Di era media sosial seperti sekarang ini, informasi begitu deras membanjiri beranda akun media sosial kita—sekaligus beranda pikiran kita. Hal ini membuat banyak dari kita, terutama remaja, acap kali melakukan diagnosa mandiri ( self-diagnose). Mereka akan menghubungkan gejala fisik maupun mental yang mereka alami dengan informasi yang terpapar di media online. Akibatnya, asumsi-asumsi semu muncul, membuatnya gelisah, dan menyerang mentalnya. Padahal, belum tentu apa yang disimpulkan itu benar.
Paparan media online yang terus menerus juga menjadi penyebab bagi penyintas gangguan mental tetapi belum berada pada tingkatan nekat. Dengan membaca, mendengar, atau melihat paparan itu, mereka seolah mendapat validasi. Tidak hanya orang dewasa, banyak remaja hari ini menjadi penyintas mental illness. Karena stigma yang melekat pada mereka sebagai orang yang tak normal atau tidak mendapat penanganan yang tepat, banyak dari mereka memilih untuk mengakhiri hidupnya. Ini juga bisa menjadi tren Copycat Suicide. Ya, perilaku bunuh diri atas dasar mencontoh kasus bunuh diri sebelumya.
Mungkin bagi kebanyakan dari kita masih menganggap remeh urusan kesehatan mental. Pengobatan atau penyembuhan yang kita ambil untuk penderita depresi tidak seperti prioritas untuk penderita jantung misalnya. Kesehatan mental dianggap sebelah mata. Padahal depresi juga sama berbahayanya dengan serangan jantung.
Para penyintas gangguan mental seringkali malah dipojokkan, dianggap tidak bersyukur, tidak pernah beribadah, dan tuduhan-tuduhan tidak berdasar lainnya. Stigma buruk lainnya adalah menyepelekan penanganannya. Padahal yang mereka butuhkan adalah terapi dari dua sisi, perilaku dan kognitif. Terapi berbasis agama dan medis yang koheren. Dalam beberapa kasus, memang mereka membutuhkan obat bahkan pertolongan medis.
Setidaknya demikian pemikiran Abu Zaid al-Balkhi (850 – 934 M), murid al-Kindi (Filsuf Islam pertama), dalam buku Kesehatan Fisik dan Mental, yang merupakan terjemahan langsung dari Bahasa Arab berjudul asli Mashalih al-Abdan wa al-Anfus. Al-Balkhi menekankan terapi kognitif (taf-kir) atau rekonstruksi cara berpikir yang disandarkan pada ajaran syariat Islam. Seperti refleksi mengenai hakikat dunia, pentingnya introspeksi diri, menanamkan keimanan pada takdir dan kekuasaan Allah swt., serta memikirkan dampak dari perbuatan kita. Dengannya, ia tidak hanya mengutamakan aspek-aspek fisik saja, yang seolah meyakini manusia hanya terdiri dari fisik tanpa adanya ruh dan jiwa (mental).
Di dalam psikologi modern kita mengenal psikosomatis, bahwa gangguan mental dapat mempengaruhi kondisi fisik seseorang, dan sebaliknya. Al-Balkhi menjelaskan urgensi kesehatan mental dan kesehatan fisik: “Ketika tubuh sakit, itu akan menghalangi aktivitas mental dalam melakukan tugas dengan cara yang benar. Ketika jiwa menderita, tubuh akan kehilangan kemampuan alaminya untuk menikmati kesenangan dan akan menemukan hidupnya menjadi tertekan serta menderita.”
Pendekatan terapi kognitif yang berbasis reflektif dan saintifik tersebut kiranya bisa menjadi alternatif solusi kesehatan mental yang dialami generasi masa depan. Senada dengan yang disampaikan al-Balkhi; al-Kindi, gurunya, memaparkan arti pentingnya menjaga kesehatan jiwa (mental) di atas kesehatan fisik. Menurutnya, esensi manusia adalah jiwanya, sedangkan tubuh hanyalah kendaraan atau alat bagi jiwa. Sehingga, memperbaiki dan menyembuhkan jiwa yang terganggu menjadi sebuah kelaziman.
Pengembangan model psikoterapi holistik yang dikembangkan al-Balkhi tersebut menunjukkan kecerdasannya sebagai seorang ulama-ilmuwan muslim yang sangat futuristik. Hal ini berbeda dengan pendekatan psikoterapi modern—yang lebih sekuler dan berorientasi pada aspek bio-psiko-sosio sehingga menafikan aspek iman, moral, dan setan yang dapat memperdaya serta menguasai jiwa manusia.
Al-Balkhi memasukkan aspek spiritual, kognitif, moral-sosial, perilaku, dan biologis, yang disesuaikan dengan penanganan masing-masing gejala atau gangguan mental yang terdiri dari: marah, kesedihan dan depresi, takut dan panik, dan bisikan-bisikan jiwa atau dialog internal yang negatif.
Sejurus dengan pemikiran mengenai terapi perilaku dan kognitif al-Balkhi yang bersifat reflektif-kontemplatif, maka kiranya kumpulan puisi karya Sa’duddin Mahmud Syabistari (1250 M) yang berjudul Gulshan-i-Raz (Kebun Mawar Rahasia) bisa menjadi alternatif terapi tersebut. Puisi-puisinya mengajak kita masuk lebih dalam pada perilaku reflektif-sufistik, seperti: hakikat dunia, introspeksi diri, keimanan pada takdir, dan kekuasaan Allah swt.,
Mahmud Syabistari mengajak kita bertamasya ke Kebun Mawar Rahasia, yang lebih dari tujuh ratus tahun ia telah tanami dengan mawar-mawar cinta dan iluminasi spiritual. Tamasya ini sebagai proses pemulihan atas jiwa (mental) yang terluka—healing. Sebuah proses penyembuhan diri yang bertujuan mendapatkan ketenangan batin dan jiwa. Karena ketika jiwa menderita, tubuh (fisik) akan kehilangan kemampuan alaminya untuk menikmati kesenangan dan akan menemukan hidupnya menjadi tertekan serta menderita.
Kita akan diajak mengembara di dalam kebun mawar rahasianya, memetik mawar-mawarnya yang bermekaran, dan menghirup wanginya. Ini adalah proses penyembuhan—rekonstruksi cara berpikir reflektif ala sufi. Dalam merenungi puisi-puisinya yang meditatif, kita harus mengingat bahwa simbol-simbol cinta dan keindahan keduniawian dipergunakan secara bebas. Kita harus menggali makna sesungguhnya yang seringkali tersembunyi. Ini adalah bentuk kesengajaan untuk tetap menjaga rahasia cinta yang mistis.
Ketika dilahirkan ke dunia, kita dikuasai oleh keakuan—nafsu-nafsu setan, yang bisa menyesatkan. Tetapi ada insting pada kerinduan, kesucian, dan Tuhan Yang Maha Suci. Jika kita mendorong insting itu, mengembangkan kerinduan, dan mengesampingkan keakuan, maka Penjaga Kebun Mawar Rahasia akan menyirami jiwa (mental) kita dan kita akan menyatu dengan Sang Kebenaran dalam ruh. Hal ini tentunya tidak kita dapati dalam pendekatan psikoterapi modern, seperti yang al-Balkhi sebutkan sebagai pendekatan yang cenderung sekuler—menafikan aspek iman, moral, dan setan yang dapat memperdaya serta menguasai jiwa manusia.
Menurut al-Balkhi tanda jiwa (mental) yang sehat adalah rasa tenang, tenteram, dan gembira. Untuk itu ia menyarankan kita untuk terlebih dahulu menyembuhkan diri kita sebelum menyembuhkan orang lain. Keputusan yang benar menurutnya adalah tidak membedakan perlakuan terhadap (penyakit) fisik maupun mental, keduanya setara.