Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatra. Bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan, kondisi ini bukan sekadar mengurangi jarak pandang, tetapi juga meningkatkan risiko kesehatan akibat paparan udara yang tercemar partikulat.
Ketika membicarakan dampak kabut asap terhadap kesehatan, perhatian kita umumnya tertuju pada paru-paru. Batuk, sesak napas, iritasi saluran pernapasan, hingga memburuknya penyakit pernapasan menjadi sejumlah risiko yang perlu diwaspadai. Namun, di balik berbagai ancaman tersebut, ada satu organ tubuh yang kerap luput dari perhatian, padahal menjadi bagian pertama yang bersentuhan langsung dengan udara tercemar: kulit.
Kulit merupakan organ terluas tubuh sekaligus salah satu garis pertahanan pertama manusia. Ia berhadapan langsung dengan lingkungan dan membantu melindungi tubuh dari berbagai pengaruh luar. Karena itu, ketika udara dipenuhi asap dan partikulat, kulit juga tidak sepenuhnya terbebas dari paparan. World Health Organization (2026) bahkan mencatat bahwa polusi partikulat dari asap kebakaran dapat berdampak pada berbagai organ, termasuk kulit.
Penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa polusi udara dapat memengaruhi kesehatan kulit melalui beberapa mekanisme. Partikulat dapat meningkatkan stres oksidatif dan inflamasi serta mengganggu skin barrier, yaitu lapisan pelindung yang membantu mempertahankan kelembapan kulit dan membatasi masuknya berbagai zat dari lingkungan. Kondisi tersebut dapat membuat kulit lebih mudah mengalami kekeringan, iritasi, dan berbagai gangguan inflamasi.
Hal ini menjadi semakin relevan bagi mereka yang memang harus bekerja di luar ruangan. Petani, pedagang, pengemudi, pekerja konstruksi, kurir, hingga petugas lapangan mungkin tidak memiliki pilihan untuk menghindari paparan selama berjam-jam. WHO juga memasukkan pekerja luar ruangan sebagai salah satu kelompok yang dapat mengalami paparan asap lebih tinggi.
Di tengah kondisi tersebut, Islam memiliki prinsip bahwa manusia perlu menjaga dirinya dari bahaya. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat tersebut memiliki konteks pembahasan yang spesifik dalam tafsir dan tidak secara khusus berbicara mengenai polusi udara. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, ayat ini dapat menjadi pengingat bahwa menjaga diri dari risiko yang dapat dihindari merupakan bagian dari ikhtiar.
Maka, ketika kualitas udara sedang buruk, mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila memungkinkan merupakan langkah yang masuk akal. Bagi mereka yang tetap harus bekerja di luar, perlindungan dapat dilakukan secara sederhana: menggunakan pakaian yang menutupi kulit, melindungi kepala dari paparan matahari, dan menggunakan sunscreen pada bagian kulit yang terbuka. Perlindungan terhadap sinar ultraviolet tetap diperlukan meskipun udara sedang berkabut.
Setelah kembali dari luar ruangan, kulit dapat dibersihkan secara lembut. Tidak perlu menggosoknya secara berlebihan dengan anggapan bahwa kulit harus dibersihkan sekuat mungkin. Pembersihan yang terlalu agresif justru dapat mengganggu skin barrier. Pelembap juga dapat digunakan untuk membantu mempertahankan fungsi pelindung kulit, terutama pada kulit yang mudah kering atau sensitif.
Namun, menjaga kesehatan bukan berarti harus mencemaskan setiap perubahan kecil pada kulit. Jika muncul keluhan yang menetap seperti kemerahan, gatal, perih, atau perburukan penyakit kulit yang sudah ada, pemeriksaan kepada dokter dapat menjadi bagian dari ikhtiar.
Kabut asap pada akhirnya akan berlalu ketika kondisi lingkungan kembali membaik. Namun, pengalaman tersebut mengingatkan kita bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan apa yang kita makan atau penyakit yang kita derita. Lingkungan tempat kita hidup juga turut memengaruhi kesehatan tubuh.
Islam mengajarkan manusia untuk berikhtiar sekaligus menyadari keterbatasannya. Menjaga tubuh, menghindari bahaya yang dapat dicegah, dan tidak mengabaikan kesehatan merupakan bentuk tanggung jawab terhadap amanah yang diberikan Allah.
Maka, ketika kabut asap kembali menyelimuti Sumatra, mungkin kita tidak hanya perlu bertanya, “Seberapa buruk udara yang kita hirup?” Kita juga perlu bertanya, “Sudahkah kita menjaga tubuh yang dititipkan Allah kepada kita?”
Sebab kulit bukan sekadar bagian tubuh yang terlihat. Ia adalah salah satu penjaga tubuh kita. Dan menjaga penjaga itu pun merupakan bagian dari menjaga amanah.