Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Pentingnya Dakwah dengan Akhlak di Era Digital

Selawat sebagai Madrasah Spiritual Menurut Syekh Ibn ‘Aṭāillāh as-Sakandarī

Tulisan ini menjelaskan tentang selawat sebagai madrasah dan laku spiritual menurut pemikiran Syekh Ibn ‘Aṭāillāh as-Sakandarī; sufi terkemuka yang karya monumentalnya―al-ikam―banyak dikaji oleh masyarakat muslim Nusantara. Dalam hal ini, selawat sebagai madrasah spiritual berfungsi mendidik jiwa manusia agar memiliki sifat yang elok, akhlak yang mulia, dan perilaku yang baik. Selawat sebagai laku spiritual berfungsi menerangi dan membersihkan kalbu seorang salik agar sampai ke hadirat Allah (penulis pernah membahas kedahsyatan selawat sebagai laku spiritual dengan judul “Di Bawah Naungan Cahaya Selawat” dalam https://baca.nuralwala.id/di-bawah-naungan-cahaya-selawat/). Sumber utama tulisan ini adalah kitab Miftā al-Falā wa Mi al-Arwā karya Syekh Ibn ‘Aṭāillāh as-Sakandarī (dapat diakses di https://archive.org/details/20240108_20240108_1944).

K.H. Afifuddin Muhajir pernah memberikan quote di akun Facebook (Afifuddin Muhajir)nya berupa “Akhlak yang mulia, perilaku dan tingkah laku yang indah bisa terwujud dengan memperbanyak baca shalawat” (https://www.facebook.com/share/p/1BkLFjPFpd/) dan “Salah satu ciri pengamal shalawat berhati lembut.” (https://www.facebook.com/share/p/ 1Abcyq8gMr/) Dua quote Kiai Afif yang bernas dan berharga ini diperkuat dengan pendapatnya Syekh Ibn ‘Aṭāillāh. Dalam hal ini, Syekh Ibn ‘Aṭāillāh menyebutkan bahwa memperbanyak baca selawat akan menumbuhkan rasa cinta yang mendalam kepada Nabi Muhammad saw. Rasa cinta yang mendalam kepada Nabi Muhammad saw. akan melahirkan perhatian yang mendalam dan pemeliharaan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan Nabi Muhammad saw., baik sifatnya yang agung, budi pekertinya yang luhur, maupun hal lainnya (Miftā al-Falā wa Mi al-Arwā, hlm. 31).

Dengan kata lain, seorang muslim akan memiliki kesudian dan kepedulian untuk mengikuti perbuatan dan budi pekerti Nabi Muhammad saw. setelah memiliki perhatian yang mendalam terhadap sang Nabi. Perhatian yang mendalam kepada Nabi Muhammad saw. akan terwujud setelah memiliki rasa cinta yang mendalam kepada sang Nabi. Rasa cinta yang mendalam kepada Nabi Muhammad saw. akan tumbuh dalam kalbu setelah memperbanyak baca selawat. Selain itu, memperbanyak baca selawat merupakan bukti kecintaan seorang muslim kepada Nabi Muhammad saw. Sebab, barang siapa yang mencintai sesuatu, maka ia akan senantiasa menyebut sesuatu tersebut (hlm. 31).

Baca Juga:  BUAT APA PUASA?!

Selawat sebagai Laku Spiritual

K.H. Afifuddin Muhajir menyebutkan dalam akun Facebooknya bahwa substansi tasawuf adalah menyucikan diri. Salah satu sarana untuk menyucikan diri adalah memperbanyak baca selawat atas baginda Nabi Muhammad saw. (https://www.facebook.com/share/p/17m9mqZB9c/) Menurut Syekh Ibn ‘Aṭāillāh, selawat mengumpulkan dua zikir (sebutan) sekaligus, yaitu Allah dan Nabi Muhammad saw. Dalam hal ini, Allah berfirman, “Wahai Muhammad, Aku menjadikanmu sebagai sebutan dari sebutan-Ku. Barang siapa yang menyebutmu, maka berarti ia menyebut-Ku. Barang siapa yang mencintaimu, maka berarti ia mencintai-Ku.” Hal senada juga diungkapkan oleh Nabi Muhammad saw. seraya bersabda, “Barang siapa yang mengingatku, maka sungguh ia mengingat Allah. Barang siapa yang mencintaiku, maka sungguh ia mencintai Allah.” Dengan demikian, ketika seorang salik membaca selawat, maka dia menyebut nama Allah dan nama Nabi Muhammad saw. sekaligus. Contohnya, allallāhu ‘alā muammad dan allāhumma alli ‘alā muammad (hlm. 31).

Selain itu, selawat merupakan zikir yang mengandung munajat. Dalam hal ini, Syekh Ibn ‘Aṭāillāh menyebutkan dua macam zikir. Pertama, zikir yang tidak mengandung munajat. Kedua, zikir yang mengandung munajat. Zikir jenis kedua ini memiliki dampak yang lebih dahsyat dan kuat bagi kalbunya salik pemula daripada zikir jenis pertama. Sebab, kalbunya orang yang bermunajat akan merasa dekat dengan Zat yang dia seru (dalam munajatnya), apalagi munajat menunjukkan bahwa orang yang bermunajat sedang berada di hadapan Allah. Perasaan seperti ini akan memberikan dampak kepada kalbu dan menimbulkan rasa takut kepada Allah. Oleh karena itu, ketika seorang salik mengucapkan allāhumma alli ‘alā muammad, maka dia sedang berzikir sekaligus bermunajat. Sebab, kalimat allāhumma alli (ya Allah, semoga Engkau melimpahkan tambahan rahmat) merupakan zikir dan munajat kepada Allah. Dalam hal ini, dia memohon tambahan curahan rahmat kepada Allah untuk Nabi Muhammad saw. (hlm. 31)

Baca Juga:  Perang Melawan Hawa Nafsu itu Sepanjang Hayat

Menurut Syekh Ibn ‘Aṭāillāh, setiap salik harus mengawali perjalanan rohaninya menuju Allah dengan selawat, bukan dengan zikir-zikir yang lain. Ini (mengawali perjalanan rohani menuju Allah dengan memperbanyak baca selawat) merupakan tarekatnya Sayyidina Abu Bakar aṣ-Ṣiddīq. Sebab, Nabi Muhammad saw. merupakan perantara antara umat manusia dengan Allah. Dalam hal ini, beliau telah mengenalkan mereka tentang Allah sekaligus menunjukkan (kepada mereka) jalan menuju-Nya. Oleh karena itu, menjalin hubungan dengan perantara (Nabi Muhammad saw.) harus lebih didahulukan daripada sesuatu yang dibuatkan perantara (Allah) (hlm. 30). Contohnya, jika kita ingin mengambil buah mangga yang ada di ujung pohon mangga melalui galah, maka tentu saja galah harus lebih didahulukan daripada buah mangga. Sebab, kita tidak mungkin bisa meraih buah mangga yang diinginkan tanpa perantara galah.

Perjalanan rohani menuju Allah adalah perjalanan kalbu. Sebab, tempat ketulusan ada di dalam kalbu. Dalam kenyataannya, sering kali kalbu manusia teperdaya oleh hawa nafsu dan syahwat yang senantiasa mengajak kepada keburukan dan memalingkannya dari Allah. Oleh karena itu, kalbu tersebut menjadi kotor dan gelap sehingga terhijab dari ketulusan dan arah yang benar untuk menghadap Allah. Menurut Syekh Ibn ‘Aṭāillāh, seorang salik harus menghilangkan terlebih dahulu kotoran dan kegelapan yang menyelimuti kalbunya sehingga bisa sampai (wuūl) ke hadirat Allah. Apa yang bisa menghilangkan kotoran dan kegelapan yang menyelimuti kalbu? Tidak lain dan tidak bukan adalah pancaran cahaya. Lalu, apa pancaran cahaya itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah selawat. Dalam hal ini, Nabi Muhammad saw. bersabda, “Membaca selawat kepadaku adalah cahaya.” Beliau juga bersabda bahwa selawat merupakan pembersih bagi kalbu yang kotor dan karatan. Maka dari itu, seorang salik diperintahkan untuk mengawali perjalanan rohaninya dengan selawat agar ia membersihkan kalbunya (yang merupakan tempat ketulusan) terlebih dahulu. Sebab, ketulusan kalbu tidak akan muncul selama kalbu itu masih kotor, penyakitan, dan kehilangan kenikmatan untuk menyebut kekasih Allah (Nabi Muhammad saw.) (hlm. 30-31).

Di sisi lain, Syekh Ibn ‘Aṭāillāh menjelaskan bahwa barangkali maksud disyariatkannya berselawat kepada para nabi adalah agar seorang salik memiliki hubungan rohani dengan mereka. Sebab, jiwa manusia pada umumnya lemah sehingga ia tidak mampu untuk menerima pancaran cahaya ilahi secara langsung. Oleh karena itu, seorang salik perlu menghubungkan jiwanya dengan roh para nabi dengan memperbanyak baca selawat atas mereka. Ketika jiwa seorang salik memiliki hubungan yang kuat dengan roh para nabi, maka cahaya ilahi yang memancar dari alam gaib kepada roh para nabi akan memantul kepadanya. Pendek kata, cahaya ilahi yang memancar kepada roh para nabi akan memantul kepada orang-orang yang berselawat atas mereka. Dengan demikian, ketika seorang salik memperbanyak baca selawat atas Nabi Muhammad saw., maka ia akan memiliki hubungan rohani yang kuat dengan sang Nabi. Ketika ia memiliki hubungan rohani yang kuat dengan Nabi Muhammad saw., maka ia akan mendapatkan pancaran cahaya ilahi yang memantul dari sang Nabi (hlm. 31-32).

Baca Juga:  Pentingnya Dakwah dengan Akhlak di Era Digital

Menurut Syekh Ahmad al-Habbal, selawat adalah sambungan yang paling hebat yang akan menyambungkan seorang muslim dengan Nabi Muhammad saw. Dalam hal ini, hubungan antara seorang muslim dan Nabi Muhammad saw. dan rohaniahnya tidak akan pernah putus selama ia memperbanyak baca selawat dan salam kepadanya (https://www.instagram.com/p/DE7ObvEo_zO/?igsh=MWd5amo5emZidnI3aA==). Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah minimal selawat yang seharusnya dibaca oleh seorang muslim dalam setiap harinya. Syekh Abū Ṭālib al-Makkī berpendapat bahwa seorang muslim seyogianya membaca selawat minimal 300 kali setiap hari meskipun dengan redaksi selawat yang paling pendek (seperti allallāh ‘alā muammad). Menurut Syekh Abū al-Ḥasan al-Bakrī, seorang muslim seyogianya membaca selawat minimal 500 kali setiap hari (Zayn ad-Dīn al-Malībārī, Irsyād al-‘Ibād ilā Sabīl ar-Rasyād, 2018: 351). Ulama lain berpendapat bahwa seorang muslim seyogianya membaca selawat minimal 1000 kali setiap hari sebagaimana disebutkan oleh Syekh Ali Gomaa dalam akun Facebook (Dr. Ali Gomaa)nya (https://www.facebook.com/share/p/16B7NQ3DxY/). Wallāhu A‘lam wa A‘lā wa Akam...

Previous Article

Menapaki Tangga Spiritualitas: Belajar dari Kisah Zulaikha

Next Article

Qira’ah Mubadalah: Tarekat Cinta, yang Membuat Laki-laki dan Perempuan Bahagia Seutuhnya

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *