggal hal ini bisa saja terjadi. Karena itu mungkin saja Isra Mi’raj ini terjadi karena dengan cara tertentu yang mana seseorang bisa bergerak melebihi kecepatan cahaya bahkan nyaris tanpa waktu. Di dalam ulasan para hukama (ahli hikmah) filsafat sufistik bahwa Isra Mi’raj terjadi dalam waktu dahr yang mana ia bukan waktu biasa (zaman), dalam fisika klasik waktu itu merupakan bagian dari gerakan benda, tetapi dalam fisika kuantum waktu itu terlepas dari benda. Maka waktu dalam fisika kuantum tidak bersifat linear seperti dalam fisika klasik, sehingga perjalanan Nabi dapat terjadi dengan sangat cepat tanpa terikat oleh hukum kausalitas empiris.

Maka sejatinya, tasawuf dan fisika kuantum menunjukkan bahwa realitas tidak hanya terbatas pada dimensi empiris saja, tetapi juga melibatkan dimensi supra-empiris yang lebih dalam. Alam ghaib yang dipahami dalam tasawuf bukanlah sesuatu yang sepenuhnya di luar jangkauan, melainkan merupakan kelanjutan dari alam empiris. 

Melalui pendekatan fisika kuantum, kita dapat memahami bahwa fenomena seperti do'a, mukasyafah, dan musyahaddah memiliki mekanisme yang belum sepenuhnya terjelaskan oleh sains modern, tetapi memberikan indikasi adanya keterhubungan antara alam empiris dan supra-empiris. Fenomena ini memperkuat keyakinan akan kekuasaan Allah yang meliputi segala hal, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Previous Article

Salat adalah Perjalanan

Next Article

Whirling Dervishes: Dari Rindu Jadi Obat

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *