Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Rasionalitas Mistik, Relung Khudi Insan, dan Gerak Sentripetal

Makrifat Salat Menurut Syekh Muhammad Nawawī al-Jāwī (Bagian 2)

Salat adalah ibadah yang pertama kali diwajibkan oleh Allah kepada umat Islam. Ia merupakan rukun Islam nomor dua setelah syahadat, bahkan menjadi tiangnya agama (‘imād ad-dīn). Oleh karena itu, tidak ada uzur bagi setiap muslim untuk meninggalkan salat selama masih mempunyai akal. Allah mewajibkan salat kepada umat Islam (melalui Nabi Muhammad saw.) pada malam Isra Mikraj sebanyak lima kali dalam sehari semalam, yaitu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Menurut Nabi Nuhammad saw., semua ibadah fardu diwajibkan di bumi, kecuali salat. Ia diwajibkan di atas langit di mana waktu itu Nabi Muhammad saw. berada di hadirat Allah secara langsung (Muhammad Nawawī al-Jāwī, Sullam al-Munājāh, hlm. 19, Kāsyifah as-Sajā, hlm. 5, Nūr aẓ-Ẓalām, hlm. 42, dan Tanqīḥ al-Qawl al-Ḥaśīś fī Syarḥ Lubāb al-Ḥadīś, hlm. 4).

Pada mulanya, kelima salat tersebut belum menjadi satu kesatuan ibadah yang harus dilaksanakan secara bergilir dalam sehari semalam. Dalam hal ini, salat Subuh dilaksanakan oleh Nabi Adam as. Salat Zuhur dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim as. (ada yang mengatakan dilaksanakan oleh Nabi Daud as.). Salat Asar dilaksanakan oleh Nabi Yunus as. (ada yang mengatakan dilaksanakan oleh Nabi Sulaiman as. atau Nabi ‘Uzayr as.). Salat Magrib dilaksanakan oleh Nabi Isa as. (ada yang mengatakan dilaksanakan oleh Nabi Daud as. atau Nabi Yakub as.). Salat Isya dilaksanakan oleh Nabi Musa as. (ada yang mengatakan dilaksanakan oleh Nabi Yunus as. atau Nabi Muhammad saw.). Allah kemudian menyatukan kelima salat tersebut sebagai anugerah yang sangat istimewa kepada Nabi Muhammad saw. beserta seluruh umatnya (Sullam al-Munājāh, hlm. 12 dan aś-Śimār al-Yāni‘ah fī ar-Riyāḍ al-Badī‘ah, hlm. 29).

Selain itu, Allah mengkhususkan Subuh di waktu pagi (waktu antara terbit fajar dan menjelang terbit matahari) sebanyak dua rakaat; Zuhur di waktu tengah hari (setelah matahari tergelincir sampai menjelang petang) sebanyak empat rakaat; Asar di waktu petang (antara sehabis waktu Zuhur dan terbenam matahari) sebanyak empat rakaat; Magrib di waktu matahari terbenam (menjelang matahari terbenam sampai lenyapnya sinar merah di ufuk barat) sebanyak tiga rakaat; dan salat Isya di waktu malam (setelah lenyapnya sinar merah di ufuk barat sampai menjelang terbit fajar) sebanyak empat rakaat (Sullam al-Munājāh, hlm. 12). Mengapa Allah mengkhususkan kelima salat tersebut dengan waktu dan rakaat masing-masing? Jawabannya adalah untuk mengistimewakan para nabi yang melaksanakan kelima salat tersebut.

Baca Juga:  Mengejar Kebahagiaan: Belajar dari Film The Pursuit of Happyness

Pertama, orang yang pertama kali melaksanakan salat Subuh adalah Nabi Adam as. Dalam hal ini, ketika beliau diturunkan dari surga ke bumi, maka beliau menjumpai bumi dalam keadaan gelap gulita sehingga beliau sangat ketakutan. Ketika fajar menyingsing, maka beliau melaksanakan salat dua rakaat. Satu rakaat pertama sebagai syukur atas keselamatannya dari kegelapan. Satu rakaat kedua sebagai syukur atas kembalinya cahaya siang. Kedua, orang yang pertama kali melaksanakan salat Zuhur adalah Nabi Ibrahim as. Dalam hal ini, ketika Nabi Ibrahim as. melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih putranya, Ismail, sebagai kurban, maka Allah kemudian menggantinya dengan seekor domba besar berwarna putih. Lalu, beliau menyembelih domba tersebut sebagai tebusan atas Ismail. Peristiwa ini terjadi pada waktu tergelincirnya matahari. Setelah itu, Nabi Ibrahim as. melaksanakan salat empat rakaat. Rakaat pertama sebagai syukur atas tebusan pengganti Ismail yang diberikan kepadanya berupa seekor domba. Rakaat kedua sebagai syukur atas hilangnya rasa sedih mengenai anaknya. Sebab, beliau tidak kehilangan buah hatinya karena tidak jadi menyembelih Ismail. Rakaat ketiga ditujukan untuk memohon rida Allah bagi dirinya sendiri. Rakaat keempat sebagai syukur karena memperoleh nikmat berupa domba milik Habil (putra Nabi Adam as.) yang diturunkan dari surga (hlm. 12).

Ketiga, orang yang pertama kali melaksanakan salat Asar adalah Nabi Yunus as. ketika beliau dikeluarkan dari dalam perut paus. Pada waktu itu, beliau seperti anak burung yang masih belum memiliki bulu. Dalam hal ini, beliau mengalami empat kegelapan, yaitu kegelapan di dalam kesendirian (kesunyian), kegelapan di dalam perut paus, kegelapan di dalam air, dan kegelapan malam. Oleh karena itu, ketika Allah mengeluarkannya dari perut paus pada waktu Asar, maka beliau melaksanakan salat empat rakaat sebagai syukur kepada Allah atas keselamatannya dari empat kegelapan tersebut. Keempat, orang yang pertama kali melaksanakan salat Magrib adalah Nabi Isa as. ketika meninggalkan kaumnya di waktu terbenamnya matahari. Dalam hal ini, beliau melaksanakan salat tiga rakaat. Rakaat pertama ditujukan untuk mengingkari ketuhanan kepada selain Allah. Rakaat kedua ditujukan untuk mengingkari fitnah dan tuduhan palsu yang dilakukan oleh kaumnya kepada ibunya, Maryam. Rakaat ketiga ditujukan untuk menetapkan bahwa pengaruh dan ketuhanan hanya milik Allah semata. Maka dari itu, rakaat pertama dan kedua disatukan, sedangkan rakaat ketiga disendirikan (hlm. 12).

Baca Juga:  Kenapa Pengetahuan tentang Tuhan Disebut Iman (Kepercayaan)?

Kelima, orang yang pertama kali melaksanakan salat Isya adalah Nabi Musa as. ketika beliau tersesat di jalan sewaktu meninggalkan kota Madyan. Dalam hal ini, beliau sedang dirundung empat kesedihan, yaitu kesedihan karena berpisah dengan istrinya, saudaranya (Nabi Harun as.), dan anak-anaknya serta kesedihan atas kekuasaan dan dominasi Fir’aun. Allah kemudian membebaskan Nabi Musa as. dari cengkeraman empat kesedihan tersebut bertepatan dengan waktu Isya. Oleh karena itu, beliau melaksanakan salat sebanyak empat rakaat sebagai syukur kepada Allah atas hilangnya keempat kesedihan tersebut (hlm. 12).

Makrifat Rahasia Jumlah Rakaat Salat

Syekh Nawawī menyebutkan bahwa jumlah rakaat salat fardu memiliki hikmah luar biasa yang berkaitan erat dengan keberlangsungan hidup manusia, yaitu untuk mensyukuri nikmat pancaindra yang lima (penglihat, penghidu/pencium, pengecap/perasa lidah, perasa tubuh, dan pendengar) sekaligus untuk menghilangkan dosa-dosa yang dilakukannya. Dalam hal ini, dua rakat salat Subuh untuk mensyukuri nikmat indra peraba (perasa tubuh) yang bisa merasakan kelembutan dan kekasaran sekaligus untuk menghilangkan dosa-dosa yang dilakukannya. Empat rakaat salat Zuhur untuk mensyukuri nikmat indra penghidu yang bisa menghidu bau dari empat arah (selatan, utara, timur, dan barat) sekaligus untuk menghilangkan dosa-dosa yang dilakukannya (Sullam al-Munājāh, hlm. 18).

Empat rakaat salat Asar untuk mensyukuri nikmat indra pendengar yang bisa mendengar bunyi dari empat arah sekaligus untuk menghilangkan dosa-dosa yang dilakukannya. Tiga rakaat salat Magrib untuk mensyukuri nikmat indra penglihat yang bisa melihat dari tiga arah (yaitu depan, samping kanan, dan samping kiri) sekaligus untuk menghilangkan dosa-dosa yang dilakukannya. Empat rakaat salat Isya untuk mensyukuri nikmat indra perasa lidah yang bisa merasakan panas, dingin, pahit, dan manis sekaligus untuk menghilangkan dosa-dosa yang dilakukannya (hlm. 18-19).

Baca Juga:  Filsafat Ilmu: Asal Mula Pengetahuan Manusia

Makrifat Rahasia Gerakan-Gerakan dalam Salat

Gerakan-gerakan dalam salat memiliki makna yang dalam, yang jika dihayati akan menambah kekhusyukan dalam salat. Dalam hal ini, Syekh Nawawī menyebutkan makna-makna yang terkandung dalam beberapa gerakan salat. Pertama, mengangkat tangan ketika takbir memiliki makna bahwa seorang hamba sedang tenggelam di dalam lautan kesalahan dan dosa. Oleh karena itu, dia mengangkat tangannya seakan-akan berkata, “Wahai Tuhanku, raihlah tanganku. Sesungguhnya aku sedang tenggelam dalam lautan kesalahan dan dosa; orang yang pernah lari dari-Mu dan akhirnya kembali lagi kepada-Mu.” (Tanqīḥ al-Qawl al-Ḥaśīś fī Syarḥ Lubāb al-Ḥadīś, hlm. 4)

Kedua, bacaan dalam salat memiliki makna comelan seorang hamba kepada Tuhannya. Ketiga, rukuk memiliki makna bahwa seorang hamba seakan-akan berkata, “Aku adalah hamba-Mu, dan aku mengulurkan kedua tanganku kepada-Mu.” Keempat, bangun dari rukuk (iktidal) dengan ucapan rabbanā laka al-ḥamdu memiliki makna bahwa seorang hamba memohon pembebasan dari dosa-dosa. Dalam hal ini, Allah seakan-akan berfirman kepadanya, “Engkau telah berbuat dosa.” Maka, si hamba pun berkata, “Aku adalah hamba-Mu.” Lalu, Allah menjawab, “Sungguh Aku telah membebaskanmu dari dosa-dosa.” (hlm. 4)

Kelima, sujud yang pertama dan meletakkan dahi ke tanah memiliki makna bahwa seorang hamba seakan-akan berkata, “Engkau menciptakanku dari tanah.” Keenam, bangun dari sujud yang pertama memiliki makna bahwa seorang hamba seakan-akan berkata, “Engkau telah mengeluarkanku dari tanah.” Ketujuh, sujud yang kedua memiliki makna bahwa seorang hamba seakan-akan berkata, “Engkau akan mengembalikanku ke dalam tanah.” Kedelapan, bangun dari sujud yang kedua memiliki makna bahwa seorang hamba seakan-akan berkata, “Engkau akan mengelurakanku dari tanah pada suatu waktu yang lain.” Kesembilan, salam (untuk mengakhiri salat) memiliki makna bahwa seorang hamba seakan-akan berdoa, “Ya Allah, semoga Engkau memberikan catatan amalku dari tangan kanan, dan janganlah Engkau memberikan catatan amalku dari tangan kiri.” (hlm. 4) Wallāhu A‘lam wa A‘lā wa Aḥkam...

Previous Article

Makrifat Salat Menurut Syekh Muhammad Nawawī al-Jāwī (Bagian 1)

Next Article

Lapar dan Berpikir Rasional: Bagaimana Kekosongan Perut Menginspirasi Pemikiran Mendalam

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *