Ali Syariati: Manusia antara Kesadaran dan Kebebasan (Bagian 2)

Manusia senantiasa berkembang dan berubah sesuai dengan keinginannya. Hanya manusia yang mampu membuat peristiwa, mengejar impian atau melakukan nilai, karena manusia diberikan kemerdekaan atas dirinya sendiri. Kenyataan ini sekaligus menunjukkan bahwa sejarah tidak boleh dipahami atau ditafsirkan sebagai perubahan semata-mata,  melainkan harus dilihat dari sesuatu yang substansial. Masalah manusia adalah masalah paling penting dari segala masalah. Peradaban dewasa ini telah mendasarkan fondasi agamanya pada humanisme. Akar-akar yang berasal dari Athena sebagai reaksi keras terhadap filsafat skolastik dan agama pada abad pertengahan. Menurut Ali Syariati proses penciptaan Adam memiliki sifat “Humanisme” yang mendalam. Penciptaan Adam yang merupakan simbol manusia dalam kitab-kitab suci Islam, di mana Islam merupakan kulminasi dan perfeksi, diceritakan dalam bahasa simbolik.

Pada awalnya, Tuhan memberitahu para malaikat bahwa, Dia ingin menciptakan wakil-Nya di atas bumi. Betapa mulia nilai manusia sebagai pengganti-Nya di atas bumi, Tuhan menganugerahkan status spiritual tertinggi bagi manusia dan dengan demikian mempercayakan padanya misi suci di alam raya ini (Ali Syariati, Tugas Cendekiawan Muslim, 4-6). Manusia mengemban misi suci untuk mewakili Tuhan dan mencerminkan kualitas-kualitas-Nya di atas bumi. Ada sifat pencipta yaitu, Dialah yang menciptakan segala sesuatu di atas bumi. Ada sifat berkehendak yaitu, dunia bergerak dan dibimbing melalui keinginan-Nya. Sifat yang lain ialah sifat yang mengatur eksistensi dan yang memiliki pandangan dan kesadaran absolut ke seluruh alam (Ali Syariati, Agama Versus “Agama”, Terj Afif Muhammad, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), 29).

Sifat kesucian khas yang dikaruniakan kepada manusia membuat malaikat bertanya, “Apakah Tuhan akan menciptakan makhluk yang akan menumpahkan darah, berbuat kejahatan, menebarkan kebencian dan balas dendam?” Kemudian Tuhan menjawab, “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Mulailah manusia diciptakan sebagai wakil dan khalifah-Nya, dari tanah atau lumpur (bentuk yang paling rendah) dan Roh-Nya (bentuk yang paling mulia). Lumpur dalam bahasa manusia merupakan simbol kerendahan, kenistaan dan kekotoran. Sedang Tuhan dalam bahasa manusia adalah simbol kesempurnaan dan kesucian. Sebagai gabungan dari lumpur dan Roh suci, manusia telah diciptakan menjadi makhluk dua dimensional, dengan dua arah dan kecenderungan. Pertama, menuju ke arah stagnasi, ke dasar hakekatnya yang rendah di mana seluruh dorongan dan gerak kehidupannya akan membeku, terbenam pada hakikatnya yang hina. Kedua, dimensi manusia yang lain yaitu dimensi spiritualnya, cenderung naik ke puncak spiritual tertinggi (Zat yang Maha Suci).

Manusia adalah makhluk dua unsur yang kontradiktif, dengan dua kutub saling
berseberangan yang dimilikinya. Pada hakikatnya dua kutub itu memungkinkan manusia untuk memiliki kebebasan memilih antara dua pilihan yaitu, kutub kehinaan dan kutub kesucian, yang keduanya ada pada dirinya. Perjuangan dan peperangan terus-menerus yang dilakukan oleh kedua kutub itu dalam diri manusia akhirnya akan memaksa manusia untuk memilih salah satu kutub tersebut yang akan menentukan nasibnya. Setelah terciptanya manusia, Allah kemudian mengajarkan nama-nama kepadanya. Setiap orang atau penafsir dapat mengutarakan pendapatnya masing-masing tentang hal tersebut.

Terlepas dari mana tafsir itu berasal, Islam sangat menjunjung tinggi intelektualitas. Allah kemudian menyuruh para malaikat untuk “sujud” kepada manusia. Bentuk humanisme yang sangat mendalam, di mana Islam tidak membeda-bedakan makhluk Tuhan berdasarkan dari rasnya, melainkan dari tingkat intelektual dan kemampuan berpikir (iradah) yang telah dikaruniakan (Ali Syariati, Manusia dan Islam Sebuah Kajian Sosiologi, 95).

Allah menyatakan bahwa manusia dapat menjadi makhluk termulia di antara makhluk-makhluk lain. Suatu hal menarik bahwa hanya manusia yang mau menerima untuk menjadi pemegang dan pengemban amanah Tuhan. Maka, jelaslah bahwa manusia memiliki keistimewaan dan keunggulan lain yang menjadikannya makhluk superior. Demikianlah, manusia bukan hanya sekedar khalifah Tuhan di bumi, melainkan juga amanat-Nya. Menurut Maulana Jalaluddin Rumi, amanat ini memiliki kehendak bebas (free will) manusia. Sebagai makhluk dua-dimensional, yang dikaruniai misi suci yang agung agar dilaksanakannya di bumi. Manusia membutuhkan agama yang dapat memelihara antara kutub keakhiratan dan kutub keduniaan. Disinilah keunggulan Islam, bahwa manusia dalam Islam tidak dipandang tanpa daya dihadapan Tuhan, dan manusia membutuhkan agama untuk menjaga keseimbangan dua-dimensinya.

Manusia Zero menuju Hero

Manusia dalam keadaannya menjadi atau proses manusia berusaha menjadi memiliki tiga sifat yang saling berkaitan: kesadaran diri, kemauan bebas dan kreativitas. Bila manusia mempunyai sifat-sifat yang lain, maka itu hanya derivasi atau sifat turunan dari tiga kualitas pokok di atas. Ketiga prinsip haruslah saling melengkapi dalam suatu cara yang terpadu.

Pertama adalah kesadaran diri. Descartes dalam suatu formula aku berpikir maka aku ada (cogito ergo sum) mendasarkan prinsip kesadaran yang pasti pada diri manusia yang berpikir. Pada suatu fakta bahwasanya manusia meragukan segalanya dan kemudian membuktikan eksistensi dirinya dengan mengatakan bahwa ia tidak dapat meragukan fakta yang sedang dia sangsikan. Inilah hal yang tidak dapat dipisahkan dariku, aku ada, ini sudah barang tentu selama aku berpikir.

Sementara Albert Camus mendasarkanya kesadaran itu pada suatu bentuk yang lebih disengaja dan sadar “saya memberontak maka saya ada”. Inilah formula-formula dalam proses menjadi, akan tetapi formula terakhir yang memperlihatkan proses menjadi yang sangat dramatis. Selama manusia hidup tanpa salah, ia justru tidak manusiawi. Hanya dengan memberontak kita menjadi manusia. Ketika ia mengetahui bahwa ditakdirkan tanpa salah dan tidak produktif di surga, maka ia memberontak dengan memakan buah yang dilarang. Buah ini bisa disebut sebagai buahnya pengetahuan, buahnya pemberontakan dan buahnya kesadaran. Demikianlah ia diusir dari surga dan diturunkan di muka bumi ini.

Manusia bukanlah makhluk yang terasing di dunianya, ia ada bersama dengan makhluk-makhluk yang lain dan tidak tertutup pada lingkunganya, akan tetapi hanya manusia yang mampu memiliki eksistensi dibandingkan dengan makhluk bernyawa lainya. Keberadaan manusia di muka bumi menuntut manusia untuk menyendiri, mengasingkan diri sebagaimana konsep Sartre delaissement. Manusia akan menjadi sadar bahwa ia berbeda dengan makhluk lain karena dikaruniai kebebasan untuk memilih.

Kedua adalah kemauan bebas. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki kebebsan untuk memilih, bahkan manusia mampu untuk melawan instinknya sendiri, dengan alam, dengan masyarakat atau juga bertentangan dengan dorongan fisik dan psikologisnya. Kemampuan iradahnya atau kebebasannya dalam memilih itulah yang membantu manusia untuk mencapai taraf tertinggi dari proses menjadi manusia. Kemampuan iradahnya mampu untuk menakhlukan gerak keinginan biologisnya yang bersifat defensif. Kebebasan untuk tidak memilih kehidupan yang tenang, kesenangan, kemakmuran dan kemudahan justru sebaliknya mampu untuk memilih kehidupan membangkang dan memberontak, kehidupan disiplin baja yang melawan keinginan-keinginan tubuhnya (Ali Syariati, Tugas Cendekiawan Muslim, 72-73).

Ketiga adalah kreativitas. Kreativitas manusia atau daya ciptanya yang mampu menciptakan apa saja dalam berbagai bentuk dan berbeda ukuran. Kreativitasnya yang terwujud dalam eksistensi kreatifnya di dalam alam, sebagai suatu makhluk yang khas di muka bumi. Manusia lebih dari sekedar makhluk pembuat, ia juga sebagai makhluk pencipta karena manusia sadar bahwa tidak semua keingininanya disediakan oleh alam. Sepanjang manusia tetap tinggal pada eksistensinya dan bergerak maju, maka alam mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhanya.

Manusia dikatakan bereksistensi atau berada di dunia ketika ia mampu keluar dalam dirinya sendiri dan berdiri untuk mengambil bagian dalam dunia. Dunia yang ada pada dirinya sendiri tidak dapat mewujudkan satu dunia, manusia pun kadang-kadang tidak dapat menyatu dengan dunia. Hal ini terjadi bila manusia dan dunia terseret keluar dalam dirinya, tenggelam dan didominasi oleh dunia. Manusia terseret dan tidak bereksistensi secara sungguh-sungguh, ia tidak keluar dalam dirinya sendiri dan menempatkan diri berhadapan dengan yang lain dalam dunia (Sindung Tjahyadi, “Manusia dan Historisnya Menurut Martin Heidegger”, dalam Journal Filsafat, Vol. 18, No. 1, (April 2008), 51). Kecerdasan kreativitas manusia ditambah kemampuan iradahnya menuntun manusia untuk menakhlukan alam selangkah demi selangkah, ia membangun suatu sistem industrial yang praktis.

Akhirnya, manusia dengan tiga sifat; kesadaran, kemauan bebas, kreativitas merupakan sifat-sifat dari Tuhan. Akan tetapi hanya manusia “taraf insan” sajalah yang hanya dapat menyesuaikan dengan sifat-sifat Tuhan serta menjadi wakil-Nya di bumi.

1 Shares: