Kehidupan manusia adalah satu gambaran kehidupan yang berjalan dalam dinamika kefilsafatan. Disadari atau tidak, manusia selalu berfilsafat dalam kesehariannya. Lebih-lebih ketika dihadapkan akan beragam masalah yang berisiko dan beraneka ragam coraknya. Soal-soal yang tentunya membutuhkan satu jawaban tepat yang dianggap menggembirakan dan dianggap bisa meminimalisir risiko yang memunculkan kecemasan hidup yang melelahkan.
Dalam pada itu, munculnya masalah-masalah yang mewarnai kehidupan manusia dalam pertumbuhan dan perkembangannya seakan-akan menuntut manusia menjadi makhluk filosofis. Makhluk yang mampu memaksimalkan keistimewaannya, akal misalnya. Sehingga, dengan keistimewaan yang dimilikinya itu, manusia dapat hidup dengan cara dan gaya hidup yang semestinya. Yaitu, suatu kehidupan yang dijalani dengan prinsip keadilan yang mendorong manusia untuk berpikir tentang cara-cara menempatkan sesuatu pada tempatnya. Suatu cara berpikir yang disandarkan pada kebijaksanaan.
Boleh dikata, kebijaksanaan agaknya memang menjadi satu alat penting bagi manusia. Tetapi, akan jauh lebih mudah dicerna ketika kebijaksanaan itu dimaknai sebagai sesuatu yang tepat. Sederhananya, dengan konteks yang demikian itu, prinsip berpikir manusia yang bersandar pada keadilan dan kebijaksanaan adalah prinsip berpikir yang tepat. Ketepatan itulah yang selalu dicari manusia untuk menjawab segala persoalan dengan segala macam risikonya.
Dengan kata lain, filsafat identik dengan ketepatan. Di antara hal-hal yang membentuk manusia berpikir dengan tepat adalah pengalaman. Pengalaman-pengalaman baru yang dialami manusia juga menjadi satu tolak ukur penting bagi manusia dalam berfilsafat. Bahkan, melalui pengalaman-pengalaman yang dialaminya itu, manusia dilatih dan dididik agar bisa bergaya hidup filosofis. Gaya hidup yang tepat. Tersebab itu, manusia akan selalu berfilsafat meski ia tidak tahu filsafat.
Sudah pasti, istilah filsafat acapkali dianggap asing oleh beberapa orang. Terlebih, bagi mereka yang tidak pernah menyentuh buku-buku filsafat dan tidak pernah mendengar teori-teori kefilsafatan. Sangat wajar jika filsafat tidak dikenali. Lebih-lebih filsafat sebagai suatu teori sebagaimana yang telah terjelaskan pada buku-buku filsafat.
Pendek kata, beragam konteks itu menjadi penegas bahwa filsafat tak lagi sesuai jika dimaknai secara kaku sebagaimana yang termaktub dalam buku-buku filsafat dengan penjelasannya yang gitu-gitu aja. Penjelasan yang sering kali terbatas dan tidak fleksibel tentang filsafat yang acapkali diartikan cinta kebenaran dan cinta kebijaksanaan. Suatu pengertian yang rasanya sudah tidak lagi relevan dan tidak lagi sesuai sebagaimana fakta gunanya.
Tentu, tidak ada yang salah dengan perngertian itu. Tetapi, dengan memaknai filsafat pada arti yang itu-itu saja, maka filsafat menjadi lebih eksklusif dan lebih kaku. Utamanya ketika diterapkan dalam makna sederhana yang lebih memerlukan satu kemudahan untuk dicerna. Satu makna yang lebih bersahabat bagi generasi pada setiap zamannya sebagai suatu refleksi kritis. Dengan kata lain, kerja filsafat akan selalu membersamai manusia sepanjang hidupnya selama manusia masih bisa hidup dengan pikirannya.
Akan menjadi berbeda ketika membincangkan filsafat sebagai suatu teori. Tentu, definisi dan pengertian yang termaktub dalam lembaran buku-buku kefilsafatan adalah sumber yang jelas dan rujukan yang disarankan. Tidak cukup itu saja, pustaka-pustaka babon yang melimpah di perpustakaan juga menjadi satu bacaan wajib yang tidak boleh dihindari dan dilewati.
Membaca filsafat tanpa mengenali bagian-bagian filsafat dan fungsi filsafat pada setiap bagian-bagian itu biasanya akan mengantar pada kekeliruan dalam pengaplikasian filsafat. Sudah pasti jika hal itu diabaikan, maka akan berbahaya. Terutama bagi akademisi dan peneliti yang sering kali membutuhkan kerja filsafat dalam kajiannya. Baik sebagai pendekatan atau metode kajian maupun sebagai suatu produk pikiran tertentu yang didudukkan sebagai cara pandang untuk membedah suatu fenomena.
Di samping itu, meski filsafat sering dikenalkan dengan teorinya, baik sebagai produk pikiran maupun sistematika berpikir, tampak ada benarnya jika ada yang mengatakan bahwa tanpa perlu belajar filsafat pun manusia akan selalu hidup dengan dinamika kehidupan yang filosofis. Dinamika kehidupan yang mengantar manusia harus berfilsafat meski ia tidak tahu dan tidak paham filsafat. Tak lain adalah tersebab kehidupan manusia yang dihadapkan oleh beraneka corak masalah yang berbeda-beda. Baik soal agama, sosial, maupun budaya.
Tetapi, diakui atau tidak, dengan memahami filsafat sebagai suatu sistem berpikir, manusia acapkali tertolong oleh pencerahan-pencerahan yang ditemu akal pikiran ketika mengkaji dan menerangkan suatu fenomena serta polemik-polemik di sekitar kehidupan. Sebagai suatu metode, filsafat memang sangat berguna dalam praktik kehidupan. Beraneka soal bisa didekati dan dibaca cukup detail dan rinci dengan pertimbangan-pertimbangan yang terukur dan tajam. Sebab itu, kepahaman manusia akan filsafat sebagai suatu sistem berpikir memberi dampak positif pada ketepatan penyelesaian akan soal-soal hidup dengan jawaban dan keterangan yang tepat.
Memang, manusia akan selalu berfilsafat meski asing dengan kata filsafat itu sendiri. Karena, tanpa tahu filsafat pun manusia telah berfilsafat dalam hidupnya. Manusia telah hidup dengan cara filsafatnya sendiri.
Hanya, akan jauh berbeda ketika manusia mau melatih sistem berpikirnya sebagaimana yang telah dikonsepkan, dirumuskan, dan ditawarkan dalam konteks filsafat sebagai suatu metode dengan sifatnya yang radikal. Tentu, dengan upaya-upaya itu, manusia akan jauh lebih baik dan lebih cerlang dalam membaca segala apa yang disebut masalah. Tak itu saja, kedisiplinan manusia dalam membaca juga menjadi satu nilai positif yang menguntungkan bagi manusia. Selain paham sistematika berpikir yang ditawarkan oleh filsafat, membaca juga menjadi alat penting yang tidak dapat diganti dengan aktivitas lainnya dalam kaitannya dengan penyikapan atas suatu perkara. Karena, esensi membaca bukanlah tahu dan paham, melainkan mampu menyikapi suatu hal dengan sikap yang tepat dan adil.
Perpaduan itu, pemahaman akan filsafat, pengalaman hidup, serta kedisiplinan dalam membaca teks dan konteks, pada gilirannya akan mengantar manusia menjadi makhluk filosofis yang berjalan pada jalan kefilsafatan yang tepat dan terukur. Dengan begitu, manusia akan berjalan pada jalan hidup yang lebih bermakna. Tak ada lagi kecemasan berlebihan dan kekeliruan dalam membaca masalah hidup dengan tanggapan yang serampangan. Kehidupan manusia menjadi lebih seimbang dengan makna-makna yang dicerahkannya sendiri.