ARTIKEL

Perjumpaan di Tepi Eufrat: Mengais Hikmah dari Sang Bijak Bestari Uways al-Qaranī

Agustus 18, 2026
11 menit membaca

Tulisan ini membahas tentang mutiara hikmah dari seorang sufi besar asal Yaman, Uways al-Qaranī, yang disebutkan oleh Imam al-Gazālī dalam karya monumentalnya, Iyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, “Kitāb Żamm ad-Dunyā” bab “Bayān Ḥaqīqah ad-Dunyā wa Māhiyatihā fī Ḥaqq al-‘Abd”. Dalam hal ini, beliau menjadikan Uways al-Qaranī sebagai salah satu role model (panutan) yang patut ditiru oleh para pencinta kesejatian dan keabadian dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah Yang Maha Raja lagi Maha Mulia dan menjauhi seluruh kemilau dunia fana yang aduhai teramat indah memesona dan membuat para pencintanya tergila-gila dan merana.

Uways al-Qaranī berasal dari kabilah Murād bani (klan) Qaran di Yaman. Ia memilih tinggal di Kufah sekitar tahun 19 H./640 M. Silsilah lengkapnya adalah Uways bin ‘Āmir bin Juz’i bin Mālik bin ‘Amr bin Sa‘d bin ‘Amr bin ‘Aṣwān bin Qaran bin Rūmān bin Nājiyah bin Murād. Ia masuk Islam pada masa Rasulullah saw. Akan tetapi, ia tidak bisa menjumpai Rasulullah saw. karena harus merawat ibunda tercintanya. Oleh karena itu, ia tidak termasuk sahabat karena tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah saw. Ia hanya berjumpa dengan para sahabat sehingga termasuk tabiin. Di kalangan para tabiin, ia dikenal sebagai khayr at-tābi‘īn (tabiin yang paling baik) dan sayyid at-tābi‘īn fī zamānihī (rajanya tabiin pada masanya).

Di akhir hidupnya, Uways al-Qaranī menjadi komandan pasukan perang Khalifah ‘Alī bin Abī Ṭālib r.a. dalam Perang Ṣiffīn. Ia gugur dalam pertempuran itu sebagai kesatria dan syahid. Oleh karena itu, ia sangat dihormati, baik di kalangan muslim Sunnī maupun di kalangan muslim Syiah (Murtaḍā az-Zabīdī, Itāf as-Sādah al-Muttaqīn bi Syar Iyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, dalam https://www.islamweb.net/ar/library/content/411/6643/ dan “Uways al‑Qarani”, dalam https://en.wikipedia.org/wiki/Uways_al%E2%80%91Qarani, akses 09 Agustus 2026).

Uways al-Qaranī merupakan seorang zahid yang menempuh jalan spiritual secara sunyi (mastūr), total, dan anti-mainstream. Ia sangat keras dalam mendidik dan mengekang dirinya sehingga dianggap gila oleh keluarganya. Dalam hal ini, keluarganya membuatkan rumah kecil untuknya yang terletak di depan pintu rumah mereka. Akan tetapi, mereka tidak pernah melihat Uways al-Qaranī berada di rumah itu dalam kurun waktu satu tahun, dua tahun, hingga tiga tahun. Sebab, ia lebih sering berada di masjid daripada di rumahnya. Dalam hal ini, ia pergi ke masjid ketika azan Subuh baru berkumandang dan kembali ke rumahnya pada waktu Isya akhir (waktu tengah malam). Oleh karena itu, keluarganya tidak pernah melihatnya (Iyā’, III: 230).

Makanan pokoknya adalah sisa-sisa kurma yang sudah dibuang. Dalam hal ini, Uways al-Qaranī memungut biji-biji kurma yang sudah dibuang, lalu ia memakan sisa-sisa kurma yang masih menempel di bijinya. Kalau ia mujur menemukan kurma yang paling jelek yang sudah dibuang oleh orang-orang, maka ia menyimpannya untuk bekal buka puasa. Kalau ia tidak menemukan makanan sama sekali untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, maka ia menjual biji-biji kurma itu dan kemudian membeli makanan pokok sesuai dengan hasil penjualan biji-biji kurma tersebut. Adapun pakaiannya adalah potongan-potongan baju bekas yang diambil dari tempat sampah. Dalam hal ini, ia mengambil potongan-potongan baju bekas yang dijumpai di tempat sampah dan mencucinya di sungai Eufrat. Setelah itu, ia menjahit potongan-potongan baju bekas tersebut, lalu memakainya (Iyā’, III: 230).

Ketika Uways al-Qaranī bertemu dengan anak-anak di jalan, maka mereka melemparinya dengan bebatuan karena dianggap gila. Merespons perlakuan buruk dari anak-anak tersebut, maka ia berkata, “Wahai saudara-saudaraku, jika kalian tidak boleh tidak harus melempari aku dengan bebatuan, maka gunakanlah kerikil saja. Sebab, aku khawatir tumitku berdarah sehingga aku tidak bisa berwudu ketika waktu salat tiba.” Oleh karena itu, Rasulullah saw. memuliakan Uways al-Qaranī dan memuji ketinggian rohaninya meskipun tidak pernah bertemu. Dalam hal ini, beliau bersabda, “Sesungguhnya aku menjumpai napas-Nya Tuhan Yang Maha Pengasih dari arah Yaman.” Menurut Imam al-Gazālī, sabda Rasulullah saw. tersebut mengisyaratkan kepada Uways al-Qaranī yang berasal dari Yaman (Iyā’, III: 230).

Ketika Sayyidina ‘Umar bin Khaṭṭāb r.a. diangkat menjadi khalifah, maka beliau mencari tahu keberadaan Uways al-Qaranī. Dalam hal ini, beliau mengumpulkan orang-orang seraya berkata, “Siapa di antara kalian yang berasal dari Irak, maka berdirilah.” Maka, orang-orang yang berasal dari Irak berdiri semua. Lalu, beliau memerintahkan mereka untuk duduk, kecuali orang-orang yang berasal dari Kufah. Setelah itu, beliau memerintahkan orang-orang yang berasal dari Kufah untuk duduk, kecuali orang-orang yang berasal dari kabilah Murād. Beliau kemudian menyuruh orang-orang yang berasal dari kabilah Murād untuk duduk, kecuali orang-orang yang berasal dari bani Qaran.

Akhirnya, mereka duduk semua, kecuali satu orang laki-laki saja. Maka, Khalifah ‘Umar r.a. berkata kepada lelaki itu, “Apakah kamu berasal dari bani Qaran?” Dia menjawab, “Iya.” Lalu, beliau bertanya lagi, “Apakah kamu tahu Uways bin ‘Āmir al-Qaranī?” Beliau pun menjelaskan ciri-ciri Uways al-Qaranī kepada lelaki itu. Dia menjawab, “Iya. Apa yang Anda ingin tanyakan tentangnya, wahai amirulmukminin? Demi Allah, tidak ada orang yang lebih dungu, lebih gila, lebih buruk, dan lebih hina di antara kami (bani Qaran) daripada dia.” Mendengar hal itu, maka Khalifah ‘Umar r.a. langsung menangis seraya menyebutkan sabda Rasulullah saw. bahwa kelak Uways al-Qaranī akan memberikan syafaat kepada orang-orang sebanyak keturunan suku Rabī‘ah dan suku Muḍar (Iyā’, III: 230-231).

Salah satu orang yang hadir dalam pertemuan itu adalah Harim bin Ḥayyān. Ia mengisahkan bahwa ketika ia mendengar penjelasan Khalifah ‘Umar r.a. tentang keagungan Uways al-Qaranī tersebut, maka ia langsung pergi ke Kufah untuk mencari dan menanyakan keberadaan Uways al-Qaranī. Akhirnya, pada tengah hari ia berhasil menemukan Uways al-Qaranī sedang duduk untuk mengambil wudu dan mencuci bajunya di pinggir sungai Eufrat. Ia mengenali Uways al-Qaranī berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan oleh Khalifah ‘Umar r.a. dan lelaki dari bani Qaran tersebut.

Setelah didekati, ternyata Uways al-Qaranī adalah sosok yang berisi, kulitnya keras, kepalanya gundul, jenggotnya lebat dan sangat awut-awutan, buruk rupanya, dan menakutkan. Harim bin Ḥayyān kemudian memanggil salam, dan Uways pun menjawab salamnya seraya menatapnya. Maka, ia berkata, “Semoga Allah memberikan penghormatan kepadamu dari seorang lelaki.” Ia terus mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Uways, tetapi Uways menolaknya. Lalu, ia berkata, “Semoga Allah mengasihimu dan mengampunimu, wahai Uways. Bagaimana kabarmu? Semoga Allah mengasihimu.”

Setelah Harim bin Ḥayyān melihat keadaan Uways yang  memprihatinkan itu, maka ia dirundung kesedihan yang mendalam karena cinta dan kasihan kepada Uways. Ia pun langsung menangis, dan Uways pun juga ikut menangis. Lalu, Uways berkata, “Semoga Allah memberikan penghormatan kepadamu, wahai Harim bin Ḥayyān. Bagaimana kabarmu, wahai saudaraku? Siapa yang menunjukkanmu sehingga menemukan aku di sini?” Ia menjawab, “Allah.” Mendengar jawaban itu, Uways berkata, “Tiada Tuhan selain Allah. Maha Suci Allah. Sesungguhnya janji Tuhan kami pasti terlaksana (Al-Isrā’ [17]: 108).”

Harim bin Ḥayyān merasa heran ketika Uways menyebut namanya (Harim) dan nama bapaknya (Ḥayyān). Padahal, mereka berdua tidak pernah kenal dan bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya. Maka, ia bertanya kepada Uways, “Dari mana kamu mengetahui namaku dan nama bapakku? Padahal, aku tidak pernah bertemu denganmu sebelum ini.” Uways pun menjawab, “Yang memberitahuku adalah Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Teliti (At-Taḥrīm [66]: 3). Ruhku sudah mengenal ruhmu ketika jiwaku berbicara dengan jiwamu. Sebab, ruh juga memiliki jiwa sebagaimana jasad. Sesungguhnya orang-orang yang beriman saling mengenal dan mencintai satu sama lain dengan ruh-Nya Allah meskipun (secara lahiriah) mereka tidak pernah bertemu, kenal, dan berbicara satu sama lain, dan meskipun rumah dan tempat tinggal mereka saling berjauhan.”

Lalu, Harim bin Ḥayyān meminta Uways untuk meriwayatkan satu hadis kepadanya. Namun, Uways menolaknya dengan beberapa alasan. Pertama, ia bukan sahabat karena tidak pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad saw. secara langsung. Kedua, ia memang pernah mendengarkan hadis dari beberapa sahabat, tetapi ia tidak mau menyebutkannya. Sebab, ia tidak ingin menjadi muaddiś, mufti, atau kadi. Ia lebih suka tersembunyi (mastūr) dan menjauh dari kehidupan manusia. Setelah mendengar penjelasan itu, Harim bin Ḥayyān mengatakan bahwa ia sangat mencintai Uways karena Allah. Oleh karena itu, ia ingin agar Uways membacakan ayat tertentu untuk dirinya, mendoakannya, dan memberikan wasiat kepadanya. Ia pun berjanji akan menjaga baik-baik wasiat itu.

Maka, Uways berdiri dan menarik tangan Harim bin Ḥayyān ke pinggir sungai Eufrat seraya membaca, “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk.” Ia kemudian menangis dan berkata, “Tuhanku berfirman, dan kebenaran itu ada di dalam firman-Nya Tuhanku. Ucapan yang paling benar adalah firman-Nya dan perkataan yang paling benar adalah firman-Nya.” Ia kemudian membaca surah Ad-Dukhān (44): 38-42, “Tidaklah Kami ciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya secara main-main. Tidaklah Kami ciptakan keduanya, kecuali dengan hak. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka tidak mengetahui. Sesungguhnya hari keputusan (hari kiamat) itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya, (yaitu) hari (ketika) seorang teman setia sama sekali tidak dapat memberi manfaat sedikit pun kepada teman lainnya dan mereka tidak akan mendapat pertolongan, kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” Lalu, ia berteriak dengan satu kali teriakan.

Mendengar teriakan Uways tersebut, maka Harim bin Ḥayyān menyangka Uways sudah pingsan. Ternyata ia masih sadar dan melanjutkan perkataannya, “Wahai Ibnu Ḥayyān, bapakmu, Ḥayyān, sudah wafat. Kamu sendiri juga akan segera meninggal. Bisa jadi kamu masuk surga, dan bisa jadi kamu masuk neraka. Bapakmu, Ādam, juga sudah wafat. Ibumu, Ḥawwā’, juga sudah wafat. Nūḥ juga sudah wafat. Ibrāhīm, kekasih-Nya Tuhan Yang Maha Pengasih, juga sudah wafat. Mūsā, orang yang dibisiki Tuhan Yang Maha Pengasih, juga sudah wafat. Dāwud, khalifah-Nya Tuhan Yang Maha Pengasih, juga sudah wafat. Muhammad saw., utusan Tuhan semesta alam, juga sudah wafat. Abū Bakar, khalifahnya orang-orang Islam, juga sudah wafat. ‘Umar, saudaraku dan sahabat karibku, juga sudah wafat. Wahai ‘Umar, wahai ‘Umar.”

Harim bin Ḥayyān berkata, “Semoga Allah mengasihimu. Sesungguhnya ‘Umar belum wafat.” Maka, Uways menjawab, “Tuhanku telah memberitahukan kabar kematiannya padaku. Dia juga telah memberitahukan kabar kematianku padaku. Aku dan kamu seakan-akan sudah mati.” Ia kemudian membaca selawat atas Nabi Muhammad saw. dan berdoa secara samar. Setelah itu, ia melanjutkan perkataannya lagi, “Ini adalah wasiatku. Wahai Harim bin Ḥayyān, berpeganglah kepada Al-Qur’an dan jalannya orang-orang saleh yang beriman. Sungguh aku sudah diberi tahu kabar tentang kematianku dan kematianmu. Hendaklah kamu selalu mengingat kematian. Maka, janganlah kamu memalingkan kalbumu dari mengingat kematian meskipun hanya sekejap mata selama kamu masih hidup. Berilah peringatan kepada kaummu ketika kamu kembali kepada mereka, dan berilah nasihat kepada semua umat Islam. Janganlah kamu memisahkan diri dengan jemaah (kelompok umat Islam) meskipun hanya sejengkal, maka lambat laun kamu akan memisahkan diri dari agamamu (keluar dari Islam) tanpa kamu sadari sehingga kamu akan masuk neraka pada hari kiamat nanti. Doakanlah diriku dan dirimu sendiri.”

Uways kemudian berdoa untuk Harim Ḥayyān, “Ya Allah, sesungguhnya orang ini mengaku bahwa dia mencintaiku karena-Mu dan berkunjung kepadaku karena-Mu. Maka, perlihatkanlah wajahnya kepadaku di surga nanti dan masukkanlah dia ke dalam rumah-Mu, yaitu rumah kedamaian (surga). Jagalah dia selama masih hidup di mana pun dia berada dan kembalikanlah barang-barangnya yang hilang. Berilah dia keridaan atas harta yang sedikit dan mudahkanlah dia untuk mendapatkan harta yang Engkau berikan. Jadikanlah dia termasuk orang-orang yang bersyukur atas berbagai nikmat yang telah Engkau berikan dan balaslah dia dariku dengan sebaik-baik balasan.”

Setelah berdoa, ia berkata lagi, “Aku sudah menitipkanmu kepada Allah, wahai Harim bin Ḥayyān. Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurahkan kepadamu. Setelah hari ini, aku tidak ingin melihatmu lagi untuk mencariku. Semoga Allah mengasihimu. Sebab, aku benci terhadap kemasyhuran. Aku lebih suka menyendiri. Aku sering merasa susah dan sedih ketika berkumpul dengan orang-orang selama aku masih hidup. Maka, kamu jangan bertanya lagi kepadaku dan jangan mencariku lagi. Ketahuilah bahwa kamu memiliki perhatian khusus dariku meskipun kamu tidak melihatku dan aku tidak melihatmu. Ingatlah kepadaku dan doakanlah aku, maka aku akan mengingatmu dan mendoakanmu, insyaallah. Pergilah kamu dari sini biar aku juga bisa pergi dari sini.”

Sebenarnya Harim bin Ḥayyān masih ingin berjalan dengan Uways al-Qaranī meskipun hanya sesaat. Akan tetapi, Uways menolak keinginan Harim bin Ḥayyān tersebut. Akhirnya, ia terpaksa berpisah dengan Uways. Maka, Uways pun menangis dan Harim bin Ḥayyān juga ikut menangis. Ia terus memandang Uways yang pergi meninggalkan dirinya. Uways akhirnya masuk ke sebuah gang sehingga Harim bin Ḥayyān tidak bisa melihatnya lagi. Di akhir ceritanya, Harim bin Ḥayyān berkata, “Setelah itu, aku mencoba bertanya tentang keberadaan Uways al-Qaranī, tetapi tidak ada satu pun orang yang mengetahui keberadaannya. Semoga Allah mengasihi Uways al-Qaranī dan mengampuni dosa-dosanya.” (Iyā’, III: 231-232) Wallāhu A‘lam wa A‘lā wa Akam…

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Alumni Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Konsentrasi Kajian Maqasid dan Analisis Strategi dan Pengajar di Madrasah Diniyah Awwaliyah Nurul Jadid Pamekasan

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan