Puasa itu adalah ajaran Islam yang kaya makna dan memiliki kedalaman spiritual dan sosial yang dasyat—sampai-sampai menurut Ibn al-‘Arabi, ganjaran orang yang berpuasa itu ialah Allah sendiri, bukan yang lain. Karena puasa itu ibadah yang penuh misteri sehingga dibutuhkan bahasa yang mampu menampungnya, dan puisi adalah salah satu media yang paling tepat menghimpun kekayaan makna puasa.
Salman Aristo, seorang produser, penulis skenario, dan sutradara yang karya-karyanya telah dikunyah oleh masyarakat seantero negeri, sering menuangkan refleksi tentang kehidupan atau kritik sosial terhadap situasi yang sedang melanda negeri ini dalam bentuk puisi. Belum lama ini, ia berhasil menulis kumpulan puisi berjudul Film Bisa Dieja. Pengalaman berpuasa yang telah dilalui bertahun-tahun pun tak luput dari perhatiannya, dan ia mengekspresikannya dalam sebuah puisi yang sarat makna. Begini puisinya:
Aku menutup nafsu.
Doa merambat ke tubuh,
diam di sela tulang,
bergetar di lambung yang berserah.
Angin berlalu.
Aku tidak bertanya apa-apa.
Azan datang dan pergi,
langit tetap bening.
Aku duduk di sini.
Menunggu tanpa menunggu.
Lapar semakin jauh,
tetapi tidak menginginkan apa-apa.
Jika ini jalan pulang,
biarkan aku larut bersama-Nya—
sampai aku hilang,
sampai hanya Kau yang ada.
Saya coba pelan-pelan merasakan kandungan makna di balik diksi yang dia gunakan. Saya mengawalinya dari bait:
“Aku menutup nafsu.”
Menutup nafsu adalah salah satu esensi dari ajaran agama, bermakna pengendalian atas nafsu rendah yang sering bertahta dalam jiwa. Salman Aristo menyadarkan kita semua, di luar bulan Ramadhan keserakahan manusia ini sering muncul, hingga tak sadar yang dikonsumsi itu diperoleh dari sesuatu yang halal atau haram. Nah, puasa ini adalah momen berhenti sejenak untuk mengendalikan nafsu manusia, agar tidak liar. Sebegitu pentingnya perintah mengendalikan nafsu, sampai-sampai Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah orang yang kuat adalah pandai bergulat, tapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan nafsunya ketika ia marah.” Di kesempatan lain Nabi bersabda, “Jihad terbesar ialah jihad memerangi nafsu.” Inilah proses pengosongan diri dari sifat-sifat rendah atau yang sering disebut takhalli dalam tradisi tasawuf.
Setelah pembaca dikenalkan dengan konsep takhalli, selanjutnya kita akan disajikan konsep tahalli yaitu proses menghiasi jiwa dengan sifat-sifat mulia yaitu:
“Doa merambat ke tubuh, diam di sela tulang, bergetar di lambung yang berserah.”
Jika nafsu ini sudah terkendali, maka doa kita akan semakin berkualitas. Doa tidak hanya terucap oleh mulut saja, tetapi seluruh anggota tubuh pun ikut berdoa (lahir dan batin). Jika mulut berdoa, “Ya Allah ampunilah dosaku”, maka anggota badan pun berdoa dengan berjuang sekuat tenaga untuk tidak berbuat keburukan yang merugikan alam sekitar, hati pun berdoa untuk memastikan tidak ada rasa dendam, yang muncul ialah sifat pemaaf dan penyayang hingga kita mampu memaafkan semua kesalahan orang. Nah, lewat puasa kita tidak hanya membaca doa, tetapi benar-benar berdoa. “Doa adalah otak atau inti sari semua ibadah.” Begitu, sabda Nabi.
“Angin berlalu. Aku tidak bertanya apa-apa. Azan datang dan pergi, langit tetap bening.”
Pada bagian ini, Salman Aristo menggunakan diksi “Aku tidak bertanya apa-apa…” artinya puasa akan melahirkan sifat ridha atas semua ketentuan Allah. Sifat ridha ini berefek pada konsentrasi orang yang berpuasa itu hanya pada Dia Yang Maha Indah bukan yang lain. Jangankan keburukan atau cobaan yang sedang bertamu dalam kehidupan kita, sampai-sampai hal yang bersifat kebaikan seperti suara azan pun tak mampu mengganggu keintiman saat berinteraksi dengan Dia. Artinya, puasa adalah ajaran untuk tetap tenang di tengah gempuran cobaan kehidupan. Kalau kita berhasil, maka langit tetap bening artinya jiwa kita tetap murni dan menyala. Dan hanya jiwa murni yang disapa oleh Allah:
“Wahai jiwa yang tenang (murni), kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku!” (QS. Al-Fajr [89]: 27-30)
Lanjutan puisi itu berbunyi:
“Aku duduk di sini. Menunggu tanpa menunggu. Lapar semakin jauh, tetapi tidak menginginkan apa-apa.”
Bait ini menunjukkan kondisi keadaan batin (jiwa) yang sangat tenang. Walaupun fisik orang berpuasa itu tersambar oleh rasa lapar dan dahaga, tetapi kondisi ridha akan mengubahnya menjadi sukacita. Nampaknya, Salman Aristo ingin mengajarkan kita semua supaya beribadah—bekerja, belajar dan semua aktifitas kita—itu harus dilandasi dengan cinta. Karena kalau sudah cinta, maka apapun yang kita kerjakan selalu ada energi positif yang memancar, hingga menunggu yang biasanya itu menjengkelkan, kini berubah menjadi tak seperti menunggu (menunggu tanpa menunggu).
Setelah kita berhasil melakukan ritus takhalli (seni mengosongkan jiwa dari sifat-sifat rendah), lalu ritus tahalli (seni menghiasi jiwa dengan sifat mulia), puncaknya ialah tajalli yaitu kehadiran kita di semesta ini sebagai manifestasi dari Allah, atau makin tinggi lagi yang ada hanya Dia. Nah, di bait terakhir ini tampaknya tersimpan makna ajaran tajalli dalam diskursus tasawuf.
“Jika ini jalan pulang, biarkan aku larut bersama-Nya—sampai aku hilang, sampai hanya Kau yang ada.”
Inilah puncak spiritual manusia. Kita ini pada hakikatnya tidak ada, yang ada adalah Allah. Karena itu, jangan merasa paling berperan dalam kehidupan ini, jangan merasa paling suci lalu meremehkan orang lain, dan jangan pula merasa paling benar lalu mencerca orang yang tidak sepaham, sadarilah yang benar-benar ada itu hanya Dia, kita adalah wujud pinjaman dari Dia Yang Maha Ada.
“…bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, melainkan Allah yang melempar…” (QS. Al-Anfal [8]: 17)
“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah (makhluk fakir). Hanya Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fatir [35]: 15)
Inilah secuil makna yang bisa saya tangkap dari rahasia makna di balik puisi di atas. Mari kita isi di sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan dengan aktivitas yang terbaik, hingga secercah cahaya merasuki ke relung jiwa kita semua. Amin.