Memang kita tidak bisa memungkiri bahwa di satu sisi, modernitas, dengan sains dan teknologinya, berhasil membuat berbagai kemajuan-kemajuan. Akan tetapi, kita tidak bisa menafikan bahwa di sisi lain, modernitas pun menghadirkan sejumlah permsalahan dan sisi gelapnya. Dalam diskursus akademik, ada banyak pemikiran yang mencoba mengupas “sisi gelap” dari modernitas, dan salah satunya yakni Sayyed Hossein Nasr, seorang cendikiawan yang dikategorikan oleh Anton Bekker dalam buku Kosmologi dan Ekologi, Filsafat tentang Kosmos sebagai Rumah Tangga Manusia (1995), dengan sebutan kosmologi tradisional yang tergolong pada jenis kosmologi filsafat.
Sekilas tentang Sayyed Hossein Nasr
Penting untuk dicatat, sebagaimana yang ditulis oleh Ach. Maimun dalam buku Sayyed Hossein Nasr: Pergulatan Sains dan Spiritualitas (2015), bahwa Nasr menyelesaikan pendidikannya di MIT (Massachussetts Instititute of Technology) pada bidang Fisika, kemudian melanjutkan studinya di Harvard University dengan spesialisasi Geologi dan Geofisik, dan setelah itu Nasr melanjutkan pada jenjang doktoral dengan spesialisasi sejarah sains.
Nashr sendiri menyelesakan program doktoralnya pada usia 25 tahun, yakni pada tahun 1958 dengan disertasi berjudul Conception of Nature in Isamic Thought and Methods Used for Its Study by the Ikhwan al-Safa, al-Biruni and Ibnu Sina, yang kemudian disertasi tersebut diterbitkan dengan judul Introduction to Islamic Cosmological Doctrines.
Bila kita melihat rekam jejak akademik Nashr sebagaimana yang diungkapkan di atas, maka dapat dikatakan Nashr adalah orang yang mempunyai pengetahuan luas, bukan hanya pengetahuan yang bersumber dari Dunia Timur, tapi juga pengetahuan yang bersumber dari Dunia Barat. Sebab itu, penting kiranya mempertimbangkan kritik Nashr atas modernitas yang digaungkan oleh Dunia Barat. Meski di satu sisi, harus diakui, modernitas telah membawa kemajuan pada peradaban manusia, tapi di sisi lain, modernitas pun menghasilkan ‘sisi gelapnya’.
Menurut Ach.Maimun (2015), salah satu hal yang menggelisahan hati dan pikiran seorang Nasr adalah krisis ekologi yang telah mencapai titik nadir. Kerusakan hutan, pencemaran air dan udara merupakan contoh yang sangat menonjol. Bagi Nasr, kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan karena manusia menggunakan teknologi dan sains untuk mengeksploitasi alam demi kepentingan material sesaat, dan Nasr menghubunhkan ini sebagai salah satu pangkal utama penyebab terjadinya krisis ekologis yang menjadi salah satu ancaman utama di era modern ini.
Kritik atas Cacat Epistemologi Modern
Bagi Nasr, krisis ekologis terjadi karena yang mendominasi dalam kesadaran (modernitas) adalah realitas fisik, maka segala hal yang bersifat metafisika menjadi tidak penting, bahkan nonsense.
Dengan perkataan lain, bahwa dalam kacamata Nasr, akar dari persoalannya adalah kesalahan mendasar dari epistemologi modern secara khusus. Kehidupan yang hanya berdasar pada pengetahuan realitas fisik akan menjadi kering dan sempit. Kerusakan ekologi termasuk salah satu dampak yang telah terlihat dan terasa oleh masyarakat dunia.
Dalam Religion and the Order of Nature (1996), Nasr menyebut bahwa krisis tersebut berada pada taraf yang mengkhawatirkan. Nasr mencontohkan, seperti soal peningkatan suhu panas global, kerusakan lapisan ozon, dan sebagainya. Bagi Nasr, krisis ekologi tersebut akan menjadi ancaman yang nyata bagi seluruh struktur kehidupan masyarakat dunia.
Dengan demikian, dapat dikatakan, inti kritik Nasr atas modernitas, merupakan kritiknya atas sains dan teknologi. Nasr sendiri dalam The Encounter of Man and Nature (1968), menyebut bahwa sains membawa dampak yang negatif karena sains telah keluar dari peran, fungsi dan pengaplikasiannya yang seharusnya.
Kembali mengutip Ach. Maimun (2015), selain krisis ekologi, Nasr pun berpandangan bahwa sains modern juga berdampak pada terjadinya krisis manusia. Terputusnya hubungan manusia dari realitas yang lebih tinggi (sering disebut the source) akibat hegemoni sains modern yang menyebabkan manusia modern tidak mengerti tentang siapa dirinya (the self) yang sebenarnya. Sebab, ia tidak memiliki kesadaran yang lebih tinggi (higher consciousness). Sehingga, pandangan tentang manusia hanya terfokus pada dimensi fisik.
Dalam buku Menjelajahi Dunia Modern (1994), Nasr pun mengkritik perkembangan sains modern yang menjelma menjadi saintisme, yang dipahami di sini sebagai keyakinan baru yang dinilai absolute dan menolak kebenaran dari sumber lain. Gambaran sekilas tentang pandangan Nasr ini, meneguhkan posisinya sebagai salah satu cendikiawan terkemuka pengkritik khazanah sains dan teknologi modern.
Nasr sendiri mengajukan filsafat perenial sebagai alternatif. Bagi saya pribadi, saya tidak sepenuhnya menyepakati paradigma alternatif yang coba dikembangkan oleh Nasr, yang tidak akan saya ulas dalam edisi tulisan ini. Hanya saja, saya meletakkan kritik Nasr terhadap modernitas sebagaimana yang dibahas dalam tulisan ini, sebagai bentuk penyadaran kita bahwa sains dan teknologi, yang meski di satu sisi harus kita akui banyak menghadirkan kebermanfaatan, tetapi ia bisa digunakan untuk mengakselerasi kerusakan.
Kerjasama Lintas Khazanah dan Budaya
Kegelisahan Nasr atas perkembangan modernitas tersebut banyak disuarakan oleh para pemikir lain, seperti Mazhab Frankfurt generasi pertama. Tokoh seperti Max Horkheimer dan T.Adorno dalam Dialectic of Enlightenment (1969) mengkritik perkenbangan mutakhir era pencerahan yang melahirkan sains dan teknologi, yang menurutnya, justru menciptakan “mitos baru”. Rasio instrumental selain digunakan pada alam, juga untuk menundukkan manusia, termasuk dalam menciptakan industri budaya. Tokoh lain, seperti Herbert Marcuse dalam One Dimensional Man (1964) mengkritik perkembangan teknologi yang berkelindan dengan kepentingan kapitalisme, yang bisa memanipulasi kebutuhan masyarakat dan turut mendorong lahirnya masyarakat yang totaliter. Kritik lain atas epistemologi modern, juga muncul dari kalangan ekofeminisme, yakni Vandana Shiva melalui Staying Alive: Women, Ecology and Survival in India (1988), Shiva mengkritik epistemologi Cartesian yang menurutnya turut berandil atas terjadinya masalah ekologis yang kian mengkhawatirkan.
Di tengah segudang permasalahan dunia saat ini, yang bahkan Anthony Giddens dalam “Affluence, Poverty and the Idea of a Post-Scarcity Society” (1996) menyebut sebagai manufactured risk. Maka langkah awal untuk mengantisipasi agar dampak tidak semakin parah adalah semacam membangun kesadaran kolektif mengenai sisi negatif modernitas, yang dewasa ini diidentikan dengan peradaban Barat, dan kemudian membangun kesadaran dan gerakan kerjasama antar- khazanah keilmuan bahkan peradaban.
Artinya, mengakui kekhasan dan kekayaan khazanah lokalitas yang bersumber dari non-Barat pun adalah suatu keharusan. Misalnya, bagaimana pengetahuan masyarakat Adat atas lingkungan seharusnya mendapat pengakuan yang juga terhormat, Dari sinilah kita bisa membangun suatu fondasi etikalitas yang bisa bermanfaat untuk menahan laju dampak negatif dari modernitas pada satu sisi, dan pada sisi yang lain kita tidak menafikan sains beserta teknologi yang memang memiliki logika dan cara kerjanya sendiri. Salah satu contoh konkret yang bisa kita aplikasikan, misalnya dalam suatu kebijakan pembangunan, nilai kekayaan lokalitas dan pemanfaatan sains dan teknologi harus menjadi pertimbangan, yang mana kedua hal tersebut saling bersinergi.
Singkatnya, bahwa saya berpandangan untuk membangun suatu peradaban dan mengantisipasi dunia yang kian tidak menentu ini, bukan hanya memerlukan kerjasama antar disiplin keilmuan, tetapi bahkan sinergi dan kerjasama antar-budaya dan peradaban; entitas yang satu bukan hanya tidak boleh menegasikan entitas yang lain, tetapi juga tidak boleh arogan dan memandang rendah entitas yang lain. Hanya dengan inilah kita bisa membayangkan dunia yang mungkin lebih baik.