Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Ahlulkitab dalam Islam (1): Sebagai Anggota Masyarakat

Memperbanyak Berdoa/Zikir/Wirid/Hizib atau Amal Saleh?

Baiklah saya mulai tulisan ini dengan pengakuan. Meski tak terlalu rajin, saya senang wiridan juga. Malah belakangan porsinya saya coba tambah. Tapi saya punya pertanyaan. Sebagai berikut. Kemarin saya mendapatkan buku doa—kebetulan ini kompilasi semua doa yang tercatat di kalangan mazhab Syiah. Tebalnya sebantal. Mungkin karena ia diambil dari 3 buku doa, termasuk Mafatih al-Jinan—yang ia sendiri sudah tebal. Apalagi juga ada terjemahan bahasa Inggris plus transliterasi, tapi hurufnya kecil-kecil. Di dalamnya banyak doa panjang-panjang, termasuk yang dianjurkan dibaca waktu shalat-shalat sunnah. Ada shalat sunnah sekian rakaat, setiap rakaat membaca "qulhu" 100 kali, kadang al-Zalzalah 10 kali, dan tak jarang juga surat-surat panjang al-Qur'an, dan lain-lain.

Saya tahu bahwa doa dikatakan sebagai "otak atau tulang sumsumm ibadah". Bahwa zikir itu ibadah utama. Tapi, pertanyaannya, kalau semua dibaca dan dilakukan setiap hari, kita pasti tak bisa mengerjakan apa-apa lagi hari itu karena lamanya waktu yang diperlukan untuk itu. Bahkan kalau kita keluarkan doa-doa yang dibaca hanya di kesempatan-kesempatan khusus. Di kalangan Sunni, meski tidak sebanyak itu, tak kurang-kurang doa yang dianjurkan dibaca setiap hari. Doa yang dianjurkan dibaca di pagi hari, misalnya, bisa membutuhkan beberapa jam untuk menyelesaikannya. Belum doa siang, malam, dsb. Maka, saya bertanya-tanya: Apakah doa-doa ini sebetulnya awalnya dirancang dan dianjurkan dibaca di masa lampau, ketika problem-ptoblem dan kesibukan umat manusia yang menyertainya belum sebesar sekarang?

Di zaman sekarang kita setiap hari harus menyelesaikan banyak masalah, termasuk membantu orang susah—yang jumlahnya makin lama makin banyak. Maka, apakah di masa sekarang lebih baik kita cukup memilih yang esensial dan proporsional dari begitu banyak doa tersebut? Apalagi untuk orang miskin, yang hidupnya susah, dan pekerjaannya berat. Misal jualan makanan yang mengharuskannya masak sejak pukul 3 pagi. Lalu, "ngider" mengukur jalan seharian? Tukang dawet, tukang ketoprak, dll? Lain halnya dengan orang-orang berada, termasuk para ustad, yang nafkahnya cukup dan tak perlu bekerja seberat itu dan punya banyak waktu senggang? Dulu orang-orang susah pernah  "protes" kepada Rasul, jika sedekah begitu besar pahalanya, maka bagaimana dengan mereka yang tak punya harta dengan bersedekah? Bisa diganti berdoa, bertasbih, dan lain-lain, mungkin. Tapi kalau doa begitu panjang-panjang, mereka pun tak punya waktu karena kesusah-payahan pekerjaan dan kesibukan mereka? Sekali lagi, setidaknya di masa sekarang.

Baca Juga:  Qira’ah Mubadalah: Tarekat Cinta, yang Membuat Laki-laki dan Perempuan Bahagia Seutuhnya

Benarkah berdoa banyak-banyak itu afdhal bagi semua orang di semua zaman? (bersambung, dengan ayat dan hadis-hadis tentang amal-amal yang lebih baik daripada shalat/berzikir (sunnah) dalam makna berdoa)

Previous Article

<strong>DOA-DOA DI KALANGAN THARIQAH 'ALAWIYAH (2)</strong>

Next Article

<strong>Mahasiswa Prodi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Walisongo Semarang Menyelenggarakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Nuralwala</strong>

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *