Barangkali surat ini adalah yang paling tersulit dari sekian pengalaman menulis. Tantangannya jauh lebih berat dari dua tesis filsafat yang belakangan diselesaikan untuk program Master Religious Studies di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Islamic Philosophy di Universiti Sultan Zainal Abidin Malaysia. Meski dua tema itu terdengar berat, namun yang memudahkannya terdapat banyak literatur dan objek kajian yang bisa diakses dan dirujuk. Namun tidak dengan surat ini, karena tulisan ini dirangkai berdasarkan objek yang masih “samar-samar” dan sumber informasi yang masih minim.
Kamu pasti masih ingat, syarat umum ketika memulai menggarap karya ilmiah, dosen-dosen akan segera menyarankan, “…tulis atau [teliti-lah] sesuatu yang engkau kuasai [pahami]…” Atau dalam ungkapan lain, “…jangan membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak engkau ketahui...” Bercermin dari saran ini, maka menulis surat untuk seseorang yang tidak dikenali ialah seperti menenggelamkan diri dalam samudera ketidaktahuan sekaligus “melanggar” etika keilmuan.
Setelah ditimbang-timbang, dipikir-pikir; “…apa hukuman bagi lelaki yang meluapkan isi kepala dan perasaannya kepada perempuan yang tidak dikenalinya?” Mungkin akan dianggap ‘gila’ atau ‘kurang kerjaan.’ Namun kegilaan jauh lebih baik daripada kebodohan. Kegilaan adalah bagian terbesar dari sifat manusia dan untuk menemukan suatu jalan, kegilaan perlu dikenali tanpa harus dicela dan diremehkan. “... welcome your madness for it is your sanity...” [Sambutlah kegilaanmu karena itu adalah kewarasanmu]. Tulis Carl Jung dalam The Red Book (2009).
Dan karena kegilaan ini jugalah yang barangkali membedakan tulisan-tulisan sebelumnya. Bedanya, surat ini saya tulis berdasarkan apa yang dialami dan dirasakan—bukan dari apa yang dipahami dan diketahui. Bagian pertama adalah wilayah rasa (hati)—tempat Tuhan bersemayam, sementara bagian terakhir adalah wilayah pikiran (akal)—wadah untuk mengetahui banyak hal. Mungkin Anda juga sepakat, untuk mengetahui (knowing) tidak hanya secara rasio-empirik (melalui akal dan indra)—karena hati juga bisa berpikir. Sehingga apa yang dialami dan dirasakan oleh hati [tentangmu] merupakan jenis pengetahuan murni dan tersembunyi. Itu adalah upaya yang cukup serius.
Kenyataan ini jugalah yang disadari oleh Psikoanalis Jung dalam karyanya yang disebutkan di awal menulis: “If you go to thinking, take your heart with you. If you go to love, take your head with you. Love is empty without thinking, thinking hollow without love.” Bahwa “ketika berpikir kita mesti melibatkan hati. Sama seperti ketika mencintai juga mesti melibatkan pikiran demi sebuah keputusan-keputusan rasional. Cinta akan hampa tanpa berpikir, dan berpikir (rasional) akan hampa tanpa cinta (hati).”
Anda pasti akan bertanya-tanya; mengapa tiba-tiba ada orang asing menulisimu surat? Pertanyaan ini juga berlaku pada orang mengirimkan surat untukmu. Namun manusia diajarkan bahwa hidup tidak melulu tentang apa yang direncanakan. Ada banyak peristiwa yang terjadi di luar dari perkiraan; terutama perihal jodoh, rejeki dan kematian; termasuk surat yang ditujukan kepadamu.
Terserah engkau mengartikannya seperti apa; atau menyebutnya sebagai “predeterminis” (rencana Tuhan) seperti kata para pujangga di kalangan filsuf. Rumi misalnya, bilang begini, “…sesuatu yang kita cari sebenarnya juga mencari kita…” Atau “…tidak hanya dahaga yang mencari air, namun air pun mencari dahaga...” Syair ini juga bisa diartikan sebagai sepasang kekasih yang sedang saling mencari setelah mereka mengalami keterlemparan dari alam keabadian lalu terdampar ke dunia yang tandus.
Pandangan ini serupa dengan inti konsep filsafat eksistensi manusia dari Martin Heiddeger yang disebutnya dengan istilah facticity—bahwa keterlemparan (thrownness) manusia ke dunia tidak memilih situasi atau konteks tertentu. Sehingga rasa keheran-heranan yang menagih sedikit terbayarkan bahwa hidup adalah ketiba-tibaan! Tidak semua hal harus diketahui dan mendapati jawabannya. Manusia hanya perlu sisahkan sedikit ruang bagi keimanan untuk merasakan.
Sekali lagi secara pasti, dan—atau tidak pernah dipikirkan surat ini akan dilayangkan padamu. Demikian juga hati, tidak mengunci seseorang (semoga kamu pun demikian) atau memiliki rencana dengan siapa nantinya—yang akan menjadi pelabuhan terakhir sebelum kembali mengarungi samudera kehidupan bersamanya. Entah siapa orang itu [?] namun bermunajat kepada Tuhan adalah keharusan; memohon untuk segera dipertemukan dengan seorang wanita—yang mau dan ikhlas bersama-sama menahkodai kapal untuk menuju pulau-pulau impian. Berharap surat ini menjadi pintu masuk atas jawaban dari munajat yang selalu dilafazkan di waktu-waktu terhening.
Di mana Hatimu Berada, Di situlah Harta (Tuhan)-Mu Berada.
Dalam perenungan saat menulis surat ini untukmu, saya selalu teringat dengan The Alchemist (1988)—karya Novelis Brazil, Paulo Coelho yang mengisahkan tentang perjalanan seorang gembala bernama Santiago yang mencari harta karun. Saya yakin kamu pernah membacanya. Dalam kutipan terkenalnya, Coelho menulis begini: “…ketika seseorang menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta akan (berkonspirasi) bersatu membantu meraihnya…” Kata-kata ini seperti mantra atau semacam sabda dari Semesta yang membentuk belief system; sehingga orang gila seperti saya dengan berani dan memantapkan hati untuk menyampaikan apa yang diniatkan.
Mungkin bagian “tergilanya” adalah ketika saya mencoba menginternalisasikan alur kisah simbolik dalam novel ini. Pikirku begini: jika saya adalah si Santiago, maka (kamu) adalah “harta karun.” Seperti makna namamu: Dayyari: “Perempuan [Terhormat] yang Terbungkusi Cahaya Purnama.” Tentu saja, kamu sebagai harta karun bukan dalam pengertian material, namun dalam makna spiritual. Dalam the Alchemist, harta karun menurut Coelho ketika seseorang mampu mendengarkan suara hatinya; mendengar tuhannya. Dan untuk mendengarkan suara hati, saya butuh tiga malam yang hening untuk memutuskan menulis surat ini dan sepertiga hari untuk menyusun kata-kata di dalamnya.
Meski tidak banyak yang saya pahami dalam pengembaraan (mencari harta karun), namun saya percaya nurani senantiasa menuntun ke hal-hal baik. Sebab, yang diketahui (tentangmu) hanyalah setetes embun, sementara yang tidak ku ketahui ialah seluas Samudera. Menyadari kedangkalan ini, saya pun sedapat mungkin menegosiasikan antara akal (rasional) dan hati (intuisi) selama proses pengembaraan mencari harta karun. Sebab, “…tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi bahkan pada menit berikutnya, namun kita tetap berjalan ke depan; karena kita percaya; karena kita memiliki iman...” Tulis Coelho.
Maka untuk beberapa waktu saya mengikuti kata Rumi agar, “…stop learning—start knowing…” dalam arti, mengistirahatkan pikiran dan mulai mengetahui atau merasakan secara perlahan tanda-tanda yang ditetapkan dan direncanakan oleh Tuhan secara intuitif (qalbu/hati). Ini semacam seni “Menalar Hukum Tuhan”—sebagaimana yang dimaksud oleh Jabbar Sabil dan yang lainnya. Dan yang terpenting saya tidak ingin terjebak dalam ketergesaan karena seperti Rumi bilang, “…what I want also wants me…” […apa yang kita inginkan juga menginginkan kita...” Namun dalam kebisingan hidup, cinta adalah kemustahilan.
Jika manusia dijodohkan maka mereka akan saling mencari; jika memang ditakdirkan maka akan saling menginginkan. Sebab jiwa-jiwa terikat melampaui waktu yang ditakdirkan untuk menemukan satu sama lainnya. Bahkan sampai dengan saat ketika surat ini dikirim untukmu, saya memilih menepi dan menghela nafas sejenak dari tungku stres dan kecemasan; duduk dalam kesabaran selama proses pengembaraan pencarian. Sebab, tidak ada yang tahu bagaimana dunia ini dimulai sehingga kita tidak perlu takut akan masa depan sembari menyisakan ruang bagi keimanan.
Mengutip firman Tuhan: “fatakuuna lahum qulubun ya’qiluuna biha” [... lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami ..] Pertanyaannya, “…mengapa kita harus mendengarkan suara hati? Sebab, kata Paulo Coelho “…di mana hatimu berada, di situlah harta (Tuhan)-mu berada.” Semoga hati yang mengarahkan padamu mendapati ridha dari Tuhan; sang penetap segala sesuatu. Setelah ini, saya akan mengukir kehingan sekali lagi untuk merenungi kembali apa-apa saja yang telah disampaikan. Sebab sebagian manusia tidak mempercayai kata-kata dan saya lebih sering tidak mempercayai pikiranku sendiri []
Kuala Lumpur, 14 November 2024
Hendrawangsyah.