ARTIKEL

Sebuah Pertanyaan Tentang Nasib Orang Mati Ditangan Allah Swt

Penulis

Haidar Bagir
Juli 21, 2026
3 menit membaca

Barusan saya pulang dari ikut menguburkan seorang tetangga yang baik. Ramah, tidak pernah mengganggu tetangga, selalu berjamaah lima waktu di masjid, tak jarang berdua bersama istrinya.

Setelah proses penguburan jenazah selesai, seorang anak muda—tampaknya ustadz yang pintar, jika dilihat dari kefasihan logat berbahasa Arabnya, dan juga cara penyampaiannya, (mungkin juga beliau masih punya hubungan kekerabatan dengan si mayit)—dengan menangis penuh rasa iba, beberapa kali minta yang hadir untuk mendoakan si mayit, karena sekarang si mayit akan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya kepada Allah. Dengan kemungkinan mengalami penderitaan yang tidak terbayangkan dalam keadaan disiksa oleh Allah Swt. Dia lebih dari sekali berterima kasih kepada orang-orang baik yang mau mendoakannya (agar terhindar dari “kekejaman” Tuhan itu).

Saya bisa jadi salah menangkap. Tapi ini sering terjadi. Terkesan bahwa orang mati itu—setelah lepas dari pergaulannya dengan manusia-manusia yang (dikesankan) “baik”—sedang menuju  suatu situasi di mana dia akan disiksa Tuhan. Ada kemungkinan dengan amat keras dan menyakitkan. Seolah-olah manusia-manusia itu lebih baik, sedang Tuhan itu “kejam”.

Saya sulit menerima ini. Bagaimana mungkin Tuhan digambarkan amat kejam sehingga kita, manusia-manusia ini perlu mendoakan agar dia bisa terlepas dari tindakan kejam Tuhan yang menyiksanya? Padahal manusia-manusia, yang dimintakan kebaikan hatinya untuk berdoa, adalah makhluk zalim, sedang Tuhan itu sifat utamanya adalah Maha Welas Asih? Apakah tidak kebalik?

Saya lebih percaya pada hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim ini:

“Dikisahkan bahwa sejumlah tawanan dibawa kepada Rasulullah saw. Di antara mereka ada seorang perempuan yang mencari-cari anaknya. Ketika menemukan seorang anak, ia segera memeluknya erat ke dada dan menyusuinya. Rasulullah saw lalu bertanya kepada para sahabat: “Apakah menurut kalian perempuan ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Para sahabat menjawab: “Tidak, demi Allah, selama ia mampu untuk tidak melemparkannya.” Kemudian Nabi saw bersabda: “Sungguh, Allah lebih menyayangi hamba-hamba-Nya daripada perempuan ini menyayangi anaknya.”

Apakah dengan demikian saya ingin mengatakan bahwa siksa itu tidak ada? Tidak, saya percaya bahwa siksa itu (mungkin) ada. Tapi siksa itu—btw, kata ini berasal dari bahasa Sanskrit “siksha”—maknanya adalah pengajaran, pendidikan, latihan, disiplin, koreksi, atau hukuman yang mendidik. Tak akan Tuhan memperlakukan makhluknya dengan kesadisan tiada tara. Kekal abadi. Tanpa akhir. Dan tujuan pemberian pelajaran itu, adalah penyucian, dan kenikmatan bersama-Nya, berkat sifat Welas-Asih-Nya.

Kata ‘adzab (azab) itu, dari segi akar katanya— sebagaimana juga dipakai dalam Al-Qur’an sendiri ketika menyebut anomali rasa air laut—adalah “manis dan menyegarkan”.

Alhasil, saya menyarankan kepada para Ustadz, ketimbang berisiko mengesankan Tuhan seperti algojo yang sadis, lebih kita katakan begini: “Mari kita doakan agar Allah Yang Maha Welas Asih menyucikannya, dalam keadaan meringankan proses penyuciannya, atau bahkan mengampuni dosa-dosanya seluruhnya. Karena, bukankah Allah Swt mengampuni dosa seluruhnya?”

Maafkan kedangkalan ilmu saya. WalLaah a’lam bish-shawab.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Penulis belum menambahkan bio / deskripsi profil pada pengaturan akunnya.

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan