Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  CARA MELEMBUTKAN HATI

Bagaimana Doa di Saat-Saat Tertentu Bisa Mengubah Takdir?

Saya menduga saja, malam Nishfu Sya’ban, juga bulan Sya’ban, Malam Laylatul Qadar dan bulan Ramadhan, juga Hari ‘Arafah, dan hari-hari lain yang doa-doa dipanjatkan di dalamnya itu maqbul, adalah semacam musim spiritual, sebagaimana di dunia ini juga ada musim-musim material.

Sesungguhnya, semua yang di dunia ini adalah cermin yang ada di alam spiritual. Tak ada apa pun—sesuatu ciptaan atau peristiwa di dunia ini, atau di lapisan alam yang lebih rendah, yang tak ada asalnya di alam yang lebih tinggi.

Tajalliy, sebagai manifestasi (penampakan/pelahiran) apa-apa yang tadinya tersembunyi (batin), itu tak lain adalah perincian (tafshil) dari yang global (ijmal). Dari yang paling pejal tak berongga (mushmat atau shamad), yang simpel (basith) dan tak terbagi, sampai yang paling terurai. Dari yang terikat waktu dahr (perpetual), hingga yang disimpan dalam waktu zaman (linier). Demikianlah halnya dengan takdir: Ketetapan, yang berasal dari qadha permanen yang terurai di waktu dahr, yang hanya bisa diubah dengan doa—selain dengan sedekah, atau perbuatan welas asih kepada sesama.

Maka, malam Nishfu Sya’ban—seperti juga saat-saat lain yang di dalamnya kita berdoa dengan harapan Allah mengubah takdir kita yang buruk—tampaknya adalah semacam titik-titik, untuk tak menyebut waktu-waktu non linier, yang di dalamnya terletak asal dari semua yang terjadi di dunia ini, termasuk yang terjadi kepada kita.

Doa-doa kita adalah cara kita mencoba menggerakkan (asal) segala kejadian di alam amr (spiritual) agar berubah apa-apa (cerminannya) yang ada di alam khalq (material) ini. Mudah-mudahan doa kita semua di malam Nishfu Sya’ban ini diijabah oleh Allah Swt.[]

Baca Juga:  Rindu Kanjeng Nabi
Previous Article

REFLECTION OF A LIFE TIME

Next Article

Tanggapan atas Pertanyaan Artikel Akhirat Bukanlah “Kelak”, tapi Selalu Sekarang

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *