Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Jantung Al-Qur’an: Mengurai Pesan-Pesan Batin Surat Yasin (Bagian 2)

Bagaimana Filsafat Mengatasi Penderitaan?

Setiap manusia pasti mendapatkan penderitaan dalam perjalanan hidupnya. Kadang menderita karena memang datang dari pelakunya sendiri. Ada juga sebuah penderitaan sebagai hukum alam yang tidak terhindarkan. Dari perbedaan ini setidaknya bisa dikelompokkan mana penderitaan yang ada dalam diri kita masing-masing. Berkenaan dengan itu, kita bisa membahas permasalahan penderitaan dalam kaca mata filsafat. Walaupun dalam kesempatan tulisan ini, hanya membatasi dalam aspek epistemologinya. Di mana akan lebih menitikberatkan pada sistematika dari permasalahan yang ada. Agar dapat mengetahui secara holistik apa itu epistemologi penderitaan. Sekilas epistemologi adalah sebuah sistematika suatu entitas sehingga dapat dinalarkan dalam logika. Kita bisa bicara epistemologi bumi ini terbentuk, lalu bagaimana perkembangan embrio di dalam tubuh selama sembilan bulan di rahim seorang ibu.

Nah kali ini mari fokus dengan epistemologi penderitaan kehidupan. Dimulai dari hasrat, kemauan, cita-cita yang sepakat disebut dengan semua keinginan. Tentunya keinginan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang berdampak baik bagi kehidupan. Kemudian keinginan akan menjelma menjadi usaha baik secara fisik maupun fikiran. Pada fase inilah akan terpecah dua usaha yang jalan pintas (short cut) dan jalan mengalir (just flow). Ketika orang memilih jalan cepat maka akan terjadi penderitaan yang tidak terhindarkan. Tetapi bila menapak keinginan tersebut dengan kesabaran maka penderitaan dapat teratasi. Dibalik itu juga ada suatu nilai yang baik agar tidak menderita berkepanjangan yaitu dengan mengendalikan keinginan.

Pengendaian ingin ini memang tidaklah mudah, dibutuhkan suatu skala prioritas. Lalu bagaimana prioritasnya? Aristoteles mengatakan kebahagiaan hakiki adalah berupa ketenangan ruhani. Karena dimensi inilah yang abadi dalam setiap individu manusia. Sementara kebahagiaan jasmani hanyalah bersifat sementara atau fana. Oleh karena itu, janganlah menukar kebahagiaan ruhani dengan kebahagiaan jasmani. Maka kita akan salah prioritas dalam langkah kehidupan. Dan akan akan menanggung penderitaan yang tiada berujung.

Baca Juga:  Al-Qur’an Hadir untuk Kepentingan Manusia dan Tawaran Membaca Kitab Suci

Dapat disimpulkan secara epistemologi filsafat untuk mengatasi penderitaan sebagai berikut. Pilihlah keinginan yang abadi yaitu berupa kemurninan ruhani. Adapun keinginan jasmani cukup sebagai pengantar untuk mendapatkan tujuan ruhani di atas. Agar kita dapat terhindar dari penderitaan yang dalam pada fase kehidupan dunia. Kemudian lakukan langkah yang berurutan mengikuti mekanisme kebenaran untuk antisipasi penderitaan menjadi tantangan. Dengan demikian manusia akan hidup sesuai dengan fitrahnya yang berpotensi besar melakukan kebaikan selama di dunia.

Previous Article

Aku, Kant, dan Antinomi: Imajinasi sebagai Muḥaffiẓun Otonomi

Next Article

Epistemologi Hukum Islam dan Rasionalitas Modern : Menafsir Fiqh sebagai Etika Politik bersama Mohammad H. Fadel (Part 1)

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *