Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Seni Agar Allah Jatuh Cinta ala Sufi (Bagian 3)

Krisis Ekologis: Dampak Kemajuan Teknologi atau Ledakan Populasi Manusia?

Krisis ekologis, atau yang sering disebut krisis lingkungan, merupakan isu serius yang diperbincangkan banyak pihak di era informasi dan digital saat ini. Mulai dari akademisi, politikus, hingga masyarakat awam yang mungkin tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Ini merupakan hal yang wajar jika kita melihat kondisi bumi saat ini, mulai dari ancaman pemanasan global, punahnya berbagai spesies flora dan fauna, hingga tercemarnya udara dan air. Berbagai kerusakan alam ini tidak hanya mengancam eksistensi manusia, tetapi juga kehidupan secara umum.

Sejarah mencatat beberapa contoh krisis ekologis yang terjadi di abad ke-20, seperti tragedi Dust Bowl di Amerika Serikat pada 1930-an. Saat itu, erosi tanah besar-besaran akibat penggundulan lahan dan praktik pertanian yang buruk telah menghancurkan produksi pertanian, memicu migrasi massal, dan memperburuk kondisi ekonomi Depresi Besar. Di Indonesia, kita juga menyaksikan krisis ekologis terjadi akibat tambang nikel dan batu bara yang merusak ekosistem hutan dan pesisir, mencemari sungai dan laut, serta menimbulkan konflik lahan dengan masyarakat adat.

Banyak pemikir dan aktivis telah mencoba menawarkan solusi untuk persoalan yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan ini. Dalam esai singkat ini, penulis akan menampilkan dan membandingkan dua gagasan dari dua pemikir besar abad ke-20, yaitu Seyyed Hossein Nasr dan Karl Popper, terkait isu ini.

Nasr dan Gagasan Pergeseran Paradigma

Seyyed Hossein Nasr adalah seorang intelektual Muslim asal Iran yang dikenal karena gagasannya tentang keterkaitan antara Islam, spiritualitas, dan persoalan ekologi. Ia termasuk tokoh awal yang mengkritik sains modern karena dianggap mengasingkan manusia dari alam dan mengabaikan nilai-nilai spiritual. Meskipun memiliki latar belakang fisika dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Nasr banyak menulis tentang pentingnya warisan intelektual Islam dan pendekatan metafisik dalam kaitannya dengan krisis-krisis kontemporer, khususnya krisis ekologi.

Baca Juga:  Menjadi Hamba, Menjadi Mulia

Dalam karya-karyanya, ia berpendapat bahwa krisis ekologis yang dihadapi manusia modern adalah efek dari kemajuan sains dan teknologi yang mengabaikan aspek spiritual dan perspektif tradisional. Menurutnya, teknologi tidaklah bebas nilai. Di dalamnya tersimpan asumsi-asumsi, ideologi, serta paradigma yang menjauhkan manusia dari alam, menciptakan antroposentrisme yang sombong, dan solipsisme yang merusak tatanan alam. Oleh karena itu, Nasr mengusulkan agar kita kembali pada pemahaman tradisional tentang alam, seperti menganggap alam sebagai sesuatu yang sakral. Ia meyakini bahwa etika lingkungan—jika hendak menjadi landasan perilaku sosial—harus disertai dengan pemahaman tentang realitas kosmik yang suci dan transenden sebagai dasarnya.

Ini sejalan dengan pemikiran Fritjof Capra, seorang fisikawan yang berpendapat bahwa krisis yang terjadi adalah akibat dari “kemiskinan perspektif” untuk memahami kompleksitas realitas. Namun, sebenarnya, yang menjadi objek kritik Nasr bukan sains atau teknologi itu sendiri, melainkan asumsi dan paradigma yang mendasari laju keduanya. Oleh karena itu, kembali pada cara pandang tradisional tentang hidup dan alam adalah solusi paling masuk akal untuk mengurangi kemungkinan terburuk, sembari terus berinovasi dan mencari alternatif untuk melestarikan keharmonisan kehidupan secara umum.

Karl Popper dan Ledakan Populasi

Karl Popper, seorang filsuf ilmu paling berpengaruh abad ke-20, dikenal luas karena teori falsifikasinya. Dalam konteks krisis ekologis, Popper memiliki pandangan berbeda dari Nasr. Ia melihat penyebab utama krisis ini bukan pada kemajuan sains dan teknologi, melainkan pada ledakan populasi yang tidak terkontrol. Menurut Popper, semakin banyak populasi, semakin banyak pula kebutuhannya. Sementara itu, ia melihat sumber daya alam terbatas. Oleh karena itu, populasi harus dikontrol agar pemanfaatan sumber daya alam tidak menimbulkan efek negatif.

Baca Juga:  Hermeneutika Sufistik Al-Ghazali atas QS. Adz-Dzariyat 51:56

Untuk mengatasi hal ini, Popper mengusulkan alternatif yang cukup kontroversial: pil aborsi. Ia juga menekankan pentingnya program Keluarga Berencana (KB) dan edukasi tentang pentingnya menjaga populasi agar tetap dalam batas yang tepat.

Penutup: Sebuah Sintesis

Dari dua gagasan di atas, kita melihat adanya titik temu di antara keduanya: krisis ekologis sebagai isu serius yang harus segera dicari solusinya. Nasr mengusulkan solusi dengan mengembalikan paradigma spiritual tentang alam, sementara Popper berfokus pada pengendalian populasi.

Di mata para agamawan, khususnya, solusi seperti pil aborsi pastilah dianggap kontroversial dan akan menerima gelombang penolakan besar. Karena itu, dibutuhkan alternatif lain yang tidak kontradiktif dengan ajaran agama tertentu untuk mengontrol populasi, seperti program KB serta sosialisasi dan edukasi secara intensif.

Di sisi lain, mengembalikan paradigma tradisional juga akan sulit karena cara pandang modern tentang hidup (materialistik) telah menjadi cara pandang global. Sehingga, hampir mustahil mengembalikan kepercayaan—untuk tidak menyebut mitos—seperti hutan sakral yang tidak boleh dimasuki oleh manusia, pantai yang dihuni oleh sosok gaib, dan kepercayaan-kepercayaan tradisional lainnya.

Berbeda dalam mengidentifikasi akar masalah, pastilah akan melahirkan solusi yang berbeda pula. Namun, perbedaan itu tidaklah berarti bila kita fokus pada masalah yang sedang dihadapi. Bahwa krisis ekologis adalah persoalan yang seharusnya menjadi fokus utama bagi setiap pemegang kebijakan, dan untuk sesaat, mengesampingkan persoalan politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

Seluruh elemen harus bersatu untuk mencurahkan segala yang ada demi keberlangsungan kehidupan secara umum. Diharapkan akan ada lebih banyak usaha, baik dalam ranah teoritis maupun praktis, untuk segera menyelesaikan persoalan ini.

Previous Article

Semiotika di Balik Film “Lebih Dari Selamanya”

Next Article

Allah, Malaikat, dan Alam Semesta pun Shalat

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *