ARTIKEL

Ketika Tasawuf Menjadi Jalan Menemukan Diri

Agustus 26, 2026
4 menit membaca
  • Judul buku: Memangkas Jarak, Memungkas Rindu : Unboxing Self Leadership dalam Anekdot Sufistik Nasrudin Khoja
  • Penulis:Arief Eko Prasetyo (Cak Aep)
  • Penerbit:Yayasan Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf
  • KotaTerbit: Depok
  • TahunTerbit: Juni 2026
  • TebalBuku: 159 Halaman
  • ISBN:978-634-96597-4-1

 

Pernahkah kita merasa hidup semakin mudah, tetapi justru semakin gelisah? Teknologi mempercepat hampir seluruh aktivitas manusia, namun tidak selalu menghadirkan ketenangan batin. Di tengah kehidupan yang serba cepat, banyak orang mengalami kehilangan arah, merasa hampa, dan sulit menemukan makna di balik rutinitas yang dijalani. Fenomena inilah yang menjadi titik berangkat buku Memangkas Jarak, Memungkas Rindu: Unboxing Self Leadership dalam Anekdot Sufistik Nasrudin Khoja karya Arief Eko Prasetyo atau yang akrab disapa Cak Aep.

Beliau dikenal sebagai penulis yang memiliki perhatian terhadap kajian tasawuf dan pengembangan diri. Melalui buku setebal 159 halaman. yang diterbitkan oleh Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf, Cak Aep menawarkan tasawuf sebagai salah satu cara untuk menjawab problem manusia modern. Menariknya, gagasan-gagasan tasawuf tidak disajikan dalam bahasa yang berat dan teoritis, melainkan melalui anekdot-anekdot Nasrudin Khoja yang ringan, lucu, tetapi sarat makna.

Salah satu gagasan utama yang dibangun penulis adalah pentingnya tasawuf dalam menghadapi berbagai persoalan manusia modern. Menurutnya, modernisasi memang membawa banyak kemudahan dan kemajuan. Namun, di balik itu semua muncul berbagai persoalan baru, seperti materialisme, kehilangan orientasi hidup, dan krisis spiritual. Manusia semakin sibuk mengejar berbagai pencapaian duniawi, tetapi sering kali melupakan kebutuhan batin dan relasinya dengan Tuhan. Karena itu, tasawuf dipandang sebagai jalan untuk mengembalikan manusia pada hakikat dirinya sekaligus membangun kehidupan yang lebih bermakna.

Untuk memperkuat argumentasinya, Cak Aep mengutip pandangan Murtadha Muthahhari mengenai krisis kepemimpinan diri manusia. Menurut Muthahhari, ketergantungan yang berlebihan terhadap materi dapat membuat manusia kehilangan jati dirinya dan melupakan nilai-nilai kemanusiaan (hal 18). Akibatnya, manusia tidak lagi bergerak menuju kesempurnaan dirinya sebagai makhluk yang memiliki dimensi jasmani dan ruhani. Dalam konteks inilah tasawuf menjadi penting karena membantu manusia menyempurnakan akhlak serta mengembangkan potensi kemanusiaannya.

Pembahasan mengenai kepemimpinan diri (self leadership) menjadi bagian yang menarik dalam buku ini. Bagi penulis, kepemimpinan diri bukan sekadar kemampuan mengatur perilaku atau mencapai tujuan hidup, tetapi juga kemampuan memahami diri sendiri dan mengendalikan ego. Tasawuf diposisikan sebagai sarana untuk membantu manusia mengenali dirinya secara lebih mendalam sehingga mampu menjalani kehidupan dengan lebih sadar dan bertanggung jawab (hal 19).

Keunikan buku ini terletak pada penggunaan anekdot-anekdot Nasrudin Khoja sebagai media penyampaian nilai-nilai tasawuf. Penulis menjelaskan bahwa kisah-kisah Nasrudin tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana refleksi. Tokoh Nasrudin digambarkan sebagai sosok yang melalui kelucuan dan tindakannya mampu menyadarkan manusia akan berbagai kebodohan dan kelemahan dirinya. Dengan cara tersebut, pembaca diajak melihat realitas kehidupan dari sudut pandang yang berbeda dan lebih bijaksana. Bahkan penulis mengutip pandangan bahwa Nasrudin “memukul dirinya sendiri untuk memukul Anda”, sebuah sindiran halus terhadap berbagai kelemahan manusia (hal 31- 36).

Selain itu, buku ini juga membahas aspek epistemologi tasawuf. Penulis menjelaskan bahwa dalam tradisi tasawuf terdapat tiga sumber pengetahuan, yaitu wahyu (bayani), akal (burhani), dan intuisi (‘irfani). Ketiganya saling melengkapi dalam proses pencarian kebenaran dan pemahaman terhadap realitas (hal 37). Meskipun pembahasan ini cukup filosofis, bagian tersebut menunjukkan keseriusan penulis dalam meletakkan dasar pemikiran tasawuf yang digunakan dalam buku ini.

Dari segi penyajian, bahasa yang digunakan Cak Aep relatif komunikatif sehingga dapat diikuti oleh pembaca umum. Sistematika buku juga disusun secara bertahap, mulai dari pembahasan problem manusia modern, urgensi tasawuf, konsep kepemimpinan diri, hingga peran anekdot sufistik dalam membangun kesadaran diri. Meski demikian, beberapa bagian yang membahas filsafat dan epistemologi tasawuf terasa cukup padat sehingga memerlukan perhatian lebih dari pembaca yang belum akrab dengan tema-tema tersebut.

Secara keseluruhan, Memangkas Jarak, Memungkas Rindu merupakan buku yang relevan bagi masyarakat modern yang sedang mencari makna hidup di tengah berbagai tuntutan zaman. Melalui perpaduan antara tasawuf, konsep self leadership, dan anekdot sufistik Nasrudin Khoja, Cak Aep berhasil menghadirkan bacaan yang tidak hanya mengajak pembaca berpikir, tetapi juga merenungkan kembali hubungan dirinya dengan Tuhan, sesama manusia, dan kehidupannya sendiri.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan