Kehidupan sering kali menjebak manusia untuk melakukan hal-hal di luar kendali diri. Hal ini berawal ketika seseorang tidak kuasa menahan hawa nafsu yang memenjarakan jiwa, sehingga kebahagiaan yang diidamkan tidak terwujud. Pada situasi inilah, manusia secara otomatis menganggap kejadian tersebut sebagai cobaan atau ujian dari Tuhan, padahal hal buruk tidak pernah berasal dari-Nya. Sikap inilah yang membuat manusia merasa kecewa dan terperdaya karena seolah-olah tidak mampu meraih kebahagiaan.
Padahal, yang mereka kejar bukanlah kebahagiaan sejati, melainkan sekadar pemuasan hawa nafsu dan kenikmatan duniawi semata. Ketika tujuan hidup hanya berkisar pada urusan dunia, kebahagiaan pun menjadi sulit dicapai. Sebagaimana pernah disampaikan oleh Socrates, kebahagiaan hakiki bukanlah tentang mengejar kenikmatan dunia, melainkan memperoleh virtue (kebajikan), yakni sejauh mana kehadiran kita mampu mendatangkan kemanfaatan bagi diri sendiri dan sesama makhluk.
Oleh karena itu, diperlukan sebuah metode untuk mencapai kebahagiaan sejati tersebut: metode yang mampu menempatkan urusan dunia sebatas fasilitas, bukan tujuan utama. Metode ini harus berkesinambungan dalam membersihkan hati. Dalam Islam, pembersihan hati merupakan intisari ajaran agama, sebab beragama tanpa keterlibatan hati tidak akan membawa makna apa pun.
Tasawuf hadir sebagai pilihan metode yang sangat efektif karena inti dari ajaran tasawuf adalah penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Sebagaimana firman Allah SWT bahwa beruntunglah orang yang membersihkan hatinya. Melalui hati yang bersih, manusia akan menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukanlah kenikmatan duniawi, melainkan kebahagiaan yang diridai-Nya—yakni menjalankan ubudiyah secara khusyuk dan menyebarkan rahmat Tuhan demi kemaslahatan bersama.
Insyaallah, kita semua dapat meraih kebahagiaan tersebut. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.