Di balik semarak Maulid Nabi yang tiap tahun kita peringati, ada sebentuk kerinduan mendalam yang tanpa sadar kerap terlewatkan, kerinduan akan sosok penata moralitas di tengah zaman yang dilanda krisis multidimensi. Kita sering memandang kehadiran Nabi dalam bingkai romantisme sejarah atau melalui ritual seremonial belaka. Padahal, jika ditarik ke simpul paling mendasar, kedatangan beliau adalah sebuah intervensi spiritual untuk merombak tatanan jiwa dan kesadaran manusia.
Watak transformatif ini terasa kian beralasan jika kita menengok kembali kondisi historis ketika risalah Islam pertama kali diturunkan. Jauh sebelum Nabi Muhammad Saw. diutus, Jazirah Arab tengah berada di ambang krisis keyakinan dan moral-spiritual yang amat pelik.
Dilihat dari krisis keyakinan, pesan monoteistik Nabi Ibrahim a.s. beberapa abad sebelumnya sirna di tanah ini. Kebanyakan penduduknya tenggelam dalam kemusyrikan dan kekufuran. Pengecualian mengenai hal ini terkhusus pada sejumlah kecil orang-orang Kristen dan Yahudi serta segelintir orang yang oleh al-Qur’an disebut dengan Kaum Hanīf atau Hunafā’, yakni mereka yang berpegang teguh pada agama Ibrahim.
Sedangkan dilihat dari sisi krisis moral-spiritual, kesombongan, hedonisme, pencarian kenikmatan duniawi, pembunuhan, dan egoisme telah menjadi laku masyarakat Arab. Sebegitu terpuruknya mereka dalam hal moralitas, sehingga Islam menggambarkan dan memotretnya dengan tepat dalam kata “jahiliah”, sebuah kata yang sebenarnya tidak melulu identik dengan kebodohan sebagaimana menjadi lawan dari ‘ilm (ilmu), tetapi juga terkait dengan keadaan psikologis yang berkaitan dengan sikap mudah marah, tak sabar, dan mementingkan ego pribadi.
Untuk menyelesaikan krisis moral-spiritual di masa itu, Allah menghadirkan Islam melalui Nabi Muhammad Saw. Dia mengenalkan, mengajarkan, dan mempraktikkan kualitas-kualitas moral yang luhur seraya menegaskan bahwa tujuannya diutus di antaranya adalah untuk menyempurnakan akhlak. Dalam salah satu sabda terkenalnya, beliau menyebutkan, “Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia [innamā bu’itstu li utammima makārim al-akhlāq].”
Hadis yang biasa dikenal dengan hadis makārim al-akhlāq ini dinilai sahih oleh banyak ulama, nyaris tidak ada masalah secara matan maupun sanad. Ia diterima baik oleh kalangan Ahlu Sunnah maupun Syiah. Namun, secara makna sejatinya hadis ini masih dapat didiskusikan lebih jauh, apakah ia semata-mata hanya ingin menunjukkan tujuan diutusnya Nabi semata—sebagaimana umumnya diketahui—ataukah lebih dari itu?
Memaknai Kembali Kebajikan Pagan
Poin pertama yang dapat dicerap dari hadis ini bahwa akhlak atau moral sebelum zaman Nabi masih belum sempurna atau lengkap, lalu Islam datang menyempurnakannya atau melengkapinya (kata “itmām” dalam redaksi hadis di atas secara linguistik dapat bermakna ‘menyempurnakan’ atau ‘melengkapi). Namun, jangan disalahpahami bahwa masyarakat saat itu tidak mengenal nilai-nilai moral yang baik dan yang buruk.
Betapapun krisis moral melanda masyarakat, nilai-nilai moral yang baik juga dapat ditemukan pada masa Arab pra-Islam. Penelitian Toshihiko Izutsu menegaskan ihwal hal ini. Baginya, “Kita akan melakukan ketidakadilan yang serius, terhadap semangat Jahiliah dan bahkan terhadap posisi Islam itu sendiri, apabila kita beranggapan bahwa Islam menolak, tanpa memilih-milih semua pandangan moral Arabia pra-Islam sebagai bertentangan dengan kepercayaan monoteistik.” (Izutsu, 2002)
Dalam pandangan Izutsu, masyarakat Arab pra-Islam juga memiliki pandangan tentang perbedaan antara baik-buruk dan benar-salah. Meskipun memang konsep-konsep yang mereka miliki tentang sifat-sifat moral ini kurang memiliki pijakan yang konsisten dan teoretik. Sebagai misal, murah hati. Perbuatan murah hati oleh masyarakat Arab Kuno dianggap sebagai bukti kemuliaan sejati. Semakin boros dan berlebih-lebihan perbuatan murah hati, semakin bernilai etis dan mulia perbuatan itu.
Setelah Islam datang, memang murah hati masih diberikan posisi yang tinggi. Hanya saja Islam menolak semua nilai perbuatan murah hati yang disebabkan karena sikap ingin pamer. Dalam pandangan Islam, yang penting bukan perbuatan murah hatinya, tetapi niat yang mendasarinya. Hal ini juga berlaku bagi perbuatan-perbuatan moral lainnya.
Dalam Ethico Religious Concept in The Qur’an, Izutsu setidaknya memaparkan dua karakteristik moral Islam yang membedakannya dari moral pra-Islam. Karakteristik pertama, prinsip moralitas Islam didasarkan pada keyakinan terhadap Tuhan yang Esa. Tuhan menjadi sentralitas tujuan tindakan manusia.
Karakteristik kedua, prinsip moralitas Islam didasarkan pada keyakinan terhadap Hari Akhir, pada kehidupan abadi setelah kematian di dunia, yang setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap semua yang telah diperbuatnya. Prinsip ini paradoks dengan kecederungan hedonis orang-orang Jahiliah yang menganggap bahwa kehidupan hanya di dunia ini saja. (QS 45: 24), (QS 6: 29)
Berdasarkan dua karakteristik inilah, kebajikan-kebajikan paganisme yang menonjol, seperti murah hati, keberanian, kesetiaan, kejujuran, dan kesabaran dimaknai kembali oleh Islam melalui Nabi dalam bingkai pandangan dunianya. Pada tataran ini, nabi ternilai berhasil dalam mereformasi dan menyempurnakan akhlak pada masanya, bahkan dia sendiri menjadi model ideal atau teladan akhlak yang luhur.
Akhlak sebagai Inti Syariat
Poin penting kedua yang dapat diambil dari hadis ini adalah tentang tujuan nabi diutus, yakni untuk “menyempurnakan akhak yang mulia”. Tujuan ini ternilai asasi dari semua misi yang dengannya Nabi diturunkan. Meskipun begitu, tujuan ini jangan dipertentangkan dengan ketauhidan dalam aspek keimanan yang juga menjadi misi Nabi. Sebab, dalam tinjauan yang lebih komprehensif—sebagaimana juga dijelaskan di poin pertama—akhlak Islam didasarkan pada keyakinan terhadap Tuhan yang Esa.
Menurut Kamal Haydari, dalam karyanya Fī Dhilāl al-Qur’ān wa al-‘Aqīdah, hadis ini juga dapat bermakna bahwa syariat yang dibawa oleh Nabi memuat prinsip-prinsip moral, sebagaimana terimplementasi dalam segala segi, baik keimanan, ibadah, maupun muamalah. Bahkan, tidaklah ternilai suci atau murni suatu iman, ibadah, dan tindakan tanpa didasari akhak yang mulia.
Hadis ini diperkuat dengan ayat Ali Imran 164 dan al-Jumu’ah 2 dan ayat-ayat semisal yang menegaskan bahwa diturunkannya nabi terakhir ini adalah untuk menyucikan hamba-hambanya. “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS 62: 02)
Kata menyucikan (yuzakkiyhim) dalam ayat ini erat kaitannya dengan akhlak. Sebab, hanya jiwa-jiwa manusia yang bersih dan suci yang layak menyandang sifat-sifat mulia. Mereka inilah yang oleh al-Qur’an disebut orang yang beruntung, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS 91: 9) Meskipun begitu, ini semua tidak dapat dilakukan kecuali dengan meneladani rasul.
Menjinakkan Emosi dan Syahwat
Poin lain selanjutnya adalah kata makārim al-akhlāq⸺atau akhlak yang mulia⸺dalam hadis ini mengisyaratkan bahwa di samping akhlak-akhlak mulia juga eksis akhlak-akhlak buruk. Karena jika tidak, tentu redaksi hadis ini tidak perlu dipertegas dengan kata yang mulia. Sejatinya, Nabi mengidentifikasi dan memberitahukan akhlak-akhlak yang buruk untuk selanjutnya mentransformasinya agar menjadi akhlak-akhlak yang baik dan mulia.
Dalam tinjauan filsafat Islam, moral buruk dapat berasal dari emosi (ghadhab) dan syahwat (syahwat) dalam diri manusia. Namun supaya muncul tindakan-tindakan baik, Islam tidak mengajarkan agar emosi dan syahwat itu dihilangkan, karena itu mustahil. Pun demikian, keduanya juga tak dapat dibiarkan ‘berkuasa’ semaunya. Akhlak Islam justru mengajarkan agar keduanya dikontrol dan dijinakkan di bawah kekuatan akal, yang selanjutnya dapat ditempa lebih intens melalui olah jiwa dan latihan spiritual. Islam menempatkan keduanya pada posisi tengah-tengah, antara meliarkan (ifrāth) dan mengenyahkannya (tafrīth). Tujuannya adalah agar keselamatan di akhirat dan kedekatan dengan Allah dapat diraih.
Suatu kali, seseorang pernah berbicara di hadapan Nabi mengenai sesuatu yang tidak disukai beliau. Beliau pun marah sampai-sampai kedua pipinya memerah. Memang Nabi pernah berucap, “Sesungguhnya aku hanya seorang manusia, yang bisa marah sebagaimana manusia marah.” Meskipun begitu, beliau tidak pernah mengucapkan sesuatu kecuali yang benar. Kemarahan tidak membuat beliau keluar dari kebenaran. Nabi termasuk sebagaimana firman Allah, “Dan orang-orang yang menahan marah.” (QS 3: 134) dan bukan, “Orang-orang yang tidak mempunyai kemarahan.”
Berislam adalah Berakhlak
Akhlak-akhlak yang mulia sangatlah banyak, dan semuanya terwujud secara nyata pada pribadi Nabi Muhammad Saw. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Imam Ali bin Abi Thalib, “Hitungkan untuk kami akhlak mulia Rasulullah Saw.!” Beliau berkata, “Apakah kau bisa berhitung?” Dia menjawab, “Ya.” Beliau berkata, “Hitungkan untukku keindahan dunia!” Dia berkata, “Keindahan dunia tak terhitung.” Imam Ali berkata, “Kau tidak mampu menghitung keindahan dunia yang sedikit, padahal Allah Swt. berfirman, ‘Katakanlah [wahai Muhammad], keindahan dunia itu sedikit.’ Lalu kau meminta menghitungkan sesuatu yang agung, sebagaimana Allah Swt. berfirman tentangnya, ‘Dan sesungguhnya engkau [wahai Muhammad] berbudi pekerti agung.’”
Sebagian akhlak mulia itu dijelaskan sendiri oleh Rasulullah Saw.: “Sesungguhnya akhlak-akhlak mulia di sisi Allah adalah engkau memaafkan orang yang menzalimimu, menghubungkan tali [silaturahim] dengan orang-orang yang memutuskannya denganmu, dan memberi orang yang enggan memberimu.”
Imam Ja’far al-Shadiq ketika ditanya tentang akhlak-akhlak mulia berkata, “Takwa, rida, mampu menghadapi kesulitan, bersyukur, sabar, tabah, berani, toleran, murah hati, yakin dengan martabat dan nilai diri sendiri, bermoral tinggi dan jujur.”
Karena itu, akhlak dalam Islam bukanlah sesuatu yang berada di pinggir agama. Ia justru menyentuh inti keberagamaan seseorang. Syahdan, seorang lelaki menemui Rasulullah Saw. dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Akhlak yang baik.” Ia bertanya lagi dari sisi kanan, kiri, dan belakang beliau dengan pertanyaan yang sama. Setiap kali itu pula Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.” Hingga akhirnya beliau bersabda, “Belum jugakah engkau mengerti (agama itu akhlak yang baik)? Sebagai misal, janganlah engkau marah.” (Al-Targhīb wa al-Tarhīb, 3: 405).
Islam dicirikan—kalau tak ingin dikata ‘sama’—dengan akhlak. Beberapa hadis bahkan menyebutkan akhlak sebagai ukuran keimanan seseorang. Nabi yang mulia bersabda bahwa orang yang paling menyerupai dirinya adalah mereka yang paling baik akhlaknya: halus sikapnya, berbakti kepada kerabat, mencintai saudaranya, sabar dalam membela kebenaran, mampu mengekang amarah, pemaaf, dan sanggup menguasai diri.
Dalam sumber-sumber syariat, begitu banyak dijelaskan hubungan akhlak dengan kemusliman dan keimanan seseorang. Sebegitu eratnya hingga kita tak akan dapat, atau setidaknya tak layak, disebut sebagai mukmin atau bahkan muslim sekalipun ketika kita tak berakhlak.
Sebab pada akhirnya, berislam bukan hanya tentang apa yang kita yakini dan apa yang kita kerjakan, tetapi juga tentang manusia seperti apa yang dengannya kita menjadi setelah keyakinan dan ibadah itu meresap ke dalam diri. Dan pada titik itulah akhlak menjadi cermin paling jujur dari keberislaman seseorang. Wallahu a’lam bisshawāb.