Pernahkah kita merenung, mengapa doa kita belum juga terkabul, padahal kita merasa telah meminta kepada Tuhan? Di sisi lain, bahkan permintaan makhluk seperti iblis—yang meminta izin agar diberikan SK untuk menggoda manusia—pun dikabulkan oleh Allah. Lalu, muncul pertanyaan tajam dalam hati: Mengapa iblis meminta keburukan saja dikabulkan oleh Allah, sementara kita yang memohon kebaikan belum juga dikabulkan?
Dalam Al-Qur’an, Allah mencatat permintaan iblis secara gamblang. Ketika iblis diusir karena menolak “sujud” kepada Adam, ia tidak pasrah begitu saja. Ia dengan sekuat tenaga dan penuh harap mengajukan permintaan kepada Allah. Al-Qur’an mengisahkan dengan sangat detail terkait hal ini.
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan kamu (Adam), kemudian Kami membentuk (tubuh)-mu. Lalu, Kami katakan kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam.’ Mereka pun sujud, tetapi iblis (enggan). Ia (iblis) tidak termasuk kelompok yang bersujud. Dia (Allah) berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud ketika Aku menyuruhmu?’ Ia (iblis) menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’ Dia (Allah) berfirman, ‘Turunlah kamu darinya (surga) karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.’ Ia (iblis) menjawab (meminta pertolongan), ‘Berilah aku penangguhan waktu sampai hari mereka dibangkitkan.’ Dia (Allah) berfirman, ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi penangguhan waktu.’ (QS. Al-A’raf [7]: 11-15)
Lihat bagaimana iblis—makhluk yang durhaka—bersungguh-sungguh dalam permintaannya. Ia memohon dengan penuh kesadaran akan kekuasaan Allah. Ia punya tujuan, ia punya tekad, dan ia tahu apa yang dia inginkan. Inilah bentuk permintaan yang jelas, terarah, dan total.
Sekarang bandingkan dengan cara kita berdoa. Tidak jarang doa kita disampaikan sambil lalu, tidak fokus, tidak sungguh-sungguh kadang terburu-buru, apa lagi saat berdoa mendengar notifikasi HP berdenting, wah langsung done! Kadang-kadang bahkan kita sendiri tidak tahu persis apa yang kita minta—hanya formalistas tanpa penghayatan dan permenungan yang dalam. Kita hanya mengucapkan kata-kata yang dihafal, tanpa hati yang hadir, tanpa usaha nyata yang menyertainya. Kalau sudah begini, yang selama ini kita lakukan itu berdoa atau menghafal bacaan doa?
Padahal Allah telah berjanji: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir [40]: 60)
Lihat redaksi ayat ini, “orang yang menyombongkan diri...” menunjukan janji Tuhan ini bukan untuk doa yang asal-asalan. Allah ingin hamba-Nya datang dengan kerendahan hati, dengan penuh harap, dan dengan kesungguhan—lihat iblis pun menengadah di hadapan-Nya dengan totalitas.
Iblis bukan hanya meminta, ia juga berikhtiar. Ia menjalankan misinya dengan konsisten—menggoda manusia tanpa lelah, tanpa putus asa, dari segala arah. Maka jangan heran jika Allah memberinya izin (dikabulkan permintaannya), karena ia serius dengan permintaannya.
“Ia (Iblis) menjawab, ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka (manusia) dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka (umat manusia) dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur’.” (QS. Al-A’raf [7]: 16-17)
Melihat kisah ini perlu kita membaca diri kembali bagaimana cara berdoa kita selama ini? Kadang kita berdoa agar rezeki dilapangkan, tapi malas bekerja. Kita minta jodoh, tapi tidak memperbaiki diri. Kita ingin tenang, tapi masih sering lalai dari ibadah bahkan berbuat onar. Kita berharap perubahan, tapi mageran. Ingat Allah tidak hanya melihat lidah yang meminta, tapi juga usaha yang dilakukan. Kata Imam Ali, “Doa tanpa usaha itu ibarat memanah tanpa busur panah.”
Ini bukan tentang mengagungkan iblis, melainkan mengambil pelajaran dari sikap bersungguh-sungguhnya. Bahkan makhluk terkutuk pun ketika meminta dengan jelas dan penuh kesungguhan, doanya dikabulkan. Maka, alangkah layaknya bagi manusia—makhluk termulya—untuk lebih sungguh-sungguh lagi dalam meminta kepada Tuhannya.
Berdoalah dengan hati, bukan hanya mulut berkomat kamit. Sertai dengan usaha, bukan hanya harapan kosong. Dan yakinlah, Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan—hanya saja, Dia ingin melihat kesungguhan dari hamba-Nya.