يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid...” (QS. Al-A’raf [7]: 31).
Mengomentari ayat ini Ibn ‘Arabi dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah, menyajikan riwayat bahwa seorang sahabat Nabi berkata, “Ketika ayat ini turun, kami (para sahabat) diperintahkan untuk melaksanakan shalat dengan memakai sandal atau alas kaki.” Riwayat yang sama juga dijumpai di dalam beberapa kitab tafsir seperti Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir. Rasulullah bersabda, “Pakailah perhiasan shalat,” para sahabat bertanya, “apa itu perhiasan shalat?” Nabi menjawab, “Pakailah sandal atau alas kalian, lalu shalatlah dengannya.”
Saya tidak sedang mendiskusikan apakah shalat memakai sendal itu dilarang atau diperbolehkan, ada ranahnya sendiri. Yang jelas, kita baca hadis di atas itu sesuai dengan zaman Nabi, bahwa masjid waktu itu belum semegah zaman now dengan ornamen kramik dan marmer yang super mewah. Nah, di zaman nabi, masjid masih beralaskan tanah dan padang pasir, sehingga riwayat itu tidak menjadi masalah saya kira. Sekali lagi, saya tidak sedang mendiskusikan hal ini. Di sini, hanya ingin menangkap makna batin yang terkandung dalam teks di atas, sehingga bisa dijadikan renungan masing-masing.
Menurut Ibn ‘Arabi, makna batin perintah memakai sandal dalam shalat ialah sebuah simbol untuk menyadarkan manusia yang sedang shalat, bahwa shalat itu adalah sebuah perjalanan (safar) dari manzilah (stasiun spiritual) menuju manzilah lain saat mereka membaca surah-surah Al-Qur’an dalam shalatnya.
Menarik sekali, shalat itu adalah perjalanan spiritual seorang. Term safar (perjalanan) ialah istilah yang penting dan sering dipakai dalam konteks tasawuf. Bahkan saking pentingnya, Mulla Sadra menjuduli magnum opus-nya dengan nama Al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al-Asfar al-‘Aqliyya al-Arba'ah (empat pengembaraan/perjalanan suci: yakni pengembaraan dari makhluk menuju Tuhan, pengembaraan di dalam Tuhan bersama Tuhan, pengembaraan dari Tuhan menuju makhluk bersama Tuhan, dan pengembaraan di dalam makhluk bersama Tuhan). Istilah safar mengandung makna bahwa manusia itu diciptakan pada hakikatnya untuk melakukan traveling menuju kepada Allah. Sebagaimana Al-Qur’an deskripsikan, “Kita dari Allah akan kembali (berjalan) menuju Allah”(QS. Al-Baqarah [2]:156). Lalu, ongkos traveling-nya apa? Tidak lain ialah dengan ilmu yang termanifestasikan dengan melakukan perbuatan baik/amal saleh dan meninggalkan perbuatan buruk. Jika itu semua dilakukan, maka proses traveling kita berjalan dengan sempurna karena tirai-tirai penutup telah terobekkan oleh amal kebaikan kita.
Karena shalat adalah sebuah perjalanan (safar), maka kita perlu menyiapkan diri dengan membawa perlengkapan agar kita benar-benar selamat sampai pada tujuan. Nah, yang menarik ialah teks hadis di atas untuk menghadap Allah (shalat) dianjurkan untuk memakai alas kaki, tetapi ayat tentang Nabi Musa as, saat menghadap kepada Allah, ia diperintahkan untuk melepaskan kedua sandalnya:
اِنِّيْٓ اَنَا۠ رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَۚ اِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى
“Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu. Lepaskanlah kedua terompahmu karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, yaitu Tuwa.” (QS. Thaha [20]:12)
Kenapa Nabi Muhammad saw memerintahkan umatnya saat shalat untuk memakai sandal, sedangkan pada Nabi Musa as malah dapat perintah melepaskan sandalnya? Nah, untuk menyelesaikan satu riwayat dan ayat yang nampak sekilas bertentangan ini, menurut Ibn ‘Arabi ayat yang berkaitan dengan Nabi Musa as ialah karena ia telah sampai pada manzilah (stasiun spiritual menuju Allah) yang dituju, karena itu, ia tinggalkan sandalnya. Sebab, Allah berkata dengan Nabi Musa as tanpa perantara dan tanpa penerjemah (Jibril, penj). Inilah di antara keistimewaan Nabi Musa as yaitu dapat berbicara dengan Allah Swt secara langsung sehingga disebut kalīmullāh. Semua nabi yang lain menerima firman Allah Swt melalui perantaraan Jibril, kecuali Nabi Muhammad saw yang dapat berbicara langsung dengan Allah Swt pada waktu mikraj. Allah berfirman:
وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنٰهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۗوَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًاۚ
“Ada beberapa rasul yang telah Kami ceritakan (kisah) tentang mereka kepadamu sebelumnya dan ada (pula) beberapa rasul (lain) yang tidak Kami ceritakan (kisah) tentang mereka kepadamu. Allah telah benar-benar berbicara kepada Musa (secara langsung).” (QS. An-Nisa [4]: 164)
Dari sini, maka menjadi jelas maknanya bahwa shalat itu pada hakikatnya ialah sebuah perjalanan seorang hamba menuju Allah, karena perjalanan, maka diperlukan sandal (simbol perhiasan/perlengkapan dalam perjalanan), tetapi ketika orang itu sudah sampai di rumah (tujuan), maka ia akan melepaskan sandal itu dan mulailah perjumpaan dengan Sang Pemilik Rumah secara intens.
Apa sih yang dimaksud dengan shalat adalah perjalanan? Ibn ‘Arabi menjelaskan dengan dua bentuk makna perjalanan, yang pertama ia kaitkan perjalanan yang tersirat di dalam dialog seorang hamba dan Tuhannya saat membaca Al-Fatihah, dan kedua ialah simbolisasi makna ruku’, bangun dari ruku’ (i’tidal); sujud, dan duduk tahiyat. Di sini saya hanya ingin mengurai simbolisasi dari gerakan shalat yang ditawarkan oleh Ibn ‘Arabi, semoga dengan ini bisa sebagai bahan kontemplasi kita masing-masing, saat mengamalkan shalat.
Masih menurut Ibn ‘Arabi, orang yang shalat itu ia mengalami suatu perjalanan dari berdiri menuju ke ruku’. Saat kondisi seperti inilah ia berjalan menapaki tangga spiritual qayyumiyyah (sifat berdiri sendiri) menuju sifat ‘uzmah (keagungan), karena itu saat ruku’ ia membaca:
سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
“Maha suci Tuhanku Yang Maha Agung dan segala puji bagi-Nya”
Setelah ruku’ ia bangkit kembali (i’tidal), ini adalah simbol perjalanan dari maqam ta’zim (maqam pengagungan) menuju maqam niyabah (maqam perwakilan), karena itu ia membaca:
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
“Allah Maha Mendengar siapapun yang memuji-Nya.”
Menurut suatu riwayat, “Allah berkata lewat lisan hamba-Nya, Allah mendengar siapapun yang memuji-Nya, maka katakanlah, “Rabb kami milik-Mu, segala puji”. Nah dari hadis ini, maka Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa orang yang sedang shalat saat berdiri dari ruku’ itu perlambang menuju maqam perwakilan dan ia kembali ke sifat berdiri sendiri (qayyumiyyah).
Setelah berdiri dari rukuk, ia bersujud dan tenggelam dalam ketinggian Ilahi, hingga berkatalah orang yang sujud:
سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ
“Maha suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi dan segala puji bagi-Nya.”
Selanjutnya ia bangkit dari sujudnya dan duduk bersemayam (istiwa’) sebagaimana firman Allah.
اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى
“(Dialah Allah) Yang Maha Pengasih (dan) bersemayam di atas ʻArasy.” (QS. Thaha [20]: 5)
Lalu hamba berdoa:
رب اغْفِرلي وَارْحَمْنِى واجبرني وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِى وَاهْدِنِى وَعَافِنِى وَاعْفُ عَنِّى
“Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, perbaikilah keadaanku, tinggikanlah derajatku, berilah rezeki dan petunjuk untukku”
Saya merasa merinding membaca ulasan ini, ternyata di balik ritual shalat yang kita jalani selama ini ada makna yang luar biasa, tidak sekedar jungkir balik dari berdiri ke rujuk, lalu sujud dan sebagainya, tapi itu adalah simbol perjalanan spiritual seorang hamba dari stasiun spiritual menuju stasiun lainnya. Hingga ia mengecap dan merasakan kebersamaan dengan Tuhan dan memakai ‘baju’ ketuhanan yang diilustrasikan ia bersemayam di atas Arsy, saat kita bangkit dari sujud dalam shalat. Setelah mengalami itu kita pun disadarkan kembali sebagai seorang hamba yang lemah dan membutuhkan-Nya, hingga berdoa: “Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, perbaikilah keadaanku, tinggikanlah derajatku, berilah rezeki dan petunjuk untukku”. Sependek pengetahuan saya, mungkin inilah salah satu tafsir terbaik terkait sabda Nabi Muhammad saw bahwa shalat adalah mikrajnya orang mukmin.