Problem terbesar saya barangkali adalah keinginan untuk selalu menyelesaikan masalah—atau, dengan kata lain, mencapai tujuan akhir—secepat-cepatnya. Saya kurang mindful. Saya tidak punya cukup kesabaran untuk berdiam di dalam proses. Dalam hal-hal yang memerlukan ketelatenan, saya biasanya bukan ahlinya.
Kalau pekerjaan saya berhasil, besar kemungkinan ada orang-orang baik dan sabar yang membantu saya. Sebab, untuk urusan yang menuntut ketekunan, saya sering gagal. Belajar piano, misalnya. Begitu pula belajar tai chi dan latihan-latihan sejenisnya. Bahkan membaca buku pun demikian.
Saya memang banyak membaca buku, khususnya buku-buku pemikiran atau nonfiksi. Namun kemampuan membaca cepat dan menangkap isi buku justru kerap menutup ruang bagi ketelatenan. Banyak buku saya lahap isinya tanpa sungguh-sungguh membacanya dari sampul ke sampul. Saya ingin segera sampai pada pokoknya, pada inti yang bisa saya bawa pulang. Saya juga orang yang intuitif; sering merasa telah menangkap keseluruhan sebelum menelusuri bagian-bagiannya dengan saksama.
Selama ini, kebiasaan itu mungkin terasa berguna. Dalam pekerjaan, kemampuan menangkap inti dengan cepat bisa membantu saya mengambil keputusan dan bergerak maju. Tetapi mungkin ada harga yang harus dibayar: saya kurang terlatih untuk tinggal dalam sesuatu yang belum selesai, belum terang, atau belum segera memberi hasil. Dan jebakan terbesar dari sikap kurang mindful ini barangkali bukan terletak pada prestasi kerja, melainkan pada kehidupan itu sendiri.
Kini, ketika usia saya menghampiri tujuh puluh tahun, dan—segala puji bagi Allah—saya merasa telah mencapai banyak hal yang dahulu ingin saya capai, muncul suatu kebosanan. Tujuan-tujuan konkret yang dulu memberi arah dan tenaga tak lagi selalu tampak jelas di depan mata. Ketika tujuan yang bisa dikejar semakin sedikit, barangkali yang perlu dipelajari justru sesuatu yang selama ini kurang saya kuasai: menikmati proses.
Selama ini saya seperti menganggap hidup sebagai perjalanan menuju garis akhir. Yang penting sampai; yang penting selesai; yang penting hasilnya terlihat. Padahal, sebagian besar kehidupan justru berlangsung di tengah perjalanan itu. Jika kita hanya menunggu sampai, jangan-jangan kita melewatkan hidup yang sedang berlangsung.
Barangkali daya-daya yang dahulu mendorong saya mengejar prestasi—termasuk adrenalin—juga tidak lagi sekuat dulu. Saya tak tahu apakah penjelasan itu tepat. Yang saya rasakan, ketika kesibukan berhenti dan tujuan konkret tak lagi menyita perhatian, kebosanan lebih mudah muncul. Suasana hati pun kadang naik turun, terutama pada malam hari, ketika orang-orang berhenti bekerja dan saya tak lagi bisa berlindung di balik kesibukan.
Saya pun merenung. Sebagai orang yang sering mengajarkan tasawuf, jangan-jangan bekal saya untuk bermujahadah justru belum cukup. Sebab mujahadah bukan hanya melawan hawa nafsu yang tampak besar dan jelas. Ia juga bisa berarti melawan dorongan-dorongan kecil yang selama ini dianggap biasa: ingin segera selesai, lekas berpindah ke hal berikutnya, tak tahan menunggu, tak sabar mengulangi sesuatu sampai sungguh-sungguh dikuasai.
Mungkin termasuk hawa nafsu untuk buru-buru—untuk tidak menjadi manusia yang disebut Al-Qur’an ‘ajūlā, manusia yang tergesa-gesa: “Manusia memang bersifat tergesa-gesa.” (QS Al-Isrā’ [17]: 11)
Jangan-jangan wirid pun kadang tidak saya lakukan dengan cukup rajin. Jangan-jangan shalat kadang hanya menjadi cara untuk menggugurkan kewajiban—sesuatu yang ingin segera saya tuntaskan, bukan ruang untuk saya masuki dan tinggali.
Padahal, Nabi saw. bersabda: “Dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat.” (HR al-Nasā’ī, no. 3939).
Bukan setelah shalat selesai, melainkan di dalam shalat itu sendiri. Kebahagiaannya bukan hanya pada sampainya kita ke ujung, tetapi pada kehadiran kita selama menjalaninya.
Maka saya mencari jalan bermujahadah yang barangkali tidak terlalu konvensional: membaca novel. Bukan sembarang novel, melainkan novel yang reflektif. Novel yang daya tariknya bukan terutama terletak pada serunya peristiwa yang bergerak cepat, melainkan pada ketelatenan pengarang menggarap detail demi detail; pada cara sebuah watak tumbuh perlahan; pada percakapan, suasana, dan gerak batin yang tidak selalu segera menjelaskan dirinya. Contohnya, saat ini saya sedang membaca (lagi) Max Havelaar karya Multatuli (Douwes Dekker), setelah sebelumnya membaca (lagi) Layla Majnun karya Nizami, Haji Murad karya Tolstoy, dan lain-lain.
Mengapa novel seperti itu? Karena lajunya lambat. Pembaca tak punya pilihan selain mengikutinya satu demi satu: kalimat demi kalimat, halaman demi halaman. Kita perlu bersedia memperhatikan, menunggu, dan kadang mengunyah kembali satu kalimat sampai terasa kehalusan dan kedalamannya. Kita tidak bisa terus-menerus melompat ke depan, hanya untuk mencari tahu apa yang terjadi berikutnya. Ada pengalaman yang justru hilang jika kita terburu-buru ingin mengetahui akhirnya.
Membaca dengan cara ini menjadi latihan untuk menahan diri: menahan dorongan untuk segera sampai, segera menyimpulkan, segera menutup buku. Kita belajar menerima bahwa makna tidak selalu hadir sekaligus. Kadang ia tumbuh sedikit demi sedikit, seperti sesuatu yang baru terlihat setelah kita bersabar memperhatikannya.
Mungkin itulah sebabnya membaca novel klasik kini terasa seperti mujahadah bagi saya. Bukan karena membaca novel dengan sendirinya merupakan ibadah, melainkan karena saya dapat menjadikannya latihan untuk melawan ketergesa-gesaan: belajar hadir, belajar sabar, dan belajar menikmati proses tanpa terus-menerus menagih hasil.
Mudah-mudahan saya bisa istikamah. Mudah-mudahan, melalui jalan kecil ini, saya belajar tinggal lebih utuh di dalam apa yang sedang saya jalani—dan menjadi pejalan sufi yang sedikit lebih baik.