ARTIKEL

Menyembah Tuhan atau Menyembah Ego Sendiri?

Penulis

Haidar Bagir
September 11, 2026
2 menit membaca

Banyak orang, sadar atau tidak, memandang agama terutama sebagai alat untuk menunjukkan bahwa diri dan kelompoknya paling benar, paling pintar, dan paling suci. Seolah-olah Tuhan diturunkan ke dunia hanya untuk mengesahkan pendapatnya, mengukuhkan mazhabnya, dan menyediakan singgasana bagi egonya. Seolah agama hanyalah pembenar atas mazhab dan pendapat tertentu.

Maka, ketika bicara agama, orang sering berhenti pada kebenaran agamanya, keunggulan mazhabnya, kecanggihan penafsirannya, dan kesahihan praktik keagamaannya. Seolah agama pada puncaknya memang soal benar-salah, hebat-tidak hebat mazhabnya, canggih-tidak canggih penafsirannya, dan sahih-tidak sahih praktiknya. Dan, dengan ini, Tuhan akan puas, lalu kita dimasukkannya ke surga.

Padahal Tuhan tak butuh apa-apa dari kita. Betapa lancungnya jika tidak demikian. Agama diajarkan Tuhan untuk manusia. Untuk kebahagiaannya di dunia. Dan di akhirat, sebagai kelanjutannya. Tidak lain dan tidak bukan. Karena kelancungan ini, akhirnya, hakikat agama justru tersuruk ke selokan kejahilan manusia. Sejatinya, yang bekerja di balik semua kelancungan  itu hanyaalah kesombongan diri, yang kemudian diatribusikan kepada-Nya. Seolah itulah maunya Tuhan.

Kenapa saya bilang agama itu bukan soal benar-salah belaka, melainkan soal kebahagiaan manusia? Karena, kenyataannya, alam ke-Mahatahuan-Nya sebagai Sang Pencipta, Tuhan tahu betapa rentannya manusia. Bahkan bisa dikatakan, dalam segala kebijaksanaan-Nya, Tuhan menjadikan mati dan hidupnya dalam ujian. Yang tak jarang terasa berat bagi kerapuhan keberadaannya.

Ya, Manusia itu rapuh, mudah kesepian, dan takut ditinggalkan. Bucin! Ia ingin dicintai dan mencintai. Sejatinya, demi itulah agama hadir: bukan untuk membuat manusia semakin angkuh dan merasa benar atau baik sendiri, melainkan untuk mengajarinya saling menyayangi; bukan untuk membangun tembok yang memisahkan, melainkan jembatan yang mempertemukan.

Hanya dengan mencinta dan merasa dicintai manusia dapat mengalami kebahagiaan yang sesungguhnya. Alternatifnya? Jiwa yang sakit dan kehidupan yang sengsara—meskipun semua itu kadang disembunyikan di balik kefasihan berbicara tentang Tuhan. Dan mengutip teks-teks suci yang terkadang dibuat-buat, dan diglorifikasi.

Sayang seribu sayang, agama malah terus dipakai untuk berdebat kusir, berpintar-pintaran, bersuci-sucian, bermazhab-mazhaban, berbangga-bangga dengan darah dan keturunan, serta membangun berbagai bentuk aristokrasi ruhani.

Tuhan dibawa-bawa untuk membesarkan diri, merendahkan orang lain, demi menguasai mereka. Padahal, di balik seluruh kegaduhan itu, sering kali hanya ada satu dorongan yang sedang mencari pembenaran suci: syahwat dominasi. Maka jadilah agama (baca: keberagamaan) bukan rahmat bagi semesta, melainkan kutukan atasnya.

Orang beragama yang gemar menghakimi, dan semakin sulit mencintai, patut dicurigai tidak sedang menyembah Tuhan, melainkan menyembah egonya sendiri—hanya saja kepada ego itu telah dipakaikan jubah, sorban, gelar, silsilah, dan kutipan kitab suci yang kosong makna.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Penulis belum menambahkan bio / deskripsi profil pada pengaturan akunnya.

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan