Saya menduga akan menonton sebuah film religi. Ternyata saya justru sedang disodorkan cermin diri sebesar layar bioskop oleh sutradara film ini. film ini bukan sekadar kisah tentang perjalanan merayu Tuhan, melainkan kisah tentang “perayu” Tuhan yang sedang mencari dirinya.
Hari Selasa malam saya mendapat kesempatan menyaksikan gala premiere film terbaru Wahana Kreator, Seni Merayu Tuhan, sebuah film yang diadaptasi dari buku terbitan Mizan, karya Husein Ja’far dan dibintangi oleh Ari Irham sebagai Hikmah, Teuku Rizky sebagai Hotib, Lutesha sebagai Sophia, dan Rieke Diah Pitaloka sebagai ibu Hikmah.
Film persembahan Kang Cesa seorang editor film ulung yang bertransformasi menjadi sutradara ini, bagi saya, bukan sekadar tontonan. Ia seperti membangunkan jiwa yang sedang tertidur. Saya menyaksikan sendiri bagaimana ekspresi para penonton begitu beragam. Ada yang menangis, ada yang tiba-tiba teringat keluarganya, ada yang terdiam seperti sedang mencari wisdom di dalam dirinya. Dan saya sendiri pun tak sadar berapa kali terucap doa di dalam studio, “Rabbighfirli wa liwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira: Ya Allah, ampunilah kedua orang tuaku dan kasihi, sayangi, rahmati mereka sebagaimana mereka telah merawatku dengan penuh kasih ketika kecil.”
Semangat film ini mengajak kita untuk berjalan ke lorong diri terdalam. Inilah perjalanan yang jauh lebih terjal daripada sekadar melakukan perjalanan pendakian ke gunung yang tinggi.
Ada satu celetukan Hikmah ketika berdialog dengan marbot (Ari Kriting) yang menurut saya cukup menggelitik. Kurang lebih ia mengatakan, “Yang susah itu bukan mengejar karier, tapi mengejar Tuhan. Semakin dikejar, semakin “jauh”.” Di scene lain ada dialog Hikmah dengan Hotib, “Gue lari ngos-ngosan ngejar Allah, disiplin ibadah, tapi makin dikejar makin menjauh, kenapa?”
Ucapa emosional itu bukankah demikian yang sering kita alami juga? Jangankan mencari Tuhan, ketika ke luar rumah untuk membeli makanan tertentu, justru warungnya tiba-tiba tidak jualan. Kalaupun jualan, sudah habis.
Tetapi mungkin di situlah letak persoalannya. Tuhan bukan sesuatu yang harus kita kejar. Sebab Dia tidak pernah pergi dan menjauh. Yang perlu kita cari justru adalah diri kita sendiri yang terlalu jauh dari-Nya.
Hikmah mengalami fase itu. Ketika ia ingin kembali kepada Tuhan dengan bertaubat dan menyingkap tirai-tirai dirinnya, justru tirai itu seakan menebal. Ketika ia mulai belajar lagi tentang shalat dan bersedekah, ujian datang bertubi-tubi. Ia kehilangan pekerjaan. Ia pindah kerja ikut bersama oknum ustaz dan tertipu oleh gombalan berkedok agama hingga tabungannya habis dengan jargon sedekah. Ia bahkan hampir kehilangan sahabatnya (Hotib) karena keberaniannya membela seorang teman kerja yang ingin menunaikan shalat tetapi justru dihalangi oleh majikannya. Di sinilah ujian pertama bagi para perayu Tuhan, siap-siap menerima hujan dan badai kehidupan, bahkan dalam hadis disebutkan, “Jika Tuhan mencintai hamba-Nya, Ia akan memberikan ujian.”
Begitu banyak perjuangan Hikmah untuk “merayu Tuhan”. Tetapi seolah-olah rayuannya tidak mendapatkan balasan. Lalu kita pun bertanya: Sebegitu sulitkah menemukan Tuhan?
Jawabannya mungkin memang sulit. Tetapi bukan karena Tuhan jauh. Bukankah Al-Qur’an mengatakan bahwa Allah lebih dekat daripada urat leher kita? Benar. Tuhan begitu dekat. Yang membuat-Nya terasa jauh bukanlah jarak, melainkan hijab/tirai spiritual berupa egosentris yang kita bangun sendiri.
Hikmah berusaha membuka hijab-hijab itu. Tetapi pada awalnya ia seperti menggunakan maps yang kurang tepat. Ia mencari Tuhan di luar dirinya, sementara dalam tradisi tasawuf ada sebuah hadis yang sangat populer: “Siapa yang kenal dirinya, ia kenal Tuhannya.”
Maka, mungkin jalan tercepat menuju Tuhan justru bukan perjalanan keluar, melainkan perjalanan ke dalam. Perjalanan mengenal diri. Dan di sinilah perjalanan Hikmah menjadi menarik. Ia akhirnya menemukan jati dirinya dengan sebuah kesadaran sederhana bahwa ia adalah seorang hamba yang tak berdaya (la haula wala quwwata illa billah), hamba yang berlumuran dosa. Bukan hamba yang sok suci, kuat, besar, dan digdaya.
Namun kesadaran Hikmah sebagai hamba tidak berhenti sebagai pengetahuan. Ia menjelma menjadi tindakan nyata. Ia tidak alergi dengan perbedaan, Ia mulai membantu sesama. Sedekah Jumat yang dilakukan Hikmah bahkan tidak hanya dinikmati oleh umat Islam, tetapi juga dirasakan oleh mereka yang berbeda keyakinan. Di titik ini, saya melihat pesan sufistik film ini menjadi semakin kuat. Hikmah telah berhasil men-tajalli-kan (memanifestasikan) sifat Tuhan Sang Maha Cinta ke hidupan nyata.
Hikmah tidak menemukan Tuhan dalam gambaran al-Muntaqim yakni Maha Penyiksa, melainkan menemukan Tuhan sebagai al-Rahman, Tuhan yang menebarkan rahmat/kasih/cinta kepada semua ciptaan; batu, daun, tanah, dan manusia baik muslim atau non muslim, jahat atau baik. Memang dalam tradisi tasawuf (spiritualisme dalam Islam) Tuhan memiliki dua aspek: Pertama, aspek Keagungan (Jalaliyyah atau tremendum) seperti sifat al-Khafidz (Maha Menjatuhkan), al-Qahar (Maha Pemaksa) yang sifat-sifat itu membuat manusia gentar. Kedua, aspek Keindahan (Jamaliyyah atau fascinans) seperti al-Rahman, al-Rahim, al-Karim dan sebagainya yang membuat manusia jatuh cinta.
Dalam Al-Qur’an, Tuhan itu ingin dikenal sebagai Sang Maha Cinta (al-Rahman). “Katakan Nabi Muhammad saw, ‘Panggillah Allah atau Sang Rahman’.” (QS. Al-Isra’ ayat 110). Dalam Hadis Qudsi Allah berfirman, “Rahmat-ku menaklukkan murka-Ku”. Sampai-sampai hampir setiap surah dalam Al-Qur’an diawali dengan bismillah yang isinya mengenalkan Tuhan Maha Rahman dan Rahim. Menurut Ibn ‘Arabi kenapa bismillah itu selalu mengawali surah Al-Qur’an? Jawabannya ialah Tuhan ingin menyadarkan ke pembaca Al-Qur’an andai di dalam surah itu sedang menjelaskan cobaan dan neraka itu harus disadari betul bahwa semuanya itu beroprasi atas dasar kasih-Nya. Kalau meminjam quotes Rumi, “Ketika seseorang memukul karpet, pukulannya bukan ditujukan ke karpet, tapi kepada debu yang ada di dalamnya.”
Hikmah menemukan bahwa mendekat kepada Tuhan bukan sekadar memperbanyak ritual untuk memperoleh sesuatu dari-Nya, tetapi menghadirkan/men-tajalli-kan sifat-sifat Keindahan/Jamaliyyah Tuhan dalam kehidupan.
Jika Tuhan Maha Rahman, maka seorang hamba semestinya belajar menjadi rahmat. Jika Tuhan Maha Karim, maka seorang hamba belajar menjadi dermawan. Jika Tuhan Maha Pemaaf, maka seorang hamba belajar memaafkan. Jika Tuhan Maha Cinta, maka seorang hamba belajar mencintai. Dan sifat-sifat itulah yang dipamerkan dalam film ini. Inilah Islam Cinta yang dipromosikan oleh para mistikus Islam (sufi), lalu dihidupkan kembali lewat film Seni Merayu Tuhan.
Saya ingin menutup catatan ini dengan pertanyaan eksistensial. Hikmah sudah berjalan, kini giliran kita semua, kapan kau kan memulai perjalanan panjang ke dalam dirimu sendiri? Hingga kenal diri, kenal Tuhan.
Tabik!