Tulisan saya bisa mengalir begitu saja saat saya menulis obituari orang-orang yang saya hormati dan menginspirasi hidup saya. Tapi jari-jari saya seperti beku, dan kepala saya keburu segera penuh, ketika yang harus saya tulis adalah catatan atas wafatnya ibu saya.
Saya tak bisa menyebut diri saya orang yang dramatis dalam bersedih. Tapi, yang wafat kali ini adalah ibu saya. Yang keberadaan saya seluruhnya terpeluk di dalam kehidupannya. Ya, tak ada dari diri saya yang tak berada dalam pelukan hidup ibu saya.
Meski saya tentu yakin bahwa kehidupan ini semuanya bersumber dari Allah Swt, tapi ibu adalah perpanjangan tangan-Nya. Seorang sufi pernah mengungkapkan: “Kasih sayang ibu sekukuh ‘Arsy Allah.” Bagi saya, pengungkapan ini hanya cara lain untuk mengatakan bahwa, jika dilacak sampai ujungnya, semua dari diri kita bermula dari ibu kita. Dari kelahiran, sampai kematian—bahkan setelah ibu kita lebih dulu meninggalkan dunia ini. Karena bahkan setelah dia tiada, kita adalah perpanjangannya. Kita hanya manifestasi ibu kita. Seolah takdir kita telah dibentuk oleh ibu kita. Karena, seperti apa kita, hal-hal apa yang akan kita kerjakan dalam hidup, arah ke mana yang akan kita tempuh, semuanya telah dipersiapkan benihnya, dan dirawat sepanjang hidup kita, oleh ibu kita. Ibu adalah juga busur panah, ke mana anak panah diarahkan. Nyaris tanpa bisa berubah jalur.
Maka, berapa ratus kali pun saya menghadiri penguburan jenazah sebelumnya, tak pernah saya merasa apa yang dikatakan Imam Ja’far ash-Shadiq dalam salah satu petuahnya, saat saya menatap penguburan ibu saya. “Jika kau menghadiri penguburan jenazah, bayangkan bahwa yang sedang dimakamkan itu tubuhmu,” demikian kata Imam Ja’far. Ya, karena nyaris menyatunya diri saya dengan ibu saya, kali ini saya seperti melihat ruh ibu saya berjalan keluar dari tubuhnya, melayang dengan tersenyum, melewati alam barzakh, merasakan kebahagiaan menjelang alam abadi, tempat bertemu dengan Allah yang dikasihinya.
Sambil saya merenung: Mudah-mudahan saya benar-benar bisa meneladani ibu saya, yang dia tinggalkan sepanjang kehidupannya, bahkan juga yang dia ilhamkan ke dalam hati saya melalui kematiannya.
Saya sedih. Tapi saya tak pernah tidak sadar bahwa kesedihan saya bukanlah kesedihan untuk ibu saya. Ibu saya telah wafat. Telah diterima Allah dalam kesempurnaannya. Bukan hanya karena selongsong fisik perangkap keterbatasan tubuhnya sudah tak lagi membebani ruhnya, melainkan karena saya tahu bahwa ibu saya telah menjalankan semua tugasnya sebagai manusia, secara paripurna.
Ibu saya pasti bukan tanpa kesalahan. Tapi, bukankah Tuhan mengampuni segala dosa, apalagi “hanya” dosa-dosa kecil, di atas tumpukan puluhan tahun—lebih dari 70 tahun—kasih sayang, yang telah dia tebarkan kepada anak-anaknya? Kasih sayang yang jejak-jejaknya bisa menebar lebih jauh kepada manusia-manusia lainnya?
Saya pernah mempersembahkan buku tulisan saya berjudul Mengenal Filsafat Islam untuk ayah saya. Karena ayah saya, dalam wujud kasih sayang maskulinnya, telah mengajar saya menjadi manusia nalar yang harus bermanfaat bagi sesama. Tapi, saya tak bisa lain kecuali mempersembahkan buku saya Mengenal Tasawuf–demi berbagi tentang mazhab cinta Islam ini–kepada ibu saya. Ibu saya bukan pemikir, bukan intelektual, bahkan bukan anak sekolahan, dalam makna modern kata ini. Tapi, dengan caranya sendiri—dengan menjadi wujud cinta konkret dalam keseharian baktinya kepada keluarga, bukan dalam wacana belaka—ia telah mengajar saya dan semua bagian keluarganya bagaimana cara menjadi makhluk pencinta. Lepas dari seberapa jauh kami berhasil dalam praktiknya. Ya, ibu saya telah berhasil mencapai kesempurnaan yang bisa diraihnya sebagai manusia, sebagaimana seharusnya seorang manusia.
Kesedihan saya hanyalah untuk diri saya sendiri. Untuk keharusan mengarungi kehidupan, dalam keadaan saya kehilangan rahim tempat kehidupan saya melekat. Bukan cuma ketika dalam kandungan, tapi sepanjang kehidupan saya, sepanjang keberadaan saya. Dicekam kecemasan, berada dalam keterlepasan dari limpahan kasih sayang yang terus menjadi ilham, dan rengkuhan penuh keintiman yang menebarkan rasa aman dan kenyamanan.
Saya hanya bisa meyakinkan diri saya bahwa, di alam sana, ibu saya masih akan terus menjadi ibu saya. Menjadi sumber sinar lembut penerang jalan saya, yang membimbing saya, dan menghapus kecemasan dan gundah gulana saya.
Ya, saya sedih karena merasa tidak cukup kebaikan yang bisa saya berikan untuk membahagiakannya–meski tak sedikit pun ada kesan dia menuntutnya. Baginya, kebahagiaannya adalah kebahagiaan keluarganya. Hanya itu.
Bukan hanya karena memang tak akan pernah ada balasan yang cukup bagi kasih sayang seorang ibu, melainkan karena saya memang merasa harusnya jauh lebih melimpah remah-remah kelembutan dan perhatian yang bisa saya berikan kepada ibu saya. Saya sudah tahu persis apa yang akan saya sesalkan saat tiba waktunya ibu saya meninggalkan saya, tapi tetap saja penyesalan itu tiba. Memang, nyatanya, masih jauh dari sebisa-bisanya saya berupaya mewujudkannya.
Tidak ada episode-episode yang sambung-menyambung seperti biasanya. Hanya sejauh ini jari-jemari saya bisa menuliskan. Terlalu banyak yang bisa saya tuliskan, sehingga tak tulisan sepanjang apa pun yang bisa menampungnya. Bahkan, ingin saya katakan, saya sudah merasa lelah untuk menuliskan sekadar catatan pendek ini, sejak baru ia terpikirkan di benak saya. Secepat dua hari lalu. Ketika saya disadarkan bahwa dia telah meninggalkan saya di dunia ini, tanpanya.
“Wahai Pengasuh dan Perawat Agungku, ampuni aku dan orangtuaku, seperti mereka—telah menjadi perpanjangan tangan-Mu—mengasuh dan merawatku” Aamiin